Jakarta, Harian Umum-Kisah cinta yang sudah terpendam sejak lama, kisah cintanya sangat terjaga kerahasiaannya dalam kata, sikap dan ekspresi mereka bahkan konon setan pun tak bisa mengendusnya. Mereka bisa menjaga izzah mereka, hingga Allah telah menghalalkan keduanya.
Ali bin Abi Thalib adalah adik sepupu dan salah satu sahabat yang istimewa dimata Rasululloh. Selain tinggal langsung bersama Rasululloh, Ali juga seorang pemberani yang pernah menggantikan posisi tidur Rasululloh disaat hijrah. Dia juga seorang mujahid perang yang gagah.
Sementara Fatimah adalah putri Rasululloh yang taat, penyayang dan sangat peduli pada ayahnya.
Fatimah selalu ada di samping ayahnya dalam setiap kisah perjuangan sang ayah membumikan nilai-nilai Islam di tengah kafir Qurais.
Sebenarnya Ali sudah menyukai Fatimah sejak lama. Kecantikan putri Rasulullah ini tak hanya jasmaninya saja. Kecantikan ruhaninya melintasi batas hingga langit ke tujuh. Kendalanya, adalah perasaan rendah dirinya, apakah mampu ia membahagiakan putri Rasulullah dengan keadaannya yang serba terbatas. Demikian kira-kira perasaan yang berkecamuk di pikiran Ali saat itu.
Pada suatu ketika, Fatimah dilamar oleh seorang laki-laki yg selalu dekat dangan Nabi. Bahkan ia telah mempertaruhkan kehidupannya, harta dan jiwanya untuk Islam. Bisa dibilang dialah yang menemani perjuangan Rasulullah sejak awal-awal perjuangan sang nabi.
Dialah Abu Bakar Ash Shiddiq. Entah kenapa mendengar berita ini Ali terkejut dan tersentak jiwanya. Muncul rasa-rasa aneh yang dia pun tak mengerti. Ali merasa diuji karena terasa apalah dirinya jika dibanding dangan Abu Bakar. Terutama kedudukannya di sisi Nabi. Ali merasa belum ada apa-apanya bila dibanding dengan perjuangan Abu Bakar dalam menyebarkan risalah Islam.
Entah sudah berapa banyak tokoh-tokoh bangsawan dan saudagar Mekkah yg masuk Islam karena sentuhan dakwahnya.
Sebutlah ‘Utsman, ‘Abdurrahman bin auf, Thalhah, Zubair, Sa’d bin abi Waqqash, Mush’ab. Ini yang tak mungkin dilakukan oleh orang muda usia seperti Ali.
Tak sedikit juga para budak yang dibebaskan oleh Abu Bakar. Sebutlah Bilal bin Rabbah, Abdullah ibn mas’ud. Dari sisi finansial Abu Bakar seorang saudagar. Tentu akan lebih bisa membahagiakan Fatimah. Sementara Ali, hanya pemuda miskin. Melihat dan memperhitungkan hal ini, Ali ikhlas dan bahagia jika Fatimah bersama Abu Bakar, meskipun ia tak mampu membohongi rasa-rasa dalam hatinya yang ia sendiri tak mengerti, apakah mungkin itu yg namanya cinta.
Namun ternyata lamaran Abu Bakar ditolak oleh Fatimah. Hal ini menumbuhkan kembali harapannya. Ali kembali mempersiapkan diri, berharap dia masih memiliki kesempatan itu. Namun ujian bagi Ali belum berakhir. Setelah Abu Bakar, mundur muncullah laki-laki nan gagah perkasa dan pemberani.
Seseorang yag dengan masuk Islamnya mengangkat derajat kaum muslimin. Seorang laki-laki yg membuat para berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut.
Seorang yg diberi gelar Al-Faruq.
Ya, dialah Umar ibn Al Khaththab. Sang pemisah antara kebenaran dan kebatilan itu juga datang melamar Fatimah. Ali pun ridha jika Fatimah menikah dengan Umar. Ia bahagia jika Fatimah bisa bersama dengan sahabat kedua terbaik Rasululloh setelah Abu Bakar yang mana Rasululloh sampai mengatakan, “Aku datang bersama Umar dan Abu Bakar.”
Namun kemudian Ali pun semakin bingung karena ternyata lamaran Umar pun ditolak. Setelah itu menyusul Abdurahman bin Auf melamar sang putri dengan membawa 100 unta bermata biru dari Mesir dan uang 10.000 dinnar yang kalau diuangkan dalam rupiah kira kira Rp 55 milyar. Ternyata lamaran bermilyar-milyar itu pun ditolak oleh Rasululloh.
Akan tetapi kekhawatiran Ali bin Abi Thalib belum berakhir sampai di sini karena ternyata sahabat yg lainpun melamar sang Az Zahra. Usman bin Affan pun memberanikan dirinya melamar sang putri, dengan mahar seperti yang dibawa oleh Abdurrahman bin Auf, hanya ia menegaskan kembali bahwa kedudukannya lebih mulia di banding Abdurrahman bin Auf karena ia telah lebih dahulu masuk Islam.
