Jakarta, Harian Umum - Citra Presiden Amerika Serikat AS Donald Trump makin terpuruk di mata Iran yang dia serang bersama Israel pada tanggal 28 Februari, dan menciptakan perang berkepanjangan hingga kini, dan mendongkrak harga minyak global.
Pasalnya, Trump kembali koar-koar mengancam akan menyerang Iran pada Selasa (19/5/2026) ini, bahkan mengatakan akan membuat Negeri Para Mullah itu tak bersisa, akan tetapi serangan itu dibatalkan.
"Setelah gagal dalam perang agresi melawan Iran, Presiden AS Donald Trump berharap mendapatkan poin melalui tekanan politik dan militer serta ancaman, tetapi sekarang ia terjebak dalam dilema," kata Tasnim News Agency, dikutip Selasa (19/5/2026).
Kantor berita semi-resmi Iran itu mengeritik Trump yang gemar membuat ancaman terhadap Iran, dan ancamannya itu hanya membuat pasar semakin cemas, sehingga harga minyak kembali terdongkrak.
"Ia membuat ancaman dan bahkan mencoba mengambil tindakan terhadap Iran jika memungkinkan. Namun, segera setelah ancaman Trump, harga minyak naik tajam. Hari ini, harga minyak hampir melonjak tajam hingga melampaui $110 per barel," kata Tasnim.
Di satu sisi, lanjut media Iran itu, Trump berpikir bahwa ia dapat memperoleh poin melalui tekanan dan ancaman dan bahwa ia tidak punya pilihan selain ancaman. Namun, ancamannya juga merugikan dirinya sendiri dan memberikan tekanan lebih besar pada AS.
"Ini adalah dilema serius yang dihadapi kepala pemerintahan AS yang teroris, sehingga ia tidak dapat mencabut ancaman dan menjadi realistis, dan ancamannya pun tidak membuahkan hasil," cemooh Tasnim.
Atas Permintaan Negara-negara Teluk
Dikutip dari Al Arabiya, Trump mengaku membatalkan rencana untuk melanjutkan serangan terhadap Iran yang dijadwalkan pada Selasa ini, karena permintaan pemimpin negara-negara Teluk yang menjadi sekutu AS, yaitu Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
“Saya telah diminta oleh Emir Qatar, Tamim bin Hamad Al Thani, Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman Al Saud, dan Presiden Uni Emirat Arab, Mohamed bin Zayed Al Nahyan, untuk menunda serangan militer yang direncanakan terhadap Republik Islam Iran, yang dijadwalkan Selasa, karena negosiasi serius sedang berlangsung. Menurut pendapat mereka, sebagai pemimpin dan sekutu yang hebat, sebuah kesepakatan akan dibuat, yang akan sangat dapat diterima oleh Amerika Serikat, serta semua negara di Timur Tengah, dan sekitarnya,” kata Al Arabiya mengutip Trump.
Pembatalan serangan itu diumumkan Trump pada Senin (18/5/2026) waktu AS melalui akun Truth Social-nya.
Sebelumnya, Trump tidak mengungkapkan bahwa waktu serangan adalah pada 19 Mei, tetapi pada unggahan hari Minggu (17/5/2026), ia memperingatkan Iran dengan kalimat sebagai berikut:"Bagi Iran, waktu terus berjalan, dan mereka sebaiknya segera bergerak, CEPAT, atau tidak akan ada yang tersisa dari mereka".
Trump telah mengancam Iran berkali-kali dan selama berminggu-minggu, sejak perundingan tanggal 11-12 April di Islamabad, Pakistan, gagal karena Iran menilai Trump mengajukan permintaan yang berlebihan. Dua proposal perdamaian yang diajukan AS, juga tidak menghasilkan kesepakatan karena Iran lagi-lagi menganggap syarat yang diajukan Trump berlebihan, sementara di sisi lain, Trump juga menolak syarat Iran karena dianggap tak masuk akal.
Ancaman-ancaman Trump yang mengiringi proposal-proposal itu juga tidak membuat Iran takut dan takluk, bahkan menantang melanjutkan perang.
Konstelasi ini membuat pasar cemas, dan harga minyak langsung meroket lagi setelah Trump mengancam akan membuat Iran tak tersisa.
Trump sempat "meminta bantuan" Presiden China Xi Jinping agar menekan Iran dan mau menyetujui persyaratannya, tapi sebagai sekutu Iran, Xi ternyata menolak
Apakah Trump akan kembali mengancam Iran? Kita tunggu. (man)







