Jakarta, Harian Umum - Ketua Himpunan Masyarakat Nusantara (Hasrat) yang juga merupakan politisi, Sugiyanto, menilai, bukan salah PKS jika partai yang dipresideni Ahmad Syaikhu itu tidak jadi mengusung Anies Baswedan di Pilkada Jakarta 2024.
"Sebelumnya, Anies mengirim voice note ke Ketua DPW PKS DKI Jakarta Khoiruddin yang menyatakan bahwa dia tak tahu soal tenggat waktu 40 hari yang diberikan PKS kepadanya untuk mencari mitra koalisi agar dia dan Sohibul Iman berlayar di Pilkada Jakarta 2024, karena yang dia tahu tenggat waktu hingga 4 Agustus yang diberikan PKS adalah tenggat waktu untuk menyetujui Sohibul Iman sebagai Cawagubnya. Voice note itu bocor ke publik," kata Sugiyanto di Jakarta, Rabu (13/8/2024).
Kemudian, lanjut dia, beredar voice note balasan dari Ketua DPW PKS DKI Jakarta Khoirudin yang menegaskan bahwa tenggat waktu hingga 4 Agustus adalah tenggat waktu bagi Anies untuk mencari mitra koalisi.
"Sepertinya ada yang tak jujur dalam masalah ini, tetapi bisa juga karena mispersepsi, karena yang dipahami Anies berbeda dengan yang dimaksud PKS," kata Sugiyanto.
Meski demikian, aktivis yang akrab disapa SGY ini mengatakan, terlepas dari adanya ketidakjujuran atau mispersepsi itu, bagi PKS sendiri memang sangat penting untuk mendapatkan kepastian tentang mitra koalisi, karena hasil Pileg 2024 Februari lalu, PKS hanya memperoleh 18 kursi lagi, sehingga butuh tambahan 4 kursi untuk bisa mengusung Anies dan Sohibul.
"Kalau Anies tak bisa menggenapkan jumlah kursi menjadi 22 sebagaimana persyaratan mengusung calon di Pilkada Jakarta, kan tidak bisa PKS mengusung Anies," imbuh SGY
Soal PKB dan Nasdem yang sempat menyatakan akan mengusung Anies, tetapi kemudian menarik diri, SGY menilai bahwa dari pernyataan Bendahara Umum DPP Nasdem Ahmad Sahroni dan Waketum PKB Jazilul Fawaid memang menunjukkan tanda-tanda adanya ketidakseriusan Nasdem dan PKB dalam melanjutkan dukungan terhadap Anies, sehingga semakin memperumit situasi pencalonan Anies sebagai gubernur DKI Jakarta.
"Jadi, kalau PKS akhirnya menarik dukungan terhadap Anies, ya PKS tak bisa disalahkan, karena.kalau PKS bertahan, risikonya sebagai pemenang Pileg 2024 di Jakarta, PKS tidak bisa ikut Pilkada," kata SGY.
Aktivis dan politisi ini kemudian menyoroti cara Ketua DPW PKS DKI Jakarta.Khoiruddin dalam merespon voice note Anies.
Menurut dia, respon itu memiliki etika politik yang bagus, karena Khoiruddin menyampaikan pandangannya dengan sopan, lembut, dan tidak menimbulkan rasa kecewa kepada siapa pun.
"Kepada Anies, Khoirudin tetap menaruh rasa hormat dan mengedepankan kedamaian serta kebersamaan untuk tujuan kebaikan bersama," katanya.
SGY juga memuji PKS yang telah berbaik hati kepada Anies dengan mau mengusungnya sebagai Cagub, meski PKS adalah partai pemenang di Jakarta, dan Anies bukan kader partai itu.
Bahkan, PKS rela mengalah dengan memilih posisi calon wakil gubernur untuk kadernya (Sohibul Iman).
"Karenanya, logis jika PKS ngotot kadernya mendampingi Anies sebagai Cawagub, dan logis pula jika PKS meminta Anies mencari mitra koalisi agar Anies dan Sohibul dapat mengikuti Pilkada Jakarta," katanya.
Ia juga mengingatkan Anies soal dukungan PKS yang luar biasa kepada Anies, baik pada Pilkada Jakarta 2017 maupun Pilpres 2024.
"Ini menunjukkan komitmen PKS yang sangat kuat kepada Anies dalam skala yang lebih besar dan penting. Pilpres memiliki dampak yang jauh lebih luas dan signifikan dibandingkan dengan Pilkada, sehingga dukungan tersebut sudah mencerminkan penghargaan tertinggi PKs terhadap kapabilitas dan visi Anis," katanya.
Ia pun meminta Anies legowo jika PKS tidak mengusungnya di Pilkada Jakarta 2024, dan menurutnya ini bukan sebuah pengkhianatan.
"Dlam konteks politik yang dinamis, setiap partai memiliki strategi dan kalkulasi tersendiri yang harus diperhitungkan. Mereka tidak akan terus maju jika tahu akan merugikan dirinya," tegas.
Ia pun menyarankan Anies agar mulai memikirkan untuk menjadi kader partai.
"Agar kalau Anies diusung untuk maju di Pilkada atau di Pilpres, dia merupakan representasi partai tertentu, bukan orang luar yang diusung partai, karena risikonya seperti sekarang ini," pungkas SGY. (rhm)







