Jakarta, Harian Umum-Pandemi tidak boleh mematikan jiwa Nasionalis. Begitulah penggalan puisi ketua KNPI kabupaten Tasikmalaya Iqbal Sabiqul Aqdam pada acara peringatan hari lahir Pancasila yang yang dilaksanakan melalui aplikasi zoom pada Senin, 1 Juni 2020.
Memasuki bulan ke-6 pada tahun 2020 ini, bak ada sebuah harapan besar bagi bangsa Indonesia untuk kembali sembuh. Sekitar 5 bulan sudah masyarakat Indonesia berada dalam situasi yang cukup mencekam. Virus covid-19 telah menyerang seluruh sektor kehidupan masyarakat.
Namun demikian, kondisi ini tidak menyurutkan semangat Nasionalisme kalangan muda untuk tetap menggelar peringatan 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila.
Agenda yang di gagas pemilik sanggar Revolusi Merah Kelati (rev.me.kel) Andri Nurkamal, telah diikuti oleh anak-anak muda dari berbagai kalangan di beberapa provinsi di Indonesia.
Acara diskusi online yang bertema "Tinggal satu yang tersisa; Kehormatan Bangsa" ini bagian dari rangkaian kegiatan komunitas rev.me.kel disela kesibukannya sebagai relawan covid-19 dibawah komando Persatuan Islam (Persis).
Sastrawan muda yang selalu menjadi motor gerakan sosial di berbagai momentum ini menyampaikan bahwa butuh ketulusan dan keberanian untuk membangkitkan kembali gairah bangsa yang rubuh akibat pandemi. Hal nya setiap sila pada Pancasila mengandung makna tulus, berani, kolektif dan gotong royong.
"Pancasila mengandung sejarah gentle-nya segenap tokoh bangsa untuk mengambil falsafah bersama yang saling terintegrasi. Tidak ada saling curiga serta berani mengambil langkah heroik kolektif di tengah perjuangan negara-negara baru di bawah cengkraman imperialisme global. Hari ini, sikap demikian perlu kita ambil demi kembalinya keluhuran bangsa besar kita", katanya, Senin (1/6).
Sementara di bagian lain, persoalan persiapan menghadapi Kenormalan Baru juga tidak luput dari pembahasan. Lamlam Pahala, dosen Fakultas Hukum Syariat Universitas Islam Negri (UIN) Sunan Gunung Jati, Bandung menyampaikan bahwa PSBB dan New Normal berdiri pada prinsip yang beda.
"New normal dengan praktik herd immunity berpijak pada landasan filosofis ekonomi. Sementara PSBB dengan praktik psycal distancing bertumpu pada landasan filosofis humanity. Yang satu memperhatikan uang, yang kedua memperhatikan kemanusiaan," katanya.
Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (PP Hima Persis) periode 2008-2010 ini juga menyampaikan bukan hanya pendalaman yang dilakukan dalam menentukan kebijakan di tengah covid-19 ini, melainkan dibutuhkan juga perenungan yang mendalam.
"Persoalannya bukan hanya di dalami, tapi silahkan renungi, prinsip keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sedang di uji pada situasi ini" tutupnya. (hnk)






