Jakarta, Harian Umum - Puluhan emak-emak dari berbagai elemen yang tergabung dalam Aliansi Emak-emak Lintas Provinsi mendesak PDIP agar segera menindaklanjuti putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang tidak menemukan ijazah luar negeri Wapres Gibran Rakabuming Raka yang dapat disetarakan dengan SMK.
Desakan itu disampaikan dalam audiensi di kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Rabu (21/10/2026).
Dalam audiensi yang dikoordinatori Ketua Umum Aliansi Emak-emak Bergerak Lintas Provinsi, Bunda Merry, hadir emak-emak dari berbagai elemen yang berasal dari Jabodetabek, Lampung, Palembang, Malang, Bandung dan lain-lain, seperti Koalisi Nasional Perempuan Indonesia (KNPRI) dan Aspirasi.
Audiensi ini juga dihadiri Kapten TNI (Purn) Ruslan Buton, dan tersangka kasus ijazah Jokowi; Rustam Effendi.
Sementara pihak dari PDIP yang menerima audiensi adalah Kabid Perempuan dan Anak DPP PDIP, Bintang Puspayoga; Wasekjen PDIP bidang Kerakyatan, Sri Rahayu; Ketua Bidang Pariwisata DPP PDIP, Wiryanti Sukamdani; Ketua Bidang Ideologi dan Kaderisasi DPP PDIP, Djarot Syaiful Hidayat; anggota DPR RI Komisi X dari Fraksi PDIP, Maria Yohana Esti Wijayati; dan Anggota Komisi VII DPR dari Fraksi PDIP, Adian Napitupulu.
"Kami minta ketua umum PDIP dan jajaran untuk mendengarkan aspirasi rakyat, dan memerintahkan jajaran untuk membantu kelancaran proses pemakzulan Wapres Gibran Rakabuming Raka," kata Bunda Merry.
"Kami dukung dan minta Presiden bersikap tegas menyetujui pemakzulan agar tercipta kestabilan nasional," imbuh dia.
Bunda Merry menilai, dengan tidak ditemukannya ijazah luar negeri Gibran yang dapat disetarakan dengan SMK, maka Gibran telah melakukan pembohongan publik.
"Dengan negara sebesar ini, Jika (Gibran) kompeten (sebagai Wapres) silakan saja, tapi kami lihat ini dipaksakan. usia tidak cukup diubah undang-undang (Pemilu)-nya. Saat pidato, dia menyebut para para kyai, para-para hadirin, ibu hamil (dia katakan) dikasih asam sulfat...," imbuhnya.
Bunda Merry mengingatkan bahwa di Indonesia ini banyak anak bangsa yang lebih layak menjadi Wapres, dan menurutnya, untuk menjadi seorang pemimpin ada syaratnya.
"Harus cerdas, memiliki intelektualisme, dan jelas pendidikannya," kata dia.
Ada beberapa emak-emak yang diberi kesempatan untuk menyampaikan aspirasi, dan beberapa di antaranya menyampaikan hal yang serupa, sangat prihatin karena Indonesia kini punya Wapres yang diduga cuma lulusan SMP.
"Ada dampak buruknya. Anak-anak saya saja sekarang tidak mau mengejar IPK (indeks prestasi kumulatif), karena katanya, orang yang lulusan SMP pun sekarang bisa menjadi Wapres," kata seorang Ibu.
Dalam audiensi ini, PDIP sempat disentil emak-emak karena PDIP lah yang membesarkan Jokowi, bapaknya Gibran, pada Pilpres 2014, sehingga menjadi presiden, dan berlanjut di Pilpres 2019.
Meski PDIP telah memecat Jokowi dan keluarganya, mereka meminta PDIP tetap membantu mereka memperbaiki kondisi ini.
"Bantu perjuangan kami agar Gibran dapat dimakzulkan," katanya.
Namun, respon Djarot dan Adian atas audiensi itu membuat emak-emak kecewa, karena keduanya hanya dapat menampung apa yang disampaikan emak-emak, dan nantinya akan dibawa ke rapat partai dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. (rhm)






