Jakarta, Harian Umum- Kepolisian menangkap seorang pelaku pembuat rekaman hoaks tentang adanya tujuh kontainer yang mengangkut surat suara tercoblos di Tanjung Priok, Jakarta Utara.
"Ya (ditangkap), inisial tersangka atas nama B, ditangkap di Bekasi," ujar Kabiro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo saat dikonfirmasi, Selasa (8/1/2019) sore.
Dedi belum mau menjelaskan secara detail identitas lelaki yang ditangkap pada Selasa tersebut, dan apa motifnya melakukan hal tersebut.
Meski demikian ia mengatakan, saat ini B masih diperiksa di Direktorat Siber Bareskrim Polri.
Seperti diketahui, hoaks ini menggemparkan karena membuat Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief dilaporkan Guntur Romli, pendukung pasangan nomor urut 01 pada Pilpres 2019, Jokowi-Ma'ruf Amin, karena Andi mencuitkan hoaks itu melalui akun Twitter-nya.
Namun Andi tak mau tinggal diam, karena menurut dia, dalam cuitannya dia menyertakan kalimat "Mohon dicek" dan "Agar tidak menjadi fitnah", yang menunjukkan bahwa dia justru ingin kabar itu dicek guna mendapatkan kepastian, bukan menyebar hoaks.
Andi lalu balik melaporkan Guntur Romli dan para pendukung Jokowi yang lain yang ikut memojokkan dirinya akibat cuitan itu. Mereka yang ikut dilaporkan di antaranya adalah Jubir Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi- Ma'ruf, Arya Sinulingga; dan Sekjen PDIP Hasto Kritiyanto.
Tak berhenti sampai di situ, Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) juga kemarin melaporkan Komisioner KPU Pramono Ubadid Tanthowi ke DKPP karena mengatakan kalau cuitan Andi itu merupakan sesuatu yang telah didesain.
Rekaman yang dibuat B tentang tujuh kontainer surat suara pemilu yang sudah tercoblos, tersebar melalui sejumlah platform seperti YouTube dan WhatsApp.
Berikut isi pernyataan lelaki dalam rekaman itu yang diduga merupakan duara B: "Ini sekarang ada tujuh kontainer di Tanjung Priok sekarang lagi geger, mari sudah turun. Dibuka satu. Isinya kartu suara yang dicoblos nomor 1, dicoblos Jokowi. Itu kemungkinan dari Cina itu. Total katanya kalau 1 kontainer 10 juta, kalau ada 7 kontainer 70 juta suara dan dicoblos nomor 1. Tolong sampaikan ke akses, ke pak Darma kek atau ke pusat ini tak kirimkan nomor telepon orangku yang di sana untuk membimbing ke kontainer itu. Ya. Atau syukur ada akses ke Pak Djoko Santoso. Pasti marah kalau beliau ya langsung cek ke sana ya".
Kabar ini dinyatakan hoaks setelah KPU dan Bawaslu melakukan pengecekan ke Pelabuhan Tanjung Priok bersama Bea Cukai, dan tidak menemukan tujuh kontainer surat suara yang dimaksud. (rhm)







