Jakarta, Harian Umum - Nilai tukar rupiah melemah menuju ke level terendah sejak krisis 1998.
Pasalnya, nerdasarkan data Bloomberg, pada hari ini, Selasa (25/3/2025), rupiah ditutup terkoreksi 44 poin atau 0,27% dan berada pada level Rp16.611/dolar AS.
Mata uang Garuda sempat anjlok ke level Rp16.640/dolar AS, terparah sejak 1998, bahkan melewati titik tertinggi sebelumnya saat Covid-19 pada 23 Maret 2020.
Menurut Bisnis, titik tertinggi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terjadi pada 1998 yang sempat menyentuh level Rp16.800/dolar AS.
Pengamat Pasar Uang Ariston Tjendra menjelaskan, rupiah terus-menerus melemah karena kekhawatiran pasar soal perang dagang yang dipicu oleh kebijakan kenaikan tarif Trump.
"Perang dagang ini bisa memicu penurunan perdagangan global, sehingga perekonomian global menurun," katanya, Selasa (25/3/2025).
Selain itu, menurut dia, konflik perang di Timur Tengah dengan tensi yang masih tinggi, ditambah perang Ukraina dan Rusia yang juga belum bisa didamaikan.
Selanjutnya, dia menjelaskan bahwa dari dalam negeri, pasar juga sudah pesimis terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, sehingga menambah tekanan terhadap rupiah.
"Pelemahan rupiah yang cepat tentu bisa menurunkan kepercayaan pelaku pasar terhadap rupiah dan juga terhadap kemampuan pemerintah dan Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah," ujarnya.
Dia mengakui, apabila pelemahan rupiah bertahan lama, maka akan menambah beban utang pemerintah dan perusahaan yang berutang dalam dolar AS, sehingga memicu risiko gagal bayar apabila tidak dikelola dengan baik.
"Untuk sementara, intervensi (Bank Indonesia) memang diperlukan untuk menurunkan laju pelemahan rupiah," ucapnya.
Ariston menegaskan, pemerintah harus memperkuat perekonomian Indonesia, memperbesar ekspor, meningkatkan arus modal asing ke dalam negeri, dan memperkecil impor, sehingga rupiah bisa kembali stabil dan kuat. (man)


