Jakarta, Harian Umum - Sejumlah tokoh nasional yang tergabung dalam Forum Negarawan (FN), Rabu (11/10/2023), melakukan ziarah dan perenungan nasional di Makam Proklamator Muhammad Hatta (Bung Hatta)
Tokoh-tokoh yang hadir di antaranya inisiator FN Eko Sriyanto Galgendu, inisiator FN Prof. Yudhie Haryono, Komjen Pol Dharma Pongrekun, Sayuti Asyathri, Setyo Hajar Dewantoro, DR. Kun Wardana Abyoto, dan Jenderal (Purn) TNI Tyasno Sudarto.
Hadir pula salah satu putri almarhum Bung Hatta, Prof. Dr. Meutia Hatta.
"Ada sebuah makna tentang kejujuran dan keikhlasan dari ketokohan Beliau (Bung Hatta, red), dan Beliau selalu meyakinkan kita dan memberikan pemahaman tentang arti dan makna bahwa bangsa dan negara adalah segalanya. Semoga kedatangan kita ini menjadi kekuatan dan semangat, kehormatan dan kewibawaan kita sebagai sebuah bangsa bahwa kehormatan bangsa dan negara di atas segala-galanya," kata Eko Galgendu saat memberikan sambutan.
Ia memberikan tiga penghormatan kepada Pahlawan Nasional tersebut yang dinamakan Sembah Karno, yakni penghormatan yang diajarkan Pakubowo XII ketika memberikan penghargaan kepada raja; Sembah Jiwo; dan penghormatan secara keprajuritan.
Sementara dalam sambutannya, Meutia Hatta menyinggung kondisi Indonesia terkini yang menurutnya dipimpin oleh figur yang makin lama justru membuat banyak lini yang seharusnya tertata dengan baik, malah amburadul dan tak ada yang berpikir untuk diperbaiki.

"Kita perlu berpikir sebagai negarawan, apalagi bila mendapat anuegarah sebagai pemimpin bangsa," katanya.
Ia mengakui meski banyak di antara masyarakat Indonesia yang memiliki darah seorang negarawan dan pemimpin, tetapi tidak digunakan dengan baik, dan ia mengingatkan bahwa hal itu kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT, di akhirat.
"(Semasa hidup) harapan Bung Hatta adalah kita (bangsa Indonesia) menjadi tuan di negaranya sendiri dan tidak menari di gendang orang lain, dan sumber daya alam yang kita punya digunakan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan bangsa kita," katanya.
Karena hal tersebut, Meutia berharap Pilpres 2024 dapat menghasilkan pemimpin yang dapat memimpin, pemimpin yang mau berkorban untuk rakyat, dan bukan pejabat yang korup.
Acara ini dilanjutkan dengan pemberian buku oleh Meutia kepada pengurus FN, dan tabur bunga ke makam Bung Hatta dan istrinya.
Setelah itu dilakukan foto bersama dan disambung renungan dari Sayuti Asyathri, Komjen Pol Dharma Pongrekun, dan Jenderal (Purn) TNI Tyasno Sudarto. Ketiganya menyoroti kondisi bangsa ini yang dinilai mulai rusak setelah amandemen UUD 1945 menjadi UUD 2002 akibat campur tangan dan kepentingan asing, serta perilaku kepemimpinan Presiden Jokowi yang dinilai justru membuat Indonesia jauh dari apa yang dijanjikan saat kampanye Pilpres 2014 dan 2019, yakni menjadi negara yang maju dengan rakyat yang sejahtera.
Sebab, Indonesia saat ini terpuruk dari berbagai aspek, terutama ekonomi, sementara kebijakan-kebijakannya justru membuat masyarakat turun ke jalan akibat pro oligarki dan asing, terutama China, dibanding pro rakyat. Contohnya UU Cipta Kerja. (rhm)





