Jakarta, Harian Umum- Ketua Aliansi Masyarakat Jakarta (Amarta) Manginar Rico Sinaga menganjurkan kepada Dinas Kehutanan, Pertamanan dan Pemakaman (DKP2) DKI Jakarta agar melakukan reboisasi untuk menambah luas lahan ruang terbuka hijau (RTH) dan menjadikan Ibukota sebagai kota metropolitan yang asri.
"Saat ini hal yang paling sulit di Jakarta salah satunya adalah mencari lahan yang dapat dimanfaatkan sebagai RTH, karena sekalipun ada lahan kosong, maka harus dibebaskan dengan biaya yang tidak sedikit, karena sudah ada yang punya," katanya kepada harianumum.com di Jakarta, Kamis (3/1/2019).
Proses pembebasan lahan pun, menurut aktivis senior ini, bukan hal yang mudah karena tak jarang ada mafia tanah yang bermain, sehingga proses pembebasan menjadi panjang, lama, dan tak jarang harus berurusan pula dengan pengadilan.
"Ada cara yang lebih praktis, cepat dan tidak memerlukan banyak biaya, tapi jika dilakukan dengan serius dan benar, luas area hijau di Jakarta akan bertambah, dan Jakarta akan sangat asri," tegasnya.
Cara dimaksud adalah memanfaatkan lahan di turap sepanjang Banjir Kanal Barat (BKB) dan Banjir Kanal Timur (BKT) yang melintasi wilayah Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Timur dan Jakarta Utara.
Lahan di turap itu cukup luas dan dapat ditanami pohon-pohon penghasil buah, seperti rambutan, mangga, nangka dan lain sebagainya, dan di sela-sela tanaman itu ditanami sayur mayur seperti bayam, kangkung, kacang panjang, dan lain sebagainya.
"Selama ini saya melihat lahan di turap itu terbengkalai begitu saja. Padahal dapat dimanfaatkan. Kalau sepanjang turap BKT dan BKB menghijau, bisa dibayangkan betapa indahnya suasana di situ," katanya.
Rico juga mengusulkan agar pohon angsana yang saat ini banyak tumbuh di sepanjang tepi jalan, diganti dengan jenis lain karena rata-rata usia pohon ini sudah tua, di atas 10 tahun, sehingga rapuh dan rawan tumbang.
"Selain itu, pohon angsana juga mengeluarkan semacam zat beracun, sehingga burung-burung enggan datang dan hinggap di batang serta rantingnya," imbuh dia.
Meski demikian Rico mengingatkan bahwa penggantian pohon itu hendaknya tidak dengan langsung menebangnya agar jalan dimana angsana itu tumbuh tidak menjadi gundul.
"Jadi, setahun sebelum pohon itu ditebang, di sampingnya ditanam pohon pengganti yang sudah cukup besar, sehingga saat pohon angsana itu ditebang, akar si pohon pengganti sudah kuat," katanya.
Ia yakin jika pohon angsana telah berkurang karena diganti dengan mahoni atau pohon lain, burung-burung akan berdatangan dan hinggap di batang serta ranting pohon yang baru.
Rico bahkan juga menyarankan agar suasana kota makin indah, di jalur hijau jalan protokol ditambahi tanaman bunga yang sedap dipandang mata, contohnya pohon sakura.
"Kalau konsep ini direalisasikan, saya yakin Jakarta akan nampak beda, karena terlihat lebih segar," pungkasnya.
Seperti diketahui, UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang RTH mengamanatkan setiap wilayah wajib memiliki RTH seluas 30% dari total luas wilayahnya. Hingga akhir 2018, luar RTH di Jakarta baru 9,98% dari luas wilayah yang mencapai 661,5 km2.
Maka, menambah luas RTH kini menjadi salah satu PR yang harus diselesaikan Suzi Marsitawati, kepala DKP2 yang baru dilantik Gubernur Anies Baswedan pada Senin (31/12/2018). Apalagi karena tahun ini DKP2 mendapat anggaran Rp400 miliar untuk membabaskan lahan yang akan difungsikan sebagai RTH. (rhm)







