Jakarta, Harian Umum - Dua orang provokator yang diduga dibayar untuk mendukung Paslon 02 Prabowo-Gibran, Selasa (5/3/2024) sore ditangkap massa Aliansi Nasional Penyelamat Demokrasi yang merupakan gabungan pendukung Paslon 01 Anies-Muhaimin (AMIN) dan Paslon 03 Ganjar-Mahfud di depan gedung DPR, Jakarta.
Pasalnya, mereka dan teman-temannyabmencoba memicu kekisruhan dengan melempari massa aliansi yang sedang berdemonstrasi di depan gedung DPR untuk menuntut penurunan harga Sembako, mendukung Hak Angket Kecurangan Pemilu 2024 dan pemakzulan Presiden Jokowi.
Awalnya, massa aliansi dan massa pendukung 02 sama-sama berdemonstrasi di depan DPR, tetapi di lokasi yang dipisahkan dengan pagar besi oleh polisi. Massa pendukung 02 yang menolak hak angket dan menolak pemakzulan Jokowi yang hanya berjumlah sekitar 100 orang, tak hanya kalah jumlah dengan massa aliansi yang mencapai ribuan orang, tapi juga kalah keras suaranya karena massa 02 hanya membawa satu mobil komando, sementara massa aliansi lima mobil komando.
Sekitar pukul 16:40 WIB, terlihat ada sekelompok orang dengan perawakan dari Indonesia Timur, sama dengan massa 02, berjalan ke arah massa aliansi dari arah flyover Senayan, dan tak lama kemudian terjadi keributan.
"Seorang ditangkap massa, tapi diamankan polisi itu provokator. Dia ngaku dibayar Rp85.000," kata Irvan, salah seorang saksi dari massa 02.
Saksi lain, Rena, mengatakan, sejak orang-orang yang berjumlah lebih dari.20 orang itu datang, ia dan kawan-kawannya telah curiga.
"Benar saja, di dekat massa kami mereka melempari massa kami dengan air mineral kemasan. Marahlah kami Seorang lari ke arah sini (depan Restoran Pulau Dua/, dan ditangkap. Tadinya mau saya pukuli, tapi tan-teman melarang. Sekarang dia diamankan polisi," katanya.
Provokator kedua ditangkap di dekat halte di depan gedung DPR.
"Tadi sudah disiram pakai air mineral dia, tapi diselamatkan polisi ke gedung DPR. Kalau nggak, mati dia," kata seorang ibu-ibu.
Penangkapan provokator kedua itu membuat sejumlah massa aliansi berkerumun di pintu masuk gedung DPR darimana biasanya para wartawan dan tamu masuk. Oleh polisi, antara pintu itu dengan trotoar diberi pagar.
Massa meminta koordinatornya diizinkan masuk gedung DPR.
"Biar koordinator kami tanyai dia, siapa yang nyuruh dia dan dibayar berapa dia," kata seorang ibu-ibu berikat kepala merah di kepalanya.
Namun, polisi tak mengizinkan koordinator itu masuk, sehingga ibu itu dan kawan-kawannya marah, serta mengguncang-guncang pagar untuk merobohkannya
Polisi datang dan meminta ibu itu dan kawan-kawannya menghentikan perbuatannya, sehingga sempat terjadi perdebatan dan pagar pun berhenti diguncang-guncang untuk dirubuhkan.
Ketua Umum Serikat Pekerja Sejahtera Independen 92 atau SBSI 92, Sunarti, yang juga menjadi saksi penangkapan provokator yang pertama, mengatakan kalau massa itu bisa mendekati massa aliansi karena seperti dibiarkan, bahkan seolah digiring polisi.
"Polisi seperti ingin mengadu domba rakyat yang hari ini sedang berjuang (menegakkan demokrasi). Seharusnya polisi netral, rakyat jangan diadu domba," katanya.
Sunarti bahkan meminta Kapolri mencopot Kapolres Jakarta Pusat dan Kapolda Metro Jaya karena tak bisa melindungi anak bangsa.
"Kaolda dan Kpolres harus tanggung jawab. kapolri harus mencopot mereka karena tak bisa melindungi segenap anak bangsa," katanya.
Seorang polisi yang berada di Halte DPR nampak dicaci maki seorang ibu-ibu karena katanya, bukan kali ini saja mereka harus berhadapan dengan provokator bayaran.
"Waktu kami demo di Bawaslu, hal seperti ini juga terjadi! Kami tidak takut, Pak, dengan orang-orang bayaran seperti itu! Mereka bukan kelas kami!" katanya.
Ketika polisi itu dikonfirmasi apakah benar para provokator itu sengaja dibiarkan mendatangi massa aliansi? Dia menjawab pendek.
"Saya nggak monitor, daritadi saya di sini," katanya. (rhm)







