Jakarta, Harian Umum - Guru Besar Komunikasi Universitas Airlangga, Henri Subiakto, menilai, Politik Indonesia akan selalu gaduh selama masih ada peran dan ambisi Jokowi.
Hal itu dia katakan di akun X-nya, @henrysubiakto, untuk merespon postingan @tempodotco yang mempublikasikan Majalah Tempo edisi terbaru dengan judul "Ambisi Menjadi Pemimpin Koalisi".
Untuk memublikasikan majalah itu, @tempodotco memberikan narasi seperti ini:
"Agenda menjadikan Jokowi sebagai pemimpin koalisi menggelinding di internal Koalisi Indonesia Maju. Apa dampaknya bagi Prabowo?
Ini bagian dari strategi supaya tetap berkuasa saat presiden sudah berganti. Saat Jokowi sudah bukan lagi Presiden RI. Dengan pegang pemimpin partai koalisi, diharapkan Jokowi tetap memiliki pengaruh besar mengendalikan negeri".
Henri sepakat dengan narasi @tempodotco itu, tapi dia juga mempertanyakan apakah Prabowo mau dikendalikan Jokowi?
"Persoalannya apa kalau Jokowi sudah pegang pemimpin partai-partai koalisi, Prabowo sebagai presiden RI akan diam dan terus nurut pada kemauan Jokowi?" tanyanya.
Ia meyakini akan terjadi konflik antara Jokowi dan Prabowo jika Jokowi memaksakan kehendak, karena Prabowo tak mau pemerintahannya direcoki dan dikendalikan siapapun.
"Ada potensi Konflik “berebut pengaruh” antara kedua tokoh ini. Yang satu merasa sangat berjasa memenangkan Prabowo secara total hingga jadi Presiden 2024 dan masih mengendalikan partai-partai, satunya merasa sebagai penguasa baru, Presiden RI yang pasti tidak ingin direcoki dan di bawah kendali siapapun," katanya.
Mantan staf ahli Kemenkominfo ini yakin, konflik itu akan membuat Indonesia diramaikan pertarungan antara relawan dan buzzer kedua belah pihak, yang membuat Indonesia terus gaduh, dan bahkan akan muncul drama-drama.
"Nanti relawan dan buzzer kedua tokoh ini akan kembali dimobilisasi untuk mendukung kepentingan masing-masing sesembahannya. Sekarang mereka masih honeymoon, karena memenangkan kontestasi, tapi sebentar lagi akan muncul drama-drama mereka merefleksikan kelicikan dan ambisi," katanya.
"Politik Indonesia tidak akan berhenti ribut, selama ada peran dan ambisi Jokowi, dengan politik dinasti dan oligarki. Rakyat semakin jauh dari sejahtera, bahagia dan cerdas. Rakyat lebih banyak dimanfaatkan, dimobilisasi dan dipersuasi untuk kepentingan politisi," imbuhnya.
Henri melihat, peran akademisi dibutuhkan untuk mengatasi ini, dan untuk menghadapi para penjahat demokrasi yang berpotensi merusak NKRI.
"Arah NKRI makin jauh dari tujuan pendiri Bangsa saat mereka memproklamirkan Kemerdekaan RI. Maka kritikan akademisi sangat dibutuhkan untuk menjaga kewarasan negeri ini menghadapi para penjahat demokrasi yang berpotensi merusak NKRI," katanya.
Henri juga mengatakan bahwa kalau Prabowo jeli, dia bisa berbalik menentang politik dinasti, tetapi Jokowi sepertinya telah mengkhawatirkan hal ini, sehingga telah melakukan antisipasi.
"Kalau Prabowo jeli, bisa saja nanti, atas nama NKRI dia akan berbalik anti politik Dinasti. Itu yang dikhawatirkan Jokowi, makanya dia sebelum lengser memperbanyak investasi politik supaya dia tetap punya gigi, yang diperhitungkan oleh Prabowo sebagai Presiden RI," katanya.
Namun, Henri menilai bahwa apa yang terjadi ini merupakan dinamisasi politik di Indonesia yang menarik untuk diamati dan dijadikan bahan diskusi.
"Politik dalam negeri tetap akan dinamis, penuh intrik, konflik dan selalu menarik untuk diamati maupun jadi bahan diskusi," pungkasnya. (rhm)






