Jakarta, Harian Umum - Ekonom sekaligus pengamat politik Ichsanuddin Noorsy mendudukkan Anies Baswedan sebagai juara pada Debat III Pilpres 2024 yang diselenggarakan KPU di Istora Senayan Jakarta dan ditayangkan secara langsung oleh sejumlah stasiun TV, Minggu (7/1/2024) malam.
"Secara teknis debat, Anies unggul, kedua Ganjar, dan ketiga (juru kunci) Prabowo," kata Noorsy.
Meski demikian, secara keseluruhan pada debat bertemakan pertahanan, keamanan, geopolitik dan hubungan luar negeri itu, semua Capres yang berdebat, yakni Capres nomor urut 1 Anies Baswedan, Capres nomor 2 Prabowo Subianto dan Capres nomor urut 3 Ganjar Pranowo, tidak banyak membahas soal tantangan internasional yang dibuat oleh sejumlah kaum cerdas cendekiawan tentang bagaimana mereka menghadapi tantangan-tantangan besar.
"Sepanjang debat, mereka hanya membahas persoalan-persoalan praktis dan konseptual. Untuk yang bersifat konseptual pun yang muncul ternyata cuma MEF (minimum esential force) yang sekitar 74,79%. Padahal, dalam tulisan saya, saya menyebut ini peperangan 5F. Jadi, kalau bicara tentang pertahanan, maka ini masuk pada food, financial, fuel, frequency dan fashion," katanya.
Khusus F yang kelima, yakni fashion, Noorsy menilai Anies.menyampaikan gagasan yang bagus, yakni gagasan tentang Rumah Kebudayaan dan Rumah Kuliner. Sebab, fashion adalah perang peradaban, perang budaya, dan Anies menjawabnya dengan Rumah Kebudayaan, Rumah Kuliner.
'Kalau rumah ini dianggap sebagai software-nya, sebagai bagian dari upaya menginvasi pihak atau negara lain, maka sudah terjadi oleh Korea Selatan dengan Drakor (drama Korea), budaya Korea dan K-Pop. Itu bagian dari perang budaya," katanya.
Negara-negara lain, lanjut Noorsy, China muncul dengan yang namanya Hongkong, India muncul dengan Bollywood, sementara Amerika dengan Hollywood.
"Anies memunculkan Rumah Kebudayaan, Rumah Kuliner. Artinya, Jepang aja ketinggalan dengan kelakuan Korea Selatan dalam rangka perang peradaban dan perang kebudayaan, apalagi Indonesia. Artinya, kalau mau bicara tentang keunggulan Budaya Nusantara, karena Anies kan bicara tentang keunggulan lewat Rumah Kebudayaan, Rumah Kuliner, maka strateginya harus lebih intens. Namun, Anies sadar betul kalau itu merupakan investasi, karena K-Pop pun didukung pemerintah Korsel dan film.Oshin yang diproduksi industri perfilman Jepang, itu juga didukung pemerintahnya," sambung Noorsy panjang lebar.
Noorsy lalu menyoroti soal etika pemimpin yang disinggung Anies ketika mengajukan pertanyaan kepada Prabowo, dan data Anies serta Ganjar yang oleh Prabowo dituding tidak lengkap. Menurut dia, memang ada hal-hal yang mestinya dikonkretisasi.
"Yang menarik adalah Prabowo, baik oleh Ganjar maupun Anies, terjebak secara mendasar. Prabowo terjebak ketika Ganjar menantang (Prabowo agar datanya yang dianggap keliru, dibuktikan), sementara Prabowo terjebak oleh Anies karena.Aniee mengajukan pertanyaan yang kelihatannya sepele, yakni tentang standar etik dengan pengadaan alutsista, padahal itu persoalan besar," jelas Noorsy.
Noorsy menggaris bawahi gagasan Anies tentang betapa pentingnya melahirkan seorang pemimpin (presiden) sebagai panglima diplomasi, karena sesuatu yang baru dari Anies.
"Yang menarik dalam pandangan saya adalah betapa pentingnya melahirkan panglima diplomasi yang diminta Anies ada pada presiden. Itu sesuatu yang baru. Jadi, Anies meminta para duta besar sebagai marketer di satu sisi, dan di sisi lain Anie meminta presiden sebagai panglima diplomasi," katanya.
Ia.menegaskan, kalau bicara tentang skor debat, Anies unggul dari Ganjar dan Prabowo.
"Tapi ini belum.selesaiz karena nanti menyangkut soal strategi lapangan," katanya.
Ketika disinggung tentang banyaknya pihak yang sebelum debat mengunggulkaan Prabowo, karena tema debat ketiga ini dinilai 'Prabowo Banget" karena pensiunan TNI dan saat ini menjabat sebagai Menhan, Noorsy mengatakan itu salah.
'Prabowo nggak unggul di debat ini, karena sejak awal kekuatan Prabowo adalah dalam konstruksi pertahanan. Kekuatan ini dapat diimbangi oleh Anies, dan ternyata Ganjar juga mengimbangi," pungkasnya. (rhm)