Tidak disangka tidak diduga, ternyata Rasululloh pun menolak lamaran Usman bin Affan.
Empat sahabat nabi sudah sudah memberanikan diri dan mereka semua telah ditolak oleh Rasulullah.
“Mengapa bukan engkau saja yg mencobanya kawan?” seru sahabat Ali. "Mengapa engkau tak mencoba melamar Fatimah?, aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”
“Aku?” tanyanya tak yakin.
“Ya. Engkau wahai saudaraku!”
“Aku hanya pemuda miskin. Apa yg bisa aku andalkan?” Para sahabatnya pun menguatkan, “Kami dibelakangmu, kawan!"
Akhirnya Ali bin Abi Thalib pun memberanikan diri menjumpai Rasulullah untuk menyampaikan maksud hatinya yakni meminang putri Nabi tersebut untuk jadi istrinya.
Awalnya ia hanya duduk di samping Rasululloh dan lama tertunduk diam. Hingga Rasulullah pun bertanya, ”Wahai putra Abu Thalib, apa yang engkau inginkan?"
Sejenak Ali terdiam, dan dengan suara bergetar ia pun menjawab, ”Ya Rasululloh, aku hendak meminang Fatimah.” Mendengar perkataan Ali ini, beliau tidak terkejut.
"Bagus, wahai Ibnu Abu Thalib. Beberapa waktu terakhir ini banyak yang melamar putriku, tetapi ia selalu menolaknya. Oleh karena itu, tunggulah jawaban putriku,” kata Nabi.
Kemudian Rasululloh meninggalkan Ali dan bertanya kepada putrinya. Ketika ditanya, Fatimah hanya terdiam dan Rasululloh menyimpulkan bahwa diamnya Fatimah pertanda setuju.
Rasululloh kemudian mendekati Ali dan bersabda, "Apakah engkau memiliki sesuatu yg akan engkau jadikan mahar wahai Ali?"
Ali pun menjawab, ”Orang tuaku yang menjadi penebusnya untukmu ya Rasulullah, tak ada yang aku sembunyikan darimu, aku hanya memiliki seekor unta untuk membantuku menyiram tanaman, sebuah pedang dan sebuah baju zirah dari besi.”
Dengan tersenyum Rasululloh bersabda, "Wahai Ali, tidak mungkin engkau terpisah dengan pedangmu, karena dengannya engkau membela diri dari musuh-musuh Allah dan tidak mungkin juga engkau berpisah dengan untamu karena ia engkau butuhkan untuk membantumu mengairi tanamanmu. Aku terima mahar baju besimu, juallah dan jadikan sebagai mahar untuk putriku.”
Wahai Ali, engkau wajib bergembira sebab Allah sebenarnya sudah lebih dahulu menikahkan engkau di langit sebelum aku menikahkan engkau di bumi. Begitu kata Nabi kepada Ali.
Diriwayatkan oleh Ummu Salamah, Ali bin Abi Thalib menjual baju besi tersebut dengan harga 400 dirham dan menyerahkan uang tersebut kepada Rasululloh.
Dan Nabi laku membagi uang tersebut ke dalam 3 bagian. Satu bagian untuk kebutuhan rumah tangga. Satu bagian untuk wewangian. Satu bagian lagi dikembalikan kepada Ali bin Abi Thalib sebagai biaya untuk jamuan makan untuk para tamu yg menghadiri pesta.
Setelah segala-galanya siap, dengan perasaan puas dan hati gembira dan disaksikan oleh para sahabat, Rasululloh mengucapkan kata Ijab Qabul pernikahan putrinya.
Kemudian Nabi ﷺ bersabda, Sesunguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah putri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesunguhnya aku telah menikahkannya dengan mas kawin 400 dirham.
Maka menikahlah Ali dang Fatimah. Pernikahan mereka penuh hikmah walau diarungi di tengah kemiskinan, bahkan disebutkan Rasulullah sangat terharu melihat tangan Fatimah yang kasar karena harus menepung gandum untuk membantu suaminya.
Dan di malam harinya setelah dihalalkan oleh Allah terjadilah dialog yang sangat menggetarkan.
Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah keduanya menikah, Fatimah berkata kepada Ali.
"Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu, aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta kepada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya," kata Fatimah.
Ali pun bertanya mengapa ia tak mau menikah dengan orang tersebut dan apakah Fatimah menyesal menikah dengan dirinya.
Sambil tersenyum Fatimah menjawab, “Pemuda itu adalah dirimu".
Subhanallah, itu adalah pujian terbaik dari seorang istri yg bisa membahagiakan hati suaminya. Ali dan Fatimah saling Mencintai karena Allah.(RR)






