Teheran, Harian Umum - Tim Perundingan Iran masih membahas proposal perdamaian terbaru Amerika Serikat (AS) yang diserahkan kepada Iran melalui Pakistan sebagai mediator.
Pembahasan itu dilakukan bersama oleh Tim Perundingan Iran dengan utusan dari Pakistan.
Namun, pembahasan menjadi sangat alot ketika sampai pada poin-poin krusial yang selama ini menjadi hambatan terjadinya kesepakatan untuk menghentikan perang antara Iran dan AS.
"Seorang sumber yang dekat dengan tim negosiasi mengatakan, pembicaraan dan konsultasi mengenai poin-poin yang menjadi pangkal perbedaan pendapat (antara AS dengan Iran) masih berlangsung dan belum ada hasil akhir yang tercapai," kata Kantor Berita Tasnim dikutip Sabtu (23/5/2026).
Sumber tersebut, lanjut Tasnim, bolak-balik berkonsultasi dengan Washington setiap kali ada yang perlu disampaikan ataupun perlu dimintai tanggapan dari Gedung Putih.
Sumber itu juga mengatakan bahwa fokus pembicaraan saat ini adalah pada isu "mengakhiri perang", sehingga sampai isu ini diselesaikan, tidak ada isu lain yang akan dinegosiasikan.
“Beberapa kemajuan telah dicapai pada beberapa isu dibandingkan dengan pembicaraan sebelumnya, tetapi sampai semua poin perbedaan pendapat diselesaikan, tidak akan ada kesepakatan yang tercapai,” tambah sumber tersebut.
Sumber ini tidak menjelaskan poin-poin mana saja dari proposal terbaru AS yang sangat alot saat dibahas, akan tetapi dia mengatakan bahwa poin-poin yang dirilis beberapa sumber Barat tentang detail kesepakatan tersebut, tidak akurat.
"Tidak seperti yang mereka kabarkan," kata sumber itu
Merujuk pada kegagalan negosiasi pada 11-12 April dan pada proposal sebelumnya yang jawabannya ditolak Trump, diketahui bahwa poin yang alot itu menyangkut program nuklir Iran. Apalagi karena pada Kamis (21/5/2026), Pemimpin Tertinggi Revolusi Iran, Ayatollah Sayyed Mojtaba Khamenei, telah memerintahkan agar tidak ada uranium yang telah diperkaya, yang keluar dari Iran.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan mengatakan, perang tidak akan selesai jika uranium yang telah diperkaya Iran tidak dikeluarkan dari negara itu, rudal balistik Iran tidak dimusnahkan, dan dukungan Iran kepada kelompok proxy di Yaman (Houthi) dan Lebanon (Hizbullah) tidak dihentikan.
Masalah Selat Hormuz juga masuk dalam proposal yang lalu, di mana AS ingin Selat strategis itu tidak lagi di bawah otoritas Iran, sementara keinginan Iran sebaliknya. (man)


