Jakarta, Harian Umum - Persediaan rudal pencegat rudal balistik Patriots dan THAAD (Terminal High Altitude Area Defense) milik Amerika Serikat (AS) menipis akibat perang dengan Iran.
Hal itu diketahui berdasarkan analisis Mark F. Cancian dan Chris H. Park dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang dirilis Senin (27/7/2026).
Dikutip dari situs CSIS, Kamis (30/7/2026), pada 27 Februari 2026 atau sehari sebelum AS dan Israel menyerang Iran, persediaan Patriot masih sebanyak 2.330 unit; saat gencatan senjata pada 8 April 2026, persediaan Patriot sebanyak 1.030 unit; dan pada 27 Juli 2026 atau saat perang berlanjut setelah gencatan senjata, persediaan Patriot tersisa 759 - 827 unit atau berkurang 65%.
Sementara untuk THAAD, pada 27 Februari 2026 persediaan sebanyak 452 unit; pada 8 April 2026 berkurang menjadi 232 - 262; dan pada 27 Juli 2026 tersisa 234 - 278 unit.
"Pasukan AS menembakkan banyak amunisi pertahanan udara selama fase pertama Operasi Epic Fury. Dimulainya kembali operasi tempur telah mengurangi persediaan lebih lanjut, meskipun peluncuran Iran sejauh ini berada pada tingkat yang lebih rendah daripada sebelum gencatan senjata," kata Cancian dan Park dikutip dari website CSIS.
Kampanye pertahanan udara, lanjut mereka, sebagian besar berhasil dengan tingkat intersepsi yang tinggi—meskipun tidak sempurna.
"Meskipun beberapa serangan Iran berhasil melewati pertahanan, menyebabkan korban jiwa dan kerusakan pangkalan yang luas, serangan-serangan ini belum mampu mengurangi operasi AS dan koalisi. Hal ini membutuhkan penggunaan interseptor secara ekstensif, dengan persediaan Patriot sekarang di bawah 1.000 dan persediaan THAAD sekitar 250," imbuh mereka.
Menurut keduanya, berkurangnya persediaan dapat memaksa AS dan mitra koalisinya untuk mengambil lebih banyak risiko dengan intersepsi.
"Tidak ada alternatif yang baik untuk Patriot dan THAAD untuk pertahanan rudal balistik. Kapal Angkatan Laut, dengan Rudal Standar yang dapat mencegat ancaman tersebut, umumnya terlalu jauh," kata mereka.
Cancian dan Park beranggapan, amunisi yang telah digunakan menciptakan risiko jangka pendek hingga menengah bagi kesiapan AS untuk berperang melawan China di Pasifik barat.
"Permintaan anggaran amunisi pemerintahan Trump sebesar $95 miliar dalam anggaran pertahanan tahun fiskal 2027 dan $21 miliar dalam anggaran tambahan perang mencerminkan urgensi ini," katanya.
CSIS memperkirakan akan membutuhkan setidaknya tiga tahun (hingga pertengahan 2029) untuk mengembalikan persediaan ke tingkat pra-perang berdasarkan kapasitas manufaktur saat ini. (man)







