Jakarta, Harian umum- Masa krisis akibat pandemi seperti saat ini sejatinya telah memporak porandakan seluruh sektor kehidupan masyarakat Indonesia. Namun demikian, pendidikan harus punya peranan penting dalam kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara.
Adalah Zita Anjani, wakil ketua DPRD DKI Jakarta dari fraksi PAN dalam keterangan tertulisnya mengungkapkan pengalaman dalam menjalankan tugas, peran dan fungsinya sebagai wakil rakyat dalam rangka meninjau kondisi objektif keluarga kurang beruntung di DKI Jakarta yang harus dengan susah payah mengikuti pola pendidikan jarak jauh (PJJ) besutan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim ditengah krisis ekonomi akibat pandemi covid-19.
"Dalam perjalanan saya, ketika semakin dalam memasuki gang-gang rumah warga, ada bendera merah putih yang tegak dan di kibarkan di sana. Seketika, saya teringat perjuangan para pahlawan untuk kemerdekaan. Tidak hanya dengan pertarungan bambu runcing, tapi dengan dunia pendidikan yang sama-sama di jinjing. Harapannya, kelak Indonesia akan maju dan makmur, dengan menyiapkan penerus bangsa melalui pendidikan yang bisa tumbuh subur," tulisnya melalui pesan WhatsApp, Rabu (28/7).
Putri mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) ini mengajak masyarakat untuk kembali membuka riwayat pendidikan di Indonesia pada saat Menteri Pendidikan dipimpin oleh Anies Baswedan. Ia mengingatkan bahwa Indonesia saat itu sedang mengalami darurat pendidikan dikarenakan rendahnya kualitas pengajaran hasil pembelajaran yang buruk serta fasilitas yang tidak memadai.
"Dulu, ketika Bapak Gubernur kita duduk sebagai Menteri Pendidikan, beliau pernah berujar, bahwa Indonesia tengah mengalami darurat pendidikan. Di karenakan rendahnya kualitas pengajaran, hasil pembelajaran yang buruk, dan fasilitas yang tidak memadai," tambahnya.
Tokoh perempuan yang sangat peduli terhadap pendidikan ini mengisahkan pengalaman nya saat bertemu dengan seorang ibu rumah tangga ketika seorang diri mesti berjibaku menghidupi serta menyekolahkan anaknya ditengah situasi serba sulit seperti masa sekarang.
"Bagaimana tidak? Jika seorang single parent harus bersusah payah menjual es dan gorengan demi menghidupi kedua anak dan 1 ponakan. Sekarang harus ikut menemani mereka belajar karena butuh pendampingan. Akhirnya, waktu untuk mencari nafkah terpotong demi mendampingi anak, atau, pendidikan anak yang harus di korbankan demi mencari nafkah. Belum lagi hanya ada 1 gadget untuk sekolah 3 anak. Sungguh sangat berat saya melihatnya," jelasnya.
Melihat kenyataan hidup masyarakat bawah hari ini, dimasa krisis pandemi semacam ini, Zita merasa betul-betul prihatin terhadap kondisi pendidikan negeri ini. Alih-alih membenahi sistem pendidikan guna merecovery bangsa, namun nyatanya sistem pendidikan ini malah ikut terpuruk.
"Detik ini, hari ini, apabila masih belum ada yang mengakui itu. Maka saya orang pertama yang akan berujar sekali lagi, “INDONESIA DARURAT PENDIDIKAN. Tidak hanya Covid-19 yang akan merenggut nyawa. Selanjutnya, kebijakan pendidikan yang akan merenggut masa depan anak bangsa," keluhnya.
Terakhir, wakil rakyat dari kalangan perempuan ini mengajak semua pihak turut menumbuhkan kesadaran dengan melihat secara langsung kondisi masyarakat kecil yang harus mempertahankan hidup sekaligus memenuhi kebutuhan pendidikan anak mereka.
"Mungkin tidak berat bagi mereka yang memiliki pendamping anak di rumah, orangtuanya bisa fokus dengan bekerja dari rumah, atau keluar bekerja meninggalkan anaknya. Selagi kebutuhan anak terpenuhi. Tapi tidak untuk mereka yang saya temui, sungguh lebih banyak jumlahnya jika bapak/ibu ingin turun langsung melihatnya, cobalah," tutupnya. (hnk)







