Jakarta, Harian Umum- DPD Partai Golkar DKI Jakarta optimis akan meraih 22 kursi pada Pemilu Legislatif (Pileg) 2019, naik hampir 150% dari perolehan pada Pileg 2014 yang hanya sembilan kursi.
"Kami optimis dapat meraih target maksimal itu," tegas Ketua Korwil Pemenangan Pemilu DKI Jakarta DPP Partai Golkar, Zainuddin, kepada wartawan di gedung DPRD DKI Jakarta, Senin (5/3/2-18).
Ia mengakui, kasus suap proyek pengadaan satelit monitoring di Badan Keamanan Laut (Bakamla) yang membuat Fayakhun Andriadi mengundurkan diri dari jabatan ketua DPD Partai Golkar DKI Jakarta, sedikit banyak dapat mempengaruhi elektabilitas partainya.
Meski demikian ia yakin, pengganti anggota Komisi I DPR RI itu yang akan dipilih melalui Musdalub (musyawarah daerah luar biasa) dalam waktu dekat ini, akan dapat menetralisir hal tersebut.
Sebab, katanya, siapa pun kader Golkar yang akan menggantikan Fayakun, akan menciptakan kondusifitas dan soliditas bagi internal partai.
"Apalagi karena saat ini kader Golkar telah kembali menyatu (tak ada lagi kubu Agung Laksono maupun Aburizal Bakrie), dan semua akan bergerak untuk kejayaan partai," imbuhnya.
Anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta ini mengakui, saat ini kendala yang dihadapi adalah tantangan milenial zaman now dimana anak muda tak lagi ingin hanya menjadi pengikuti.
Karenanya, kata politisi yang akrab disapa Oding ini, partai akan terus melakukan konsilodasi secara intensif dengan melibatkan para kader muda, sehingga tak ada lagi istilah senioritas dan yunior di tubuh partai.
"Golkar akan membuktikan diri sebagai partai yang merakyat, dan hadir untuk memberikan solusi atas berbagai persoalan yang hingga saat ini masih dikeluhkan, seperti masalah ketenagakerjaan, kebutuhan akan harga bahan pokok yang murah, dan perumahan dengan harga terjangkau," imbuhnya.
Oding bersyukur karena saat ini dikotomi partai pendukung penista agama dan partai yang bukan pendukung penista agama (Ahok), telah mulai mencair. Dibuktikan dengan adanya koalisi antara partai-partai yang dituding sebagai partai pembela penista agama dengan yang bukan di Pilkada Jawa Timur dan Sumatera Utara.
Partai-partai yang dianggap pendukung penista agama adalah PDIP, Golkar, Hanura, NasDem, PKB, Demokrat dan PPP, sementara yang bukan adalah Gerindra, PKS dan PAN.
Di Pilkada Jatim, PKS dan Gerindra berkoalisi dengan PDIP dan PKB mengusung pasangan Saifullah Yusul-Puti Guntur Soekarnoputri. Sementara di Pilkada Sumut, PKS, PAN dan Gerindra berkoalisi dengan Golkar dan NasDem mengusung Edy Rahmayadi-Musa Rajeksah.
"Mencairnya dikotomi ini akan baik bagi perolehan Golkar di 2019. Apalagi karena hingga kini simpatisan dan kader tetap solid mendukung kemenangan partai di 2019," imbuhnya.
Meski demikian Oding mengakui, sesuai keputusan Ketua Umum DPP Golkar Airlangga Hartarto, pada Pileg 2019 Golkar mengusung Presiden Jokowi agar dapat menjabat sebagai presiden untuk periode kedua.
Seperti diketahui, saat ini internal Golkar, khususnya di DPD DKI Jakarta, sedang galau karena ketua DPD DKI Jakarta Fayakhun Andriadi telah ditetapkan sebagai tersangka kasus suap proyek pengadaan satelit monitoring di Badan Keamanan Laut (Bakamla) oleh KPK.
Fayakun yang anggota Komisi I DPR ditengarai menerima Rp12 miliar dari proyek tersebut, dan kemudian mengundurkan diri.
Untuk mengisi kekosongan, DPD Golkar DKI Jakarta akan menggelar Munaslub untuk memilih ketua baru. Empat nama kandidat telah muncul untuk menggantikan Fayakun, yakni Zainuddin sendiri, Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD DKI Ashraf Ali, Baskara Harimukrti Sukarya dan Bambang Wiyogo.
Namun Zainuddin mengatakan, kapan Munaslub digelar, belum diketahui.
"Nunggu keputusan Ketum," pungkasnya. (rhm)







