Jakarta, Harian Umum- PT Jakarta Tourisindo (Jaktour Group), salah satu BUMD milik Pemprov DKI Jakarta, saat ini tengah memasuki tahap penyehatan setelah pada 2015-2016 mengalami keterpurukan dan sempat mengalami defisit hingga Rp19,7 miliar.
Tahap penyehatan ini mulai dilakukan setelah Gubernur Anies Baswesan pada akhir Agustus 2017 merombak jajaran direksi dan komisaris perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan dan pariwisata itu dengan menempatkan Geraard Jeffrey Zacharias Rantung sebagai direktur utama; Mulyanis Putra sebagai direktur administrasi dan keuangan; Iskandar Zulkarnain sebagai direktur usaha dan pemasaan; dan aktivis Budi Siswanto serta mantan Walikota Jakarta Pusat Mangara Pardede sebagai komisaris.
"Pada 2015-2016 Jaktour merugi, menurut hasil evaluasi kami, karena beberapa sebab. Antara lain karena fasilitas hotel yang kurang mampu bersaing, dan adanya miss management," kata Geraard dalam acara Media Gathering PT Jakarta Tourisindo di Grand Cempaka Resort and Convention, Puncak, Bogor, Jawa Barat, Rabu (20/3/2019).
Ia menambahkan, untuk memperbaiki kondisi itu, "arnada baru" Jaktour melakukan transformasi bisnis yang dimulai dengan pelaksanaan leadership camp pada Oktober-Desember 2017, dan diikuti 500 karyawan yang dibagi dalam empat angkatan.
'Leadership camp ini menghasilkan Reborn Declaration yang memuat visi, misi dan tata nilai Jaktour Group yang baru," katanya.
Pada Desember 2017, Jaktour meluncurkan program Re-Branding yang dihadiri Sandiaga Uno yang saat itu masih menjabat sebagai Wagub DKI Jakarta. Dalam acara ini, Jaktour memperkenalkan logo baru dan menyampaikan rencana membentuk divisi-divisi usaha baru untuk menggenjot pertumbuhan perusahaan. Divisi-divisi tersebut di antaranya adalah JakHotel, JakF&B (Food and Baverage), JakMice, JakEdu, JakTravel, JakLeisure dan JakInfotech.
Diakui, pembentukan divisi-divisi ini membuat struktur Jaktour menjadi lebih gemuk, namun ia meyakini bahwa divisi-divisi itu akan mampu mendorong Jaktour untuk mencapai visi menjadi perusahaan berdaya saing, bernilai dan berkelas dunia dalam bidang perhotelan dan Pariwisata.
Ia mencontohkan Divisi JakHotel yang khusus fokus mengelola enam hotel yang dimiliki Jaktour, di antaranya Grand Cempaka Business Hotel, d'Arcici Al Hijra Hotel Cempaka Putih dan d'Arcici Hotel Sunter.
Divisi ini, kata dia, bertanggung jawab untuk meningkatlan fasilitas dan layanan hotel agar setara dengan hotel berbintang lainnya.
"Gubernur menyarankan agar bila mungkin fasilitas yang ada direvitalisasi, dan kami sedang menjajaki kemungkinan untuk bekerjasama dengan perusahaan lain dengan sistem KSO (kerjasama operasi) atau BOT (build, operation, transfer)," katanya.
Geraad mengakui, untuk menjadikan Jaktour sebagai perusahaan yang sehat, tak hanya dibutuhkan strategi dan inovasi, namun juga biaya yang tidak sedikit. Karenanya, pada 2018 lalu Jaktor mendapat PMD (penyertaan modal daerah) dari Pemprov DKI sebesar Rp6,5 miliar. Pada 2019 ini melalui PMD Perubahan, Jaktour mendapatkan kucuran Rp281 miliar dan pada 2020 mendatang direncanakan mendapat PMD sebesar Rp174 miliar.
"Alhamdulillah, berkat beragam upaya yang kami lakukan, pada 2018 lalu kami dapat mengurangi kerugian hingga Rp4,2 miliar," katanya
Komisaris Jaktour Group Budi Siswanto mengatakan, faktor utama miss management yang dialami Jaktour pada 2015-2016 bukan diakibatkan kasus korupsi, melainkan akibat beban pajak yang lebih besar dibanding income.
"Grand Cempaka Resort and Convention ini saja yang memiliki luas sekitar 13 haktare, PBB (Pajak Bumi dan Bangunan)-nya mencapai Rp500 juta. Belum PBB hotel-hotel lain dan PBB lahan di Jalan TB Simatupang yang rencananya akan dibangun menjadi park and ride," katanya.
Ketua Forum Bersama Jakarta (FBJ) ini pun mengakui, untuk mengatasi hal ini. Ia telah ke BPRD (Badan Pajak dan Retribusi Daerah) untuk mendapatkan keringanan, sementara di sisi lain semua divisi digenjot untuk dapat bekerja maksimal.
"Ke depan, kita tak ingin ada aset yang hanya menjadi beban pajak bagi perusahaan. Semua potensi harus dimaksimalkan. Promosi-promosi juga akan ditingkatkan," katanya.
Direktur Usaha dan Pemasaran Jaktour, Iskandar Zulkarnain, mengatakan, untuk menaikkan pendapatan, pihaknya kini juga menerapkan pola audiensi ke SKPD-SKPD dan BUMD agar jika menyelenggarakan suatu acara atau event, mereka menggunakan fasilitas yang dimiliki Jaktour.
"Alhamdulillah, sudah banyak hasilnya. Hari ini saja Satpol PP membuat acara di salah satu hotel kita, yakni Hotel Grand Cempaka Business Hotel, dan setelah lebaran nanti Disorda akan menggelar Jambore di Grand Camp Grand Cempaka Resort and Convention. Selama ini, Disorda menyelenggarakan Jambore di Cibubur," katanya. (rhm)







