Los Angeles, Harian Umum - Polisi Amerika Serikat (AS) bertindak sangat keras terhadap mahasiswa di sejumlah kampus di negara itu yang menggelar aksi mendukung Palestina.
Reuters melaporkan, polisi secara paksa mengusir sejumlah pengunjuk rasa pro-Palestina di beberapa perguruan tinggi.
"Polisi juga merobohkan sebuah perkemahan di UCLA dalam sebuah adegan mengejutkan yang menggarisbawahi meningkatnya kekacauan yang terjadi di universitas-universitas minggu ini," kata Reuters, Jumat (3/5/2024).
Pada Kamis (2/5/2024) waktu AS atau Jumat (3/5/2024) waktu Indonesia, polisi yang mengenakan helm menyerbu tenda yang didirikan di Universitas California di Los Angeles. Dengan menggunakan flash bang dan perlengkapan antihuru-hara, polisi menerobos barisan pengunjuk rasa yang saling bergandengan tangan, tetapi upaya itu gagal menghentikan gerak maju para demonstran.
Polisi Los Angeles di media sosialnya mengatakan, mereka telah menangkap 210 orang di UCLA, dan ratusan lainnya di universitas-universitas yang lain pada Rabu (1/5/2024) malam dan Kamis.
“Saya mahasiswa, tolong jangan ganggu kami, jangan ganggu kami," kata salah seorang pengunjuk rasa di UCLA saat disorot kamera televisi saat dibawa pergi polisi. Tangannya terikat. "
Beberapa jam kemudian, mahasiswa yang hanya menyebut nama depannya sebagai Ryan itu kembali ke kampus dan bersumpah tidak akan berhenti berjuang.
"Kami akan kembali,” katajya.
Menurut informasi, polisi bertindak jerema karena aksi demonstrasi yang dilakukan di kampus-kampus melanggar hukum.
Mahasiswa telah berunjuk rasa atau mendirikan tenda di puluhan universitas dalam beberapa hari terakhir untuk memprotes perang Israel di Gaza.
Para pengunjuk rasa telah meminta Presiden Joe Biden, yang mendukung Israel, ahar berbuat lebih banyak guna menghentikan pertumpahan darah di Gaza, serta menuntut divestasi sekolah-sekolah dari perusahaan-perusahaan yang mendukung pemerintah Israel.
Banyak sekolah, termasuk Universitas Columbia di New York City, telah memanggil polisi untuk meredam protes tersebut.
Biden memecah kebisuannya mengenai demonstrasi pada hari Kamis setelah penggerebekan UCLA, dengan mengatakan bahwa orang Amerika mempunyai hak untuk melakukan protes, tetapi tidak untuk melancarkan kekerasan.
“Penghancuran properti bukanlah protes damai, ini melanggar hukum. Vandalisme, masuk tanpa izin, memecahkan jendela, menutup kampus, memaksa pembatalan kelas dan wisuda - semua ini bukanlah protes damai," katanya di Gedung Putih. (man)






