Jakarta, Harian Umum- Polsek Pedurungan, Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu (14/2/2016) malam menggerebek sebuah rumah di Kecamatan Pedurungan karena diduga menjadi markas pengikut aliran sesat.
Dalam penggerebekan ini didapati 48 orang di dalam rumah tersebut, terdiri dari orang dewasa dan anak-anak.
"Dari laporan warga, rumah itu beberapa bulan terakhir selalu tertutup rapat. Orang-orang di dalam rumah juga jarang keluar, dan tidak berinteraksi dengan warga," jelas Kapolsek Pedurungan Kompol Mulyadi, Kamis (15/2/2018).
Perilaku para penghuni rumah itu membuat warga curiga kalau jangan- jangan di dalamnya terjadi praktik yang menyimpang, karena para orang dewasa di situ tidak bekerja dan anak-anaknya tidak sekolah.
Warga makin curiga karena lama-lama mereka tahu bahwa para penghuni rumah itu hanya berkegiatan di malam hari. Bentuknya seperti meditasi.
Selain itu, busana penghuni laki-laki kerap berupa sarung, sementara yang perempuan memakai jarit. Mereka juga menggunakan lampu minyak atau sentir dalam istilah Jawa, sebagai penerangan. Listrik mereka padamkan.
Saat didatangi petugas dan warga, rumah bekas bengkel itu dalam keadaan terkunci rapat. Meski diketuk dan polisi memberi salam, penghuni rumah tak kunjung membukakan pintu. Akhirnya, polisi dan warga membuka paksa pintu rumah itu.
Mulyadi menambahkan, saat penghuni rumah itu diinterogasi, diketahui kalau rumah milik warga bernama Rondiono alias Andi itu dihuni 11 kepala keluarga dengan 48 jiwa. Sebagian dari mereka merupakan warga Semarang dan sisa dari luar kota itu. Di antara merrka bahkan ada yang berstatus anggota Polisi Militer TNI Angkatan Laut.
Rondiono alias Andi mengaku, sengaja menutup kegiatannya dari dunia luar dengan maksud meninggalkan aktivitas duniawi demi mencari ketenangan.
"Sudah tiga bulan. Ya kembali ke alam. Noto awak (menata diri). Rencananya satu tahun baru keluar," ujarnya saat dimintai keterangan di kantor polisi.
Mengenai logistik kebutuhan sehari-hari, ia mengaku semua orang telah membawa sendiri-sendiri saat bergabung, seperti makanan, minuman serta kebutuhan lain.
Andi menolak kegiatannya bersama sejumlah orang itu disebut sebagai aliran sesat, karena katanya, ia membebaskan kelompoknya dalam beribadah. Dia bahkan tercatat warga yang ber-KTP Islam.
Polisi masih mengumpulkan keterangan tentang kegiatan janggal di rumah itu. Warga yang menghuni tempat itu akan dipulangkan hari ini. (man)







