Jakarta, Harian Umum- Awal Februari 2018 sebuah film animasi hasil produksi Barajoun Entertainment mulai meluncur di bioskop-biosko Amerika, kemudian masuk Eropa dan tak lama lagi akan masuk Indonesia.
Film berjudul "Bilal: A New Breed of Hero" ini berkisah tetang kehidupan Bilal Ibn Rabah, seorang budak yang kemudian memeluk Islam dan menjadi muadzin pertama. Ia memiliki suara yang sangat indah, dan termasuk salah satu sahabat Rasulullah SAW yang saat masih hidup pun telah dijamin masuk surga.
Meski baru dirilis di AS, film dengan format 3D dan disutradarai Ayman Jamal dan Khurram H Alavi ini sebenarnya merupakan film lama karena tayang perdananya (premier) dilakukan di Festival Film Internasional Tahunan ke-12 pada 9 Desember 2015, dan kemudian, pada 8 September 2016, dirilis di seluruh wilayah MENA (Timur Tengah dan Afrika Utara).
Film berbudget 30 juta dolar AS ini mendapat ulasan positif dari sejumlah pengamat, dan masuk jajaran film box office di negara-negara yang telah menayangkannya.
Film ini bahkan memenangkan kategori “The Best Inspiring Movie” saat disertakan dalam Festival Film Cannes, dan meraih “Film Inovatif Terbaik” versi BroadCast Pro Middle East Award.
Tak hanya itu, film yang markas studio pembuatannya berada di Dubai, Arab Saudi, ini juga dinominasikan untuk kategori "Best Animated Feature Film" di ajang Asia Pacific Screen Awards atau APSA.
Meski demikian, jangan terburu-buru memuji dan mengagumi film ini, karena plot kisah film ini sempat menuai kontroversi di kalangan umat Islam yang mengetahui sejarah kehidupan Bilal.
Menurut muslimmatters.com, film ini tidak menggambarkan kehidupan Bilal yang sesungguhnya, bahkan cenderung hanya menjadi sebuah kisah yang terinspirasi oleh cuplikan sejarah dalam kehidupan sahabat Rasulullah SAW itu, namun tetap dengan menggunakan namanya.
"Pertama kali saya melihat trailer film Bilal: A New Breed of Hero, saya merasakan adanya kombinasi kegembiraan dan rasa ingin tahu tentang film ini, dan saya ingin menontonnya," tulis Zeena Alkurdi, reporter muslimmatters.com yang mengulas film itu, seperti dikutip harianumum.com, Kamis (8/2/2018).
Ia mengakui, setelah menonton film itu ia merasakan ada kebingungan atas alur cerita film itu, karena selain berbeda dengan kisah Bilal yang sesungguhnya, film ini juga tidak Islami dan terkesan mengusung misi sekular dan liberal.
Sumber referensi yang lain bahkan menyebut sedikitnya ada enam hal yang membuat kisah di film ini tidak sesuai kisah kehidupan Bilal yang sesungguhnya.
Berikut keenam hal tersebut;
1. Bilal Bin Rabah adalah Sahabat Rasulullah SAW yang terkenal memiliki suara azan yang merdu, namun di film ini Bilal sama sekali tidak mengumandangkan Azan.
2. Sepanjang alur film nama Allah dan Rasulullah SAW sama sekali tidak disebut-sebut padahal Bilal adalah salah satu sahabat Rasulullah SAW yang paling dekat. Bahkan saat Bilal masih hidup, Allah sudah menjaminnya akan masuk surga.
3. Saat adegan penyiksaan dimana Bilal ditindih dengan batu, Bilal mengucapkan "I want a freedom (aku ingin kebebasan", padahal dalam kisah sesungguhnya Bilal mengucapkan "Ahad, Ahad, Ahad" yang merupakan kalimat tauhid yang mengakui keesaan Allah SWT.
4. Malaikat digambarkan seperti sosok kuda putih
5. Adik bilal yang wanita tidak berhijab, berpakaian terbuka, penuh aksesoris dan ber-make up.
6. Pada film ini terdapat slogan yang dicurigai mengusung misi liberal dan sekular. Slogan itu diucapkan ibu Bilal: "Being a great man is living whithout a chain (Menjadi orang besar artinya hidup tanpa ikatan)".
Pesan ini dianggap dapat menjadi sublimal message bagi anak-anak yang menontonnya, yang mendorong mereka untuk memilih kehidupan yang bebas sebagaimana layaknya ciri khas para penganut liberalisme dan sekularisme yang selalu mendengung-dengungkan kebebasan. (rhm)







