Jakarta, Harian Umum-Duka yang mendalam masih menyelimuti keluarga besar Pemerintah Provinsi DKI usai kepergian Sekretaris Daerah DKI Jakarta, Saefullah. Sejumlah kalangan mengusulkan agar Saefullah mendapatkan penghargaan Museum Rekor Indonesia (Muri) atas dedikasinya.
"Pasca pelantikan Ahmad Riza Patria sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta kemarin, saya sempat lontarkan usulan agar pak Saefullah mendapatkan penghargaan MURI karena telah menjabat sebagai Sekda selama 4 periode gubernur, bahkan lima gubernur dengan Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta, Soni Sumarsono," ujar Ketua Aliansi Masyarakat Jakarta (Amarta) Rico Sinaga, di Jakarta, Kamis (17/9).
Menurutnya, sederet prestasi telah diraih Saefullah selama karirnya di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Hal ini menjadi bukti bahwa Saefullah Layak diberi penghargaan Muri dan dipercaya oleh Kepala Daerah dari beragam kalangan. Mulai Joko Widodo, Basuki Tjahaja Purnama, Soni Sumarsono, Djarot Syaiful Hidayat dan Anies Baswedan.
"Bang Ipul kan Lahir 11 Februari 1964, rencananya Amarta mengusulkan untuk pemberian MURI saat Milad alm 11 Februari 2021 tahun depan. Saat Sutiyoso (Bang Yos) masih Gubernur, saya sebagai Ketua LP3D (Lembaga Penelitihan Pengembangan Pemerintahan Daeran) mengusulkan penghargaan MURI karena Sutiyoso Gubernur 5 Presiden, yakni Presiden Soeharto Habibi, Gus Dur (Abdurahman Wahid), Megawati Soekarnoputri dan Soesilo Bambang Yudhoyono. Tapi sekarang bang Ipul telah meninggalkan kita semua," katanya.
Terpisah, Mantan Kepala Badan Kepegawaian Daerah, Agus Suradika yang juga diberi amanah sebagai Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) DKI Jakarta memberikan kesaksian atas dedikasi Saefullah sebagai guru yang ada di puncak karir PNS. Saat itu, Agus Suradika mengeluhkan tentang rendahnya pendapatan guru di sekolah-sekolah swasta.
"Sebagai mantan guru dan pernah menjadi Wakil Kepala Dinas Pendidikan Dasar Provinsi DKI Jakarta tentu saja beliau dengan sangat mudah dapat memahami pemaparan saya. “jadi, usul kongkritnya apa Prof ?”. tanya beliau dengan serius. “Kita selayaknya memberikan tambahan pendapatan kepada mereka Bang” jawab saya. “Mekanismenya bagaimana”? tanyanya lagi. “Hibah melalui PGRI atau Lembaga lainnya yang memenuhi syarat dan memiliki kemampuan untuk menyalurkan hibah”, jawab saya," tutur Agus.
Sebagai pejabat yang mengetuai penyusunan RAPBD DKI Jakarta, lanjutnya, Saefullah sangat paham dengan mekanisme tersebut. Usulan hibah ke PGRI pun dibahas dan masuk APBD DKI Jakarta. Hingga kini, hibah untuk membantu kesejahteraan guru swasta itu pun masih terus dianggarkan sebagai komitmen Pemda DKI Jakarta dalam meningkatkan kesejahteraan guru sekolah swasta di DKI Jakarta.
"Saya berkeyakinan, keputusan itu beliau ambil karena pemahaman beliau yang mendalam mengenai pentingnya kesejahteraan guru dalam meningkatkan kualitas Pendidikan di DKI Jakarta. Saya semakin meyakini bahwa bang Ipul sangat perhatian pada upaya memajukan pendidikan di DKI Jakarta. Setiap ada perhelatan PGRI beliau selalu menyempatkan hadir dan dengan bangga menggunakan seragam batik Kusuma Bangsa PGRI. Pada masa beliau juga lahir tradisi tabur bunga di makam pahlawan Jakarta Muhammad Husni Thamrin pada setiap hari ulang tahun PGRI. Bang Ipul memang guru sejati. Guru yang tak banyak bicara tetapi banyak memberi keteladanan," jelasnya.
Dari data Badan Kepegawaian Daerah, ayah dari Fatwa Arifah, Islah Muttaqin, Mutia Khairani dan Muhammad Saiful Rahman ini menorehkan banyak penghargaan. Yakni Satya Lencana Karya Satya 10 tahun dari Presiden RI tahun 1994, Satya Lencana Karya Satya 20 tahun dari Presiden RI tahun 2004, Satya Lencana Karya Satya 30 tahun dari Presiden RI tahun 2014, Penghargaan masa kerja 15 tahun dari Gubernur DKI Jakarta tahun 1999, Penghargaan masa kerja 20 tahun dari Gubernur DKI Jakarta tahun 2004, dan Penghargaan masa kerja 30 tahun dari Gubernur DKI Jakarta tahun 2014. (hnk)







