Jakarta, Harian Umum - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia perlu dipacu lebih tinggi untuk mencapai status negara maju.
Sebab, pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen dinilai belum memadai.
"Ketika Pak Prabowo bilang 8 persen, kita banyak ketawain, dibilang enggak mungkin, tapi itu persyaratan untuk menuju negara maju. Bahkan 8 persen masih kurang, mestinya harus didorong ke arah 10 persen," kata Purbaya dalam Wisuda UI, Depok, dikutip dari kompas.com, Senin (16/2/2026).
Namun, kata dia, untuk lima tahun ke depan, pertumbuhan ekonomi 8% sudah cukup, karena untuk dapat menyerap tenaga kerja baru yang masuk usia produktif, diperlukan pertumbuhan minimal 6,7% hingga 7% per tahun.
Indonesia, menurut Purbaya, perlu keluar dari pola pertumbuhan 5 persen, karena angka tersebut terlihat stabil, tetapi belum cukup untuk mendorong lompatan menuju negara berpendapatan tinggi.
"Indonesia sudah lama tumbuh di kisaran 5 persen. Itu kelihatannya bagus, sebagian orang bilang itu sudah maksimal. Padahal, menurut saya, kita paling tidak harus tumbuh 6,7 persen menuju 7 persen untuk menyerap tenaga kerja baru yang memasuki usia kerja," katanya.
Target 8 persen yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto kerap dipandang skeptis. Purbaya menilai angka itu menjadi prasyarat menuju negara maju. Pemerintah berencana mendorong mesin pertumbuhan baru yang ditopang sumber daya manusia muda dan terdidik. Lulusan perguruan tinggi diharapkan berperan sebagai penggerak ekonomi.
"Jadi, kita gak boleh tumbuh terlalu lambat," tegas dia.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan ekonomi global diproyeksikan stagnan di kisaran 3 persen. Indonesia mencatat pertumbuhan 5,11 persen secara tahunan pada kuartal IV 2025. Konsumsi rumah tangga tumbuh 4,98 persen.
Airlangga menilai capaian itu dipengaruhi stimulus, stabilitas harga, serta peningkatan mobilitas saat Natal dan Tahun Baru. Investasi tumbuh 5,09 persen, belanja modal pemerintah melonjak 44,2 persen dan menjadi pendorong pada akhir tahun.
Secara keseluruhan, belanja pemerintah kuartal IV tumbuh 4,55 persen dan berperan menahan dampak perlambatan global.
Pemerintah melihat ekonomi domestik masih memiliki ruang ekspansi dan menyiapkan arah kebijakan jangka menengah menuju target 8 persen.
“Indonesia di antara negara G20 di kuartal keempat adalah nomor dua, sesudah India yang 7,4 persen. Pertumbuhan kita secara year-on-year 5,11 persen,” katanya dalam forum Indonesia Economic Outlook di Wisma Danatara, pada tanggal 13 Februari 2026. (man)


