Jakarta, Harian Umum - Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menyurati stasiun TV yang menampilkan Ganjar Pranowo, bakal calon presiden yang diusung PDIP, dalam tayangan azan magrib.
"Kami sudah mengirimkan kepada lembaga penyiaran (stasiun TV) tersebut, tinggal menunggu respons kesediaan waktu dari pihak lembaga penyiaran," kata Komisioner KPI bidang Pengawasan Isi Siaran, Aliyah, seperti dilansir kompas.com, Minggu (10/9/2023).
Ia menambahkan, KPI juga tengah melakukan kajian terhadap peristiwa itu dan akan meminta klarifikasi kepada stasiun TV yang menayangkan azan magrib tersebut.
"Jadi, sabar dulu," imbuh Aliyah.
Seperti diberitakan sebelumnya, azan magrib yang menampilkan Ganjar ditayangkan di RCTI. Ketika tayangan itu muncul, publik geger karena mereka menilai munculnya Ganjar dalam tayangan itu merupakan bentuk praktik politik identitas, karena azan termasuk simbol Islam.
Padahal, selama ini pemerintahan Jokowi justru sangat anti pada politik identitas, sehingga para pendukungnya, terutama yang aktif di media sosial, selalu mencela Anies Baswedan karena menganggap Anies menggunakan politik jenis itu ketika mengalahkan Ahok di Pilkada Jakarta 2017. Mereka bahkan menjuluki Anies sebagai Bapak Politik Identitas.
Dan tak hanya itu, dalam acara Tablig Akbar Idul Khotmi Nasional Thoriqoh Tijaniyah ke-231 di Pondok Pesantren Az-Zawiyah, Tanjung Anom, Garut, Jawa Barat, pada 3 September 2023 lalu, Menteri Agama Yaqut Qolil Qoumas mengimbau masyarakat agar tidak memilih pemimpin yang memecah belah umat dan menggunakan agama sebagai alat politik.
"Harus dicek betul, pernah nggak calon pemimpin kita, calon presiden kita ini, memecah belah umat. Kalau pernah, jangan dipilih. Juga jangan memilih calon pemimpin yang menggunakan agama sebagai alat politik untuk memperoleh kekuasaan, karena Agama seharusnya dapat melindungi kepentingan seluruh umat, masyarakat. Umat Islam diajarkan agar menebarkan Islam sebagai rahmat, rahmatan lil 'alamin, rahmat untuk semesta alam. Bukan rahmatan lil Islami, tok," katanya..
Menurut Ketua Umum PP GP Ansor ini, pemimpin yang ideal harus mampu menjadi rahmat bagi semua golongan.
"Kita lihat calon pemimpin kita ini pernah menggunakan agama sebagai alat untuk memenangkan kepentingannya atau tidak. Kalau pernah, jangan dipilih," tegasnya. (rhm)







