Jakarta, Harian Umum - Yayasan Membangun Nusantara Kita bekerjasama dengan Yayasan Rabu Biru Indonesia, Sabtu (15/2/2025), menggelar diskusi bertajuk Kelas Jenius Pemikiran Jenderal Besar TNI (Purn) Abdul Haris Nasution tentang Kepemimpinan Indonesia & National Security Council di Universitas Muhammadiyah Jakarta, Tangerang Selatan, Banten.
Sejumlah narasumber berkelas dihadirkan, yakni Dosen Universitas Indonesia Dr. Mulyadi M.Si; Rektor Universitas Insan Cita Prof. dr. laude M Kamaluddin; Staf Ahli KASAD Mayjen TNI Dr. Budi Pramono; dan Bandep Ur. Lingkungan Strategi Regional Setjen Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas) Marsma TNI Bonan Oktav Siagian.
Acara ini dipandu CEO Nusantara Centre Prof. Yudhie Hartono dan Hatta Taliwang (Direktur Institut Soekarno - Hatta).
Dari apa yang dipaparkan para narasumber, terungkap bahwa Indonesia rusak bukan hanya karena telah mengamandemen UUD 1945, sehingga melahirkan UUD baru yang disebut UUD 2002, akan tetapi juga karena para pemimpinnya lebih memilih mengadopsi pemikiran-pemikiran dari luar yang tidak berdasarkan apa yang ada dan terjadi di Indonesia, sehingga ketika UUD 1945 diamandemen, dengan mudahnya mereka mengganti sistem pemerintahan dari sistem yang didasarkan pada Pancasila, dengan sistem liberal kapitalis.
"Karena itu melalui diskusi ini kita suntikkan pemikiran-pemikiran dari tokoh bangsa kita sendiri, dalam hal ini adalah pemikiran dari Jenderal Purnawirawan TNI Abdul Haris Nasution," kata Yudhie.
Ia.menyebut, jenderal yang lolos dari upaya pembunuhan saat peristiwa G-30/S-PKI ini merupakan pemikir yang luar biasa, sebagaimana tercermin dari buku-buku yang ditulisnya, dan buku-buku itu menjadi mazhab besar tradisi pemikiran militer di Indonesia.
"Buku Beliau juga dibaca di beberapa studi dan akademi militer dunia, sehingga layak untuk didiskusikan kembali dan dilaunching kembali agar pemikiran-pemikiran yang jernih itu tidak hilang di telan zaman. Terlebih di masa kini ABRI, terutama Angkatan Darat, juga Polri, dinilai telah mulai kehilangan jati diri dikarenakan beberapa hal yang fundamental berkenaan dengan national security Council maupun berkenaan dengan kedaulatan nasional yang sudah mulai terkikis," sambung Yudhie.
Menurut dia, mengapa pemikiran Jenderal AH Nasution tersingkir dari negaranya sendiri, tak.lepas dari upaya asing untuk menguasai Indonesia dengan menggunakan metode perang asimetris atau perang tanpa menggunakan kekuatan senjata/militer.
"Arus besar kolonialisme baru itu sebenarnya adalah membunuh pemikiran bagus di sebuah negara. Kegagalan kita menghidupkan pemikiran-pemikiran tersebut adalah keberhasilan mereka yang memang memiliki tujuan agar generasi muda (di negara yang menjadi target) lupa pada pemikir-pemikir yang mendahului (yang ada di negaranya). Ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di banyak negara ketika negara-negara postkolonial itu gagal.menerjemahkan dan mentradisikan pemikir-pemikir pendiri negaranya. Artinya, mereka berhasil membuat koloni baru," jelas Yudhie.
Diakui, secara umum, jika ditinjau dari studi-studi sosisologi, pemikiran yang berkembang di kalangan pemimpin Indonesia adalah pemikiran yang tidak berdasarkan pada pemikiran yang ada di Indonesia, dan itu juga buah dari berapa lamanya mereka sekolah di Amerika, Eropa da .negara asing lainnya yang kemudian menginfiltrasi pemikiran mereka, sehingga pemikiran-pemikiran jenius yang ada di Indonesia tidak.lagi dikembangkan, apalagi ditradisikan.
"Maka terjadilah seperti yang terjadi sekarang, di mana di negara kita terjadi banjir ilmuwan asing karena banyaknya ilmuwan asing di sini, banyaknya kurikum asing, sekolah-sekolah asing yang kemudian mengasingkan kita dari tradisi pemikiran jenius yang kita punya," katanya.
Ketika ditanya tentang Presiden Prabowo Subianto yang berlatar belakang militer, sama seperti Jenderal AH Nasution, Yudhie tak yakin Prabowo mengadopsi pemikiran-pemikiran seniornya itu.
"Harapan iya (mengadopsi), tapi realitanya tidak terlihat sama sekali, dan untuk menjadikan harapan itu sebagai kenyataan masih banyak yang harus dikerjakan," katanya.
Yudhie bahkan meragukan bahwa Prabowo yang mantan Danjen Kopassus itu seorang jenderal sejati yang punya jiwa korsa dan nasionalisme tinggi seperti Jenderal AH Nasution.
"kalau dia jenderal beneran, (kasus) pidana dan perdata bisa diselesaikan dengan cepat, misalnya kalau ngurus pagar laut (di Kabupaten Tangerang), tapi lama memang penanganannya. Dia bukan tentara yang seperti diharapkan," katanya.
Hatta Taliwang juga menyebut kalau pemikiran Jenderal AH memang luar biasa.
"Orang asing sampai membeli buku-bukunya di tukang loakan, Para tukang loak itu sendiri yang bilang ke saya. Orang asing yang membeli buku Pak Nas (sapaan AH Nasution) ada yang Singapura, Thailand, Australia, dan lainnya," kata Hatta.
Ia menjelaskan, buku-buku Pak Nas diminati orang asing karena dalam buku,-bukunya Pan Nas menuliskan data-data yang lengkap dan detil tentang Indonesia berdasarkan tema yang ditulis.
"Jadi, orang asing perlu buku itu untuk memahami Indonesia," katanya.
Selain.pemikirannya yang cemerlang, bahkan jenius, Hatta juga mencatat kelebihan Pak Nas, yakni;
1. Berani
2. Berpikir strategis
3. Berpikir antisipatif
4. Amanah
5. Tipikal seorang Konseptor,
6. Moralis, karena Pak Nas bukan pria mata keranjang, tidak korupsi dan hidupnya bersahaja (sederhana).
7. Telitis, sabar dan mendidik, karena sebelum berkarir di militer, Pak Nas seorang guru di Bengkulu dan sekitaran Sumatera Selatan.
Terkait kelebihan Pak Nas sebagai konseptor, Hatta antara lain menjelaskan bahwa dari Pak Nas lah lahir taktik perang gerilya, konsep jalan tengah yang aplikasinya antara lain dalam bentuk Dwi Fungsi ABRI.
"Sayangnya, di era Orde Baru, Presiden Soeharto menerapkan Dwi Fungsi ABRI secara berlebihan, sehingga keluar dari konsep Pak Nas dan menuai protes masyarakat," jelas Hatta.
Hatta mengakui bahwa Diskusi bertajuk Kelas Jenius Pemikiran Jenderal Besar TNI (Purn) Abdul Haris Nasution tentang Kepemimpinan Indonesia & National Security Council diselenggarakan untuk mengenalkan dan menyosialisasika kembali pikiran-pikiran jenius Pak Nas.
"Kalau saja pemikiran Pak Nas dijadikan rujukan oleh para pemimpin negara ini, Indonesia tentu tidak akan menjadi seperti sekarang," katanya. (rhm)


