Jakarta, Harian Umum-Tumpahan minyak mentah kembali mencemari lautan di Kepulauan Seribu, Jakarta. Bahkan, limbah minyak mentah ini terdampar di sepanjang pantai Pulau Pari dan Pulau Lancang.
Menurut Ketua Forum Peduli Pulau Pari, Mustahgfirin, masyarakat Pulau Pari bergotong – rotong membersihkan limbah minyak mentah yang terdampar disepanjang pantai Pulau Pari dengan menggunakan sarung tangan dan membawa karung bekas. Limbah minyak mentah ini sebelumnya sudah terlihat di sekitar perairan gugusan Pulau Pari dan Pulau Lancang, namun subuh tadi salah satu nelayan menemukan limbah minyak mentah ini sudah terdampar mencapai pantai Pulau Pari dalam jumlah yang sangat banyak.
"Masyarakat Pulau Pari meminta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral khususnya Dirjen Migas melakukan uji forensik limbah minyak mentah tersebut dan membuka hasil uji forensik ke publik. Jika benar ini berasal dari pengeboran Karawang milik PERTAMINA, maka pihak PERTAMINA harus bertanggung jawab terhadap kerugian lingkungan dan masyarakat terdampak," ujar Mustahgfirin, di Jakarta, Selasa (11/8).
Dia menduga limbah minyak mentah ini berasal dari pengeboran minyak di perairan Indramayu hingga Karawang. Sebelumnya, setahun yang lalu kebocoran pipa sumur YYA -1 milik PERTAMINA juga mencapai perairan Pulau Pari, bersamaan dengan arus timur dan angin timur yang bertepatan di bulan Agustus setiap tahunnya.
“Berdasarkan arah dan arus laut, limbah minyak mentah ini kemungkinan besar berasal dari arah Timur, tepatnya berasal dari perairan Karawang yang memang ada titik pengeboran minyak. Sejak kemarin sampai hari ini memang sedang angin timur dan arus timur hingga Pulau Pari, makanya limbah minyak mentah ini bisa terdampar tiba disini. Limbah minyak mentah ini mencemari sepanjang 2 km pantai selatan Pulau Pari dan jika dikumpulkan, limbah minyak mentah ini bsa mencapai 50 ton," katanya.
Dia mengatakan, limbah minyak mentah ini selain merusak ekosistem juga mengancam budiaya rumput laut dan ikan kerapu milik nelayan. Bahkan, ucapnya, nelayan akan mengalami kerugian jika limbah minyak mentah ini menempel di rumput laut sehingga rumput laut tidak dapat dikonsumsi lagi dan ikan kerapu yang terkena minyak mentah akan mati keracunan.
"Hutan mangrove disepanjang pesisir pantai selatan Pulau Pari juga tak luput dari limbah minyak mentah ini. Jika limbah minyak mentah ini dibiarkan terlalu lama terkena matahari, limbah minyak mentah ini akan mencair dan menyerap ke pasir putih sehingga akan semakin sulit dibersihkan," ungkapnya.
Masyarakat Pulau Pari berharap agar kejadian ini segera ditangani mengingat limbah minyak mentah ini sangat berdampak buruk bagi lingkungan dan masayarakat. Pencemaran limbah minyak mentah ini bahkan selalu terjadi sepanjang tahun, karena itu masyarakat menuntut agar Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) beserta dinas terkait melakukan investigasi dan bertanggung jawab terkait limbah minyak mentah yang mencemari lingkungan Pulau Pari dan bagaimana pencemaran ini tidak terjadi lagi pada tahun – tahun berikutnya. (hnk)







