Jakarta, Harian Umum- Badan Pengawas Pemilu (C diminta memeriksa video pendek berdurasi 0:36 detik yang saat ini tengah viral di media sosial.
Pasalnya, video berisi pernyataan sikap sejumlah orang yang mengaku sebagai alumni Universitas Indonesia (UI) itu terkesan telah menyeret UI yang merupakan universitas negeri, menjadi lembaga pendukung salah satu Capres yang akan bertarung di Pilpres 2019.
"Itu nggak boleh, karena lembaga pemerintahan tidak boleh berpolitik praktis," tegas Ketua Masyarakat Pemantau Kebijakan Eksekutif dan Legislatif (Majelis) Sugiyanto kepada harianumum.com melalui telepon, Minggu (5/8/2018).
Dalam video tersebut, belasan orang yang terdiri dari pria dan wanita dewasa, duduk dan berdiri dalam formasi setengah lingkaran dan menghadap ke kamera.
Ada empat orang yang duduk, seorang di antaranya adalah Juru Bicara Pemerintah Ali Mochtar Ngabalin yang juga dalam video itu bertindak sebagai juru bicara.
"Assalamu'alaikum. Saudara sebangsa dan setanah air di mana pun Anda menyaksikan video pendek ini. Kami semua ini adalah alumni Universitas Indoensia, masyarakat yang amat terpelajar. Kami tergabung dalam Komunitas Anak Bangsa For Jokowi 2 Periode. Simbolkan kami adalah Lanjutkan, Lawan, Libas! UI for Jokowi!!" kata Ngabalin.
Politisi Golkar itu dan orang-orang disekitarnya lalu menyerukan slogan "Lanjutkan, Libas, Lawan!" berkali-kali sambil mengacungkan simbol "L" dengan jari telunjuk dan jempol.
Banyak warganet yang mengkritisi dan mengecam video ini, terutama slogannya.
"Ngeri sekali pendukung @jokowi, ngakunya orang berpendidikan dari UI, tapi tagline nya brutal. Lanjutkan, Lawan, Libas. Seram sekali masa depan republik ditangan Jokowi. Maunya kelahi aja," kata politisi Demokrat Ferdinand Hutahaen melalui akun Twitter pribadinya, @LawanPoLitikJKW.
"Ngeri ... teror kalimatnya. Dengerin nih kalimat "Lanjutkan, Lawan, Libas!" apa ga radikal kalo kek gini?" kata pemilik akun @EVALockheart.
"2019 tuh pemilihan presiden bukan pemilihan kepala gengster... Perhatikan slogan nya Lanjut, Lawan, Libas... Simpan video ini, jadikan barang bukti jika terjadi kekacauan," kata pemilik @AisyahMutahar.
Menurut Sugiyanto, yang juga menjadi persoalan dari video ini adalah slogan "UI For Jokowi" yang seolah mengindikasikan kalau UI merupakan pendukung Jokowi di Pilpres 2019 mendatang. Padahal, belum tentu semua dosen, rektor maupun mahasiswa di kampus negeri tersebut mendukung Capres incumbent yang diusung koalisi PFIP itu.
"Karenanya, pihak UI harus mengklarifikasi apakah benar kampusnya mendukung Jokowi," katanya.
Kepada Bawaslu, Sugiyanto meminta agar memeriksa apakah video ini asli atau rekayasa. Bila asli, Bawaslu harus menjernihkan bagaimana duduk perkaranya, sehingga video itu bisa dirilis di media sosial.
Menurut dia, jika pernyataan Ngabalin cs itu dibiarkan, maka akan menjadi preseden buruk karena fasilitas negara dijadikan alat untuk kepentingan politik praktis dengan mendukung Capres tertentu. Apalagi karena sekarang belum masuk masa kampanye.
"Kalau ini dibiarkan, maka bisa saja akan muncul video yang isinya "UGM For Jokowi!", "IPB For Jokowi" ... bisa kacau sistem demokrasi kita," katanya.
Aktivis yang akrab disapa SGY ini pun meminta agar para pendukung Jokowi memegang etika dalam berpolitik.
"Saya kira semua orang paham mengapa kalian ingin Jokowi dua periode, tapi jangan menghalalkan segala cara, dan juga jangan kasar. Slogannya pun mengerikan sekali, seperti orang tidak berpendidikan," pungkasnya. (rhm)







