Jakarta, Harian Umum - Pendiri lembaga survey KedaiKOPI, Hendri Satrio, menilai kampanye negatif masih ada, disebabkan tiga hal.
Pertama disebabkan stimulasi situasi keadaan saat itu. Kedua, pasangan calon terkait sedang terdesak. Ketiga, persepsi hasil akhir yang tidak menguntungkan buat pasangan calon.
Meski begitu, menurut dia, dalam kampanye negatif masih mungkin untuk melakukan diskusi sebagai tanggapan, karena bisa dibuktikan dengan data-data. "Yang repot itu kalau black campaign. Kalau isu-isu negatif di kampanye politik di-manage baik, bisa jadi menguntungkan orang yang diserang. Kalau black campaign tidak ada untungnya," ujar Hendri di Jakarta Pusat, Sabtu (1/3/2017).
Sementara Komisioner Komisi Pemilihan Umum DKI Jakarta Dahlia Umar mengatakan kampanye hitam yang terjadi di Pilkada DKI Jakarta tahun 2017 perlu mendapat perhatian dari lembaga pengawas Pemilihan Umum. Apalagi jika bersifat pribadi dan hanya asumsi.
"Memanfaatkan isu-isu SARA untuk memainkan emosi masyarakat itu tidak sehat. Hal itu perlu untuk ditangani jangan sampai merusak tahapan Pilkada," katanya
Namun Dahlia melanjutkan kampanye negatif dengan saling serang untuk mengadu program kerja antar pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur sah-sah saja dilakukan.
"Negative campaign mengadu program, saling memunculkan kelebihan dan kekurangan tidak apa, asal didukung data kredibel," tambah Dahlia.







