KETERLIBATAN Sangha dalam urusan duniawi hanya akan menyebabkan keruntuhan derajat mulia ke-bhikkhu-an, dan citra Sangha di mata masyarakat.
-------------------------
Oleh: Adian Radiatus
Aktivis Buddhis
Di tengah kebutuhan umat Buddha akan sosok pembimbing Dharma, pengayom dan penuntun bathin untuk menuju pencerahan akan ajaran Buddha Dharma sehingga dapat berkembang indah di tanah kebahagiaannya oleh yang mewakili ajaran Sang Buddha secara utuh dan benar, yaitu Sangha nan Mulia dan Agung, justru umat semakin sering dipertontonkan tampilnya anggota Sangha dan bahkan sudah menjadi Kepala Vihara malah menerjunkan dirinya ke dalam urusan duniawi.
Sebut saja Bhikkhu Dhammavuddho yang telah mencapai jenjang Thera, sehingga dipanggil sebagai Bhante Dhammavuddho Thera yang menunjukan telah mencapai masa "Vassa" (waktu pelatihan diri/pengabdian seorang Bhikkhu) selama lebih dari 10 tahun dunia dan populer dipanggil sebagai Bhante Victor, malah memundurkan tujuan utamanya sebagai seorang Bhikkhu dengan menjadi Ketua Umum sebuah organisasi utusan duniawi dalam konteks kumpulan cendekiawan.
Tentu saja meskipun itu adalah hak pribadinya, namun siapapun tahu bahwa organisasi semacam itu akan berdampak pada kegiatan bernuansa politik duniawi dalam arti luas, selain keilmuan yang terkait pada dirinya, karena sebagai pemimpin organisasi semacam itu harus siap menjadi narasumber maupun memberi pernyataan atas kondisi masyarakat sebagai seorang cendekiawan yang mau tidak mau wajib berinteraksi dengan para cendekiawan agama lainnya.
Pada titik semacam itu apakah Bhikkhu Dhammavuddho tidak menyadari bahwa menjadi sangat duniawi ketika sebuah permasalahan yang membutuhkan pernyataan bernuansa politik muncul, akan menyebabkan keruntuhan derajat mulia ke-bhikkhu-annya, sekaligus citra Sangha dimata umat secara umum?
Sebaliknya, bila Bhikkhu Dhammavuddho hanya memanfaatkan posisi Ketum tersebut untuk popularitas diri semata tentunya akan menambah "kilesa"-nya karena membuat kemelekatan duniawi semakin menebal, sesuatu yang semestinya sangat amat dihindari seorang pelaksana Vinaya.
Dengan segala kesadaran dan kehormatan serta kemuliaan Sangha, alangkah baiknya bila Bhikkhu Dhammavuddho demi keagungan Sangha melepas jabatan duniawi itu. Ketika dulu pernah dilakukannya atas sebuah permintaan sejenis atau bila jabatan itu lebih indah dan mulia bagi dirinya, maka sebagai Sangha yang mengurus organisasi duniawi sebaiknya lepas jubah atau mungkin pilihan bijak atas ilmu yang dimilikinya.
Bentuklah organisasi khusus cendekiawan Sangha yang di dalamnya mengupas literatur-literatur Buddhisme yang mencerahkan umatnya..
Jakarta, 14 Oktober 2024







