Jakarta, Harian Umum - Sekelompok masyarakat yang tergabung dalam Gerakan Keadilan Rakyat (GKR), Selasa (27/2/2024), menggelar unjuk rasa di depan kantor Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, untuk mengeritik lembaga itu dalam mengawasi penyelenggaraan Pilpres 2024.
Namun, pada saat yang sama sekelompok anak muda yang mengklaim diri sebagai mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Jakarta dan tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Kawal Bawaslu, juga menggelar aksi di lokasi yang sama dengan tujuan sebaliknya; membela Bawaslu.
Namun yang menarik, YouTuber yang meliput aksi massa ini terlihat lebih fokus meliput aksi GKR dibanding aksi kelompok mahasiswa.
Dalam aksinya, GKR yang didominasi emak-emak mempersoalkan krisis beras yang terjadi pasca penyelenggaraan Pilpres 2024 pada 14 Februari lalu, karena beras mendadak langka di pasaran dan harganya meroket hingga untuk jenis tertentu, harga komoditi itu tembus Rp18.000/liter.
"Setelah hari pencoblosan, kita krisis, ini artinya apa?" kata salah seorang orator GKR.
Ia meyakini kalau krisis berat ini terjadi karena beras di pasaran diborong pemerintah untuk dijadikan Bansos yang dibagikan sebelum hari pencoblosan pada 14 Februari demi memenangkan Paslon nomor urut 02 Prabowo-Gibran.
"Ada tidak di antara emak-emak di sini yang menerima Bansos itu?" tanya di orator
Banyak yang menjawab "tidak".
Orator itu menegaskan bahwa seharusnya Bawaslu menindak pembagian Bansos itu karena menggunakan dana dari APBN, dan sekarang memicu krisis beras.
"Tapi Bawaslu diam saja, padahal mereka digaji oleh kita, dari pajak kita! Bawaslu telah ikut merusak demokrasi di negara kita!" tegas si orator lagi.
Massa GKR yang berjumlah sekitar 100 orang, sebelum ke Bawaslu terlebih dahulu berkumpul di Patung Kuda, dan kemudian long march ke Bawaslu. Mereka membawa satu mobil komando, spanduk dan poster-poster. Emak-emak yang terlibat aksi ini ada yang membawa peralatan dapur seperti panci, penggorengan, dan bakul nasi.
Berikut di antara yang tertulis di spanduk dan poster-poster mereka; "Pemilu banjir Bansos, Sembako Jadi Mahal", "Bansos Datang, Beras Hilang", "Bawaslu Kenapa Biarkan Pemilu Banjir Bansos", dan "Pecat Ketua KPU Cacat Moral dan Etika".
Informasi yang dihimpun menyebutkan, massa GKR adalah massa pendukung Paslon 03 Ganjar-Mahfud, tetapi menjelang sore, terlihat emak-emak pendukung 01 Anies-Muhaimin (AMIN) yang rata-rata berbusana Muslim, datang dan bergabung dengan massa GKR. Di antara mereka bahkan ada yang ikut berorasi.
Emak-emak pendukung 01 yang tergabung dalam Arisan Emak-emak itu sebelumnya menggelar aksi yang sama dengan GKR di DPR.
Selain emak-emak pendukung 01, aktivis buruh terlihat juga di antara massa GKR, di antaranya Ketum Serikat Buruh Sejahtera Independen (SBSI) 92, Sunarti. Aktivis ini juga ikut berorasi dengan suaranya yang menggelegar.
Dalam aksinya ini, GKR menyampaikan pernyataan sikap sebagai berikut:
1. Tidak percaya kepada PRESIDEN yang mengelola negara hanya berdasarkan kepentingan keluarga dan kroninya; dan
2. Tidak percaya kepada BAWASLU yang menjadi alat kekuasaan dalam penyelenggaraan Pemilu yang harusnya melaksanakan amanah rakyat, bersikap tegas, jujur dan adil dalam pelaksanaan pengawasan kampanye pemilu 2024.
Berikut poin-poin tuntutan GKR:
1. Turunkan harga kebutuhan pokok dan harga pangan
2. DPR membentuk Pansus Bansos (menunjuk Lembaga independent melakukan audit anggaran Bansos dan data penerima Bansos)
(rhm)







