Jakarta, Harian Umum - Tokoh nasional Rizal Ramli menilai rezim Jokowi makin keterlaluan, karena bukannya mencerdasakan dan memakmurkan rakyat, tapi malah melakukan pembodohan.
Dan menurut dia, tindakan seperti itu termasuk pelanggaran konstitusi.
"Sudah keterlaluan, dan biasanya kalau sudah keterlaluan harus diakhiri," kata Rizal saat tampil secara virtual dalam diskusi bertajuk "Rakyat mendukung Petisi 100: Makzulkan Presiden Jokowi Segera" di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (18/8/2023).
Mantan Menko Kemaritiman ini menjelaskan alasan mengapa pemerintahan Jokowi dinilai keterlaluan, yaitu karena pemimpin-pemimpin hari ini lebih banyak memberikan info yang tidak benar, tidak lengkap dan hanya satu versi, yakni versi pemerintah.
"Itu pembodohan dan mengkhianati konstitusi, karena konstitusi mengamanatkan pemerintah untuk mencerdaskan dan memakmurkan bangsa" katanya.
Rizal meminta pemerintah memberikan informasi yang menyeluruh dan komprehensif, termasuk dalam masalah politik.
Ia pun mengeritik pidato kenegaraan Presiden Jokowi saat sidang tahunan MPR, Rabu (16/8/2023), karena menurutnya, pidato Jokowi itu jelek sekali dan mengecewakan.
"Pidato kenegaraan itu biasanya diikuti kalangan bisnis luar negeri, analis, karena kita bisa baca perkembangan situasi yang benar dan masalah-masalah yang akan dihadapi tahun depan, dan apa langkah mengantisipasinya. Ini nggak ada sama sekali, cuma curhat, cuma minta dikasihani, dan tidak bicara hal-hal yang penting," katanya.
Ia juga menilai kalau tugas presiden untuk menyejahterakan rakyat tidak dijalankan oleh Jokowi.
"Dia cenderung berorientasi ke proyek, pejabatnya juga pendekatannya lebih ke proyek. Kan ada tuh data kalau 30% biaya proyek infrastruktur dikorupsi. Sementara 40% masyarakat Indonesia miskin. Penurunan angka kemiskinan di era Jokowi paling lambat dalam sejarah Indonesia," katanya.
Rizal juga menyoroti soal harga kebutuhan dasar dan biaya pendidikan yang makin mahal.
"Sebagai negara agraris, seharusnya Indonesia bisa menjadi lumbung pangan, tapi hampir semua kebutuhan pangan diimpor. Ini kegagalan Jokowi sebagai presiden," tegasnya.
Dalam diskusi yang juga menghadirkan Amien Rais, Ubedilah Badrun, Presiden ASPEK Indonesia Mirah Sumirat, Habib Muchsin Al-attas dari FKN, Marwan Batubara, dan Abdullah Hehamahua ini, serta dimoderatori HM Muraalin, menguat keinginan untuk memakzulkan Jokowi secepatnya.
Di antara pembicara itu bahkan ada yang mengatakan bahw, dengan adanya kesepakatan Jokowi dengan Presiden China Xi Jinping beberapa waktu lalu, bangsa Indonesia saat ini sebenarnya tengah berkejaran dengan waktu.
"Karena kalau kita terlambat, Indonesia bisa jadi bagian dari China," katanya. (man)







