Jakarta, Harian Umum- Warganet menuding sejumlah lembaga survei telah memanipulasi data, sehingga hasil quick count mereka untuk Pilgub Jabar memenangkan pasangan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum (Rindu).
Padahal, kata mereka, pemenang kontestasi ini adalah pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik).
"Hati2 dengan data Quick Count (QC) untuk Jabar, infonya ada yang aneh. Menurut info dari tim saksi, pasangan no 3, Asyik menang, tapi data quick count si RK (Ridwan Kamil, red) yang menang. Tetap kawal hasil pilkada!! jangan sampai KPUD masuk angin lagi," kicau akun @RullyMania seperti dikutip harianumum.com, Jumat (29/6/2018).
"Rilis survei elektabilitas pilgub jabar 3 hari jelang hari H, semuanya berkisar di angka 7-8% utk ASYIK. Hasil QC kisaran angka 29-31%. Dalam waktu 3 hari banyak yang berubah haluan? Ga mungkin! Artinya, lembaga surveinya sajikan data yang keliru. Sengaja? Yang jelas hasil QC ga bisa dipercaya," kata akun @abduhji2110.
Akun @IreneViena dengan detil berkisah begini:
"Kemarin (Rabu, 28/6/2018) kami sempat pantau beberapa TPS di Bogor, Depok dan Bekasi terkait pelaksanaan Pilkada Jawa Barat. Dari 11 TPS terpantau (3 Bogor, 4 Depok, 4 Bekasi) Sudrajat menang di 9 TPS, Ridwan 1 TPS, Deddy 1 TPS Optimisme Sudrajat bakal menang semakin besar," katanya.
"Namun, mendadak kaget ketika menjelang pukul 17.00 mayoritas QC menampilkan hasil sample bahwa Ridwan Kamil unggul dari Sudrajat. Terus terang kami sempat sedikit down. Kami mulai cermati secara teliti hasil QC tersebut.
Info mulai masuk, pola kelihatan makin jelas," imbuhnya.
"Setelah ditelusuri, lembaga QC Pilkada Jabar yang menampilkan hasil RK menang versi QC adalah lembaga yg SAMA yang menampilkan hasil survey elektabiltas Ridwan unggul dan Sudrajat jeblok pada 6 bulan sampai dengan seminggu sebelum Pilkada. Lembaga yang hasil surveynya sudah terbukti keliru," imbuhnya lagi.
Akun yang kicauan-kicauannya pernah membongkar kecurangan Pilpres 2009 dan 2014 oleh Presiden ke-6 RI Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini kemudian membeberkan data sebagai berikut;
- Pelaksana Survey yang juga pelaksana QC Pilkada Jawa Barat; 1. Indo Barometer (13 Juni 2018). Hasil Survey Elektabilitas; Ridwan Kamil 36.9%, Sudrajat 6.1%. Terbukti hasil survey elektabilitas Indo Barometer KELIRU besar. Apakah mungkin kita bisa percaya hasil QC Indobarometer?
- Pelaksana Survey yag juga pelaksana QC Pilkada Jawa Barat; 2. SMRC (1 Juni 2018). Hasil Survey Elektabilitas dari SMRC: Ridwan Kamil 43.1%, Sudrajat 7.9 %. Terbukti hasil survey elektabilitas SMRC KELIRU besar. Apakah mungkin kita bisa percaya hasil QC SMRC?
- Pelaksana Survey yang juga pelaksana QC Pilkada Jawa Barat; 3. LSI Denny JA (22 Juni 2018). Hasil Survey Elektabilitas dari LSI Denny JA; Ridwan Kamil 42%,
Sudrajat 8.2%. Terbukti hasil survey elektabilitas LSI KELIRU besar. Mustahil kita percaya hasil QC LSI Denny JA.
- Pelaksana Survey yg juga pelaksana QC Pilkada Jawa Barat; 4. Poltracking (22Juni 2018). Hasil Survey Elektabilitas dari Poltracking. Ridwan Kamil 42%, Sudrajat 10.7%. Terbukti hasil survey elektabilitas POLTRACING KELIRU besar. Dungu kalau percaya hasil QC Poltracking!
- Pelaksana Survey yg juga pelaksana QC Pilkada Jawa Barat; 5. Instrat (22 Juni 2018). Hasil Survey Elektabilitas dari Instrat; Deddy M 38%, Ridwan Kamil 32%. Terbukti hasil survey elektabilitas Instrat tidak bisa dipercaya. Salah. Dungu kalau percaya hasil QC Instrat.
"Berdasarkan publikasi hasil survey elektabilitas paslon Pilkada Jawa Barat yang SUDAH terbukti keliru besar dengan tingkat kesalahan (error) berkisar 10-25%, khususnya terhadap elektabilitas Sudrajat Syikhu, maka kredibilitas dari hasil QC dari 5 lembaga itu = NOL," tegas @Ireneviena.
Ia pun menilai bahwa mustahil lima lembaga survey tersebut secara kebetulan semua SALAH dalam mengukur elektabilitas paslon Pilkada Jawa Barat, khususnya Sudrajat-Syaikhu. Kesalahan itu sangat mungkin DISENGAJA. Terbukti ketika hasil QC dari lima lembaga itu menampilkan RK sebagai pemenang.
