Jakarta, Harian Umum- Sedikitnya 384 korban telah dinyatakan tewas di Kota Palu, Ibukota Sulawesi Tengah (Sulteng), akibat gempa bermagnitudo 7,4 SR yang mengguncang dari wilayah Donggala pada Jumat (28/9/2018) pukul 17:02:44 WIB yang memicu tsunami hingga setinggi 6 meter.
Gempa ini luar biasa dahsyat, karena tak hanya membuat akses ke Palu terputus akibat terbelahnya jalan, putusnya jembatan dan matinya sarana telekomunikasi, namun juga membuat Donggala sulit dijangkau akibat kondisi yang sama.
Wapres Jusuf Kalla memperkirakan, jumlah korban tewas bisa lebih dari 1.000 orang karena saat Tim SAR melakukan penelusuran, ditemukan banyak !ayat bergelimpangan di pantai, dan di antara bangunan yang roboh, termasuk sebuah hotel di Palu.
Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyetakan, gempa kuat ini dipicu pergeseran sesar atau patahan Palu-Koro yang berada di Pulau Sulawesi.
Yang lebih dahsyat, gempa berpusat di daratan pada kedalaman 10 kilometer tersebut (gempa dangkal) mampu memicu gelombang mematikan dari dasar laut.
"Sesar Palu Koro merupakan patahan lempeng bumi dengan pergerakan terbesar kedua di Indonesia setelah patahan Yapen di Kepulauan Yapen, Papua Barat. Patahan ini sangat aktif, setiap tahun bergesar 35-46 mm," jelas Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho saat jumpa pers di kantornya di Jakarta, Sabtu (29/9/2018).
Palu Koro telah beberapa kali melepaskan energi yang memicu gempa, seperti yang terjadi pada 1998, 2005, 2008, dan 2012. Sesar ini bahkan pernah menyebabkan gempa bermagnitudo 7,9 SR, sehingga daerah yang dilalui sesar inj menjadi daerah rawan gempa dan tsunami.
Inilah track record Palu-Koro dari masa ke masa:
1. 1 Desember 1927
Ini adalah gempa paling tua di sesar Palu Koro. Gempa saat itu berkekuatan 6,5 SR yang disusul tsunami. Korba meninggal mencapai 14 ornag.
2. 30 Januari 1930
Gempa terjadi di pantai barat Kabupaten Donggala. Tak tercatat berapa kekuatan gempa saat itu. Namun menurut Sutopo, gempa menyebabkan tsunami setinggi dua meter.
3. 14 Agustus 1938
Gempa terjadi dengan kekuatan 6 SR di Teluk Tambu, Kabupaten Donggala. Saat itu gempa menimbulkan tsunami setinggi 8-10 meter di pantai barat Donggala.
Sebanyak 200 orang meninggal dan 790 rumah rusak akibat gempa dan tsunami itu. "Seluruh desa di pesisir pantai barat Donggala hampir tenggelam," kata Sutopo.
4. 1 Januari 1996
Gempa dengan kekuatan 7,4 SR berpusat di selat Makassar mengakibatkan tsunami di pantai barat Kabupaten Donggala dan Toli-Toli.
Masih pada tahun 1996, Sutopo gempa terjadi di Desa Bankir, Tonggolobibi dan Donggala mengakibatkan sembilan orang tewas dan bangunan rusak parah.
Gempa juga menyebabkan tsunami dengan ketinggian gelombang 3,4 meter menyapu hingga 300 meter ke daratan.
5. 11 Oktober 1998
Kabupaten Donggala kembali digoncang gempa dengan kekuatan 5,5 SR. "Ratusan bangunan rusak parah akibat gempa," kata Sutopo.
6. 24 Januari 2005
Gempa Donggala berkekuatan 6,2 SR. Pusat gempa terletak di 16 km arah tenggara Kota Palu. Akibatnya, 100 rumah rusak, satu orang meninggal dan empat orang luka-luka.
7. 17 November 2008
Gempa dengan kekuatan 7,7 SR di Laut Sulawesi dan mengguncang Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah dan menelan empat korban jiwa.
8. 18 Agustus 2012
Gempa menguncang Kabupaten Sigi dengan kekuatan 6,2 SR. Delapan orang meninggal dan tiga kecamatan terisolir.
(rhm)





