Jakarta, Harian Umum-Rencana penerapan kenormalan baru atau new normal mendapat kritikan tajam dari mahasiswa. Sebab, kebijakan kenormalan baru yang dilontarkan Presiden Joko Widodo itu ditafsirkan beragam oleh bawahannya. Padahal, kasus positif Covid-19 di tanah air masih tinggi.
"Rakyat dipertaruhkan untuk kebijakan yang tidak mendasar. Entah apa motivasi pemerintah dalam situasi ini, yang jelas tampak ketidaktegasan presiden dalam mengambil keputusan sehingga terkesan mengorbankan bangsanya sendiri," ujar aktivis Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (Persis), Nanang Indrawan, di Jakarta, Jum'at (29/5).
Hal senada juga dilontarkan Dewan Pakar Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra. Menurutnya, langkah pemerintah pusat dalam mewacanakan kenormalan baru di tengah kasus covid yang semakin meningkat adalah tidak tepat.
"New Normal itu hal biasa dan memang harus dipersiapkan. Tetapi timingnya harus dilihat baik-baik. Kalau sekarang terlalu gegabah," kata Hermawan.
Sementara itu, sastrawan muda, Andri Nurkamal mengatakan, rencana penerapan kenormalan baru merupakan bentuk ketidakberdayaan negara dalam mengurus bangsanya.
"Sudah sejak lama kami acuh terhadap kinerja pemerintah, lebih tepatnya jengah. Namun kali ini, kami memandang perlu untuk bersuara kembali. Sebab kali ini, nyawa ratusan juta rakyat Indonesia dipertaruhkan. Jadi, pemerintah jangan gegabah mengambil kebijakan. Jangan lantas karena ketidakberdayaan, tampil seperti pahlawan membawa seberkas solusi," katanya. (hnk)