Ia akhirnya berkesimpulan bahwa kelima lembaga survei itu berkolusi untuk mencurangi Pilkada melalui OPINi yang terbentuk dari hasil QC demi legitimasi pencurangan Pilkada Jabar.
Akun @SpiritLopa membongkar mengapa para lembaga survei tersebut berbuat demikian; karena pada 31 Mei 2018 lalu pernah diundang Presiden Jokowi ke Istana.
"Ternyata untuk rekayasa hasil survey dan QC Ccckk luar biasssa demokrasi kita. Lembaga survey yang dipanggil ke istana akhir Mei 2018 dan merekayasa hasil survey elektabilitas dan Quick Count Pilkada 2018: LSI, SMRC, Poltracking, Instead, Charta, Kompas. Gawat!!"
Tak mau kalah, akun @jokoedy6 malah berkicau begini; "Dari angka polling banding QC, jelas terbaca konspirasi perusahaan polling utk mendegradasi oposisi di Jabar dan Jateng. Itu bukan kesalahan, tapi kejahatan. Harus ada upaya hukum utk membalas kejahatan itu. Bisa di PMH," katanya.
Akun @KotakPandoras pun mencibir begini; "Lain kali kalau mau kolusi curang yang rapi ya! Lembaga survey yang dipanggil ke istana akhir Mei 2018 dan merekayasa hasil survey elektabilitas dan Quick Count Pilkada Juni 2018: LSI, SMRC, Poltracking, Instead, Charta, Kompas".
Hingga kini belum ada respon dari kelima lembaga survei yang dituding, meski kicauan akun-akun itu telah bermunculan sejak Kamis (28/6/2018).
Seperti diberitakan sebelumnya, saat siaran langsung QC di TVOne, Rabu (27/6/2018), hasil QC lembaga-lembaga survei yang bekerja sama dengan televisi swasta itu semuanya memenangkan pasangan Rindu.
Berikut datanya:
Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum
LSI : 32,62%
Indikator : 33,96%
Poltracking : 31,89%
Indobarometer : 32,22%
TB Hasanuddin-Anton Charliyan
LSI : 13,05%
Indikator : 11,55%
Poltracking : 12,91%
Indobarometer : 12,92^
Sudrajat-Ahmad Syaikhu
LSI : 27,88%
Indikator : 29,33%
Poltracking : 27,84%
Indobarometer : 28,54%
Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi
LSI : 26,45%
Indikator : 25,16%
Poltracking : 27,36%
Indobarometer : 26,31%
Persentase data suara masuk:
LSI : 86,22%
Indikator : 82,67%
Poltracking : 93,8%
Indobarometer : 85,33%
Data berbeda ditunjukkan Lembaga Kajian Pemilu Indonesia (LKPI) dan Indonesia Development Monitoring (IDM). Kedua lembaga survei ini justru merilis bahwa yang menang adalah pasangan Asyik.
LKPI mengklaim berdasarkan data dari 2.780 TPS di Jawa Barat, berikut ini hasil QC-nya:
1. Ridwan Kamil - UU Ruzhanul 30,41%
2. TB Hasanuddin -Anton Charliyan 11,17%
3. Sudrajat -Ahmad Syaikhu 30,93%
4. Deddy Mizwar- Dedi Mulyadi 27,49^
Sementara hasil QC IDM menyebut, berdasarkan data dari 3.573 TPS di Jabar dengan margin error +/- 1,6 persen dan tingkat kepercayaan 95%, berikut hasilnya:
1. Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum 32,67%
2. TB Hasanuddin – Anton Charliyan 9,43%
3. Sudrajat – Syaikhu 33,12%
4. Deddy Mizwar – Dedi Mulyadi 24,78%
Data terakhir yang diperoleh menyebutkan, berdasarkan perhitungan manual (real count) internal PKS di Hotel Preanger, Bandung, pada Rabu (27/6/2018) pukul 23:45 WIB data masuk ke tim pemenangan PKS berdasarkan form C1 sebanyak 32,6% atau 6,4 juta suara.
Dari perhitungan yang dilakukan, berikut hasilnya:
- Ridwan Kamil - Uu Ruzhanul Ulum 29,4%
- TB Hasanuddin - Anton Charlian 11,7%
- Sudrajat - Ahmad Syaikhu 33,1%
- Deddy Mizwar - Deddy 25,8%
Ketua tim Media Centre ASYIK, Teddy Setiady, mengatakan, pihaknya yakin trend kemenangan pasangan asyik akan terus berlangsung seiring dengan bertambahnya surat suara yang masuk. Apalagi karena saat ini pun KPUD kabupaten/Kota yang melaksanakan Pilkada, masih fokus menyelesaikan perhitungan Bupati/Walikota.
"Kami berpendapat, pasangan Rindu jangan terburu-buru melakukan klaim kemenangan karena data berbicara lain. Apalagi lembaga-lembaga survei sudah banyak offside dalam menyampaikan data," katanya. (rhm)







