Jakarta, Harian Umum- Ketua Umum Persaudaraan Alumni (PA) 212, Slamet Ma'arif mengajak pendukung Prabowo-Sandi mendatangi stasiun televisi yang masih saja menayangkan hasil quick count (QC) lembaga survei.
Pasalnya, QC itu selain dianggap tidak akurat, juga membodohi masyarakat.
"Siapapun yang melakukan kecurangan pada Pemilu 2019, berarti telah mengkhianati rakyat dan menzalimi rakyat," katanya dalam acara syukuran BPN Prabowo-Sandi di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Jumat (19/4/2019).
Ia menegaskan, perbuatan curang tersebut tidak dapat diterima, dan dia bertanya kepada ribuan hadirin yang memadati acara ini.
"Kepada yang curang, kita harus apa?" katanya.
"Lawan ....!!!" jawab hadirin.
Slamet sepakat, dan dia mengatakan, jika besok (Sabtu, 20/4/2019) masih ada televisi yang menayangkan hasil QC lembaga survei, akan didatangi, karena QC itu terindikasi hanya membohongi masyarakat karena tidak sesuai dengan hasil perhitungan di TPS-TPS.
"Qick count itu pesanan dari orang-orang yang galau, yang takut kalah dan tidak bisa berkuasa lagi. Tujuannya untuk memggiring opini bahwa pihak sono lah yang menang Pilpres. Siap melawan ..?!!" tanyanya lagi.
"Siaappp ....!!" jawab hadirin.
"Siap bergerak ....?!!!"
"Siaaap ....!!!"
Imbauan untuk melawan juga disampaikan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Rachmawati Soekarnoputri. Adik kandung Ketua Umum.PDIP Megawati Soekarnoputri itu bahkan menangis saat menyampaikan imbauannya.
"Mencurangi pemilu itu perbuatan zolim, dan selama ini pemerintah memang suka memutarbalikkan fakta," katanya.
Ia lalu menangis dan tak mampu meneruskan kata-katanya karena sedih melihat apa yang dialami Prabowo pada Pilpres 2019, yakni dicurangi. Ia bahkan mengatakan; "Suara Pabowo akan diambil".
Ia lalu mengimbau agar pendukung Prabowo-Sandi siaga menunggu hasil real count KPU, namun ia juga mengatakan, jika KPU juga curang saat melakukan real count, dan tidak memenuhi keadilan, maka harus dilawan.
Seperti diketahui, kubu 01 Jokowi-Ma'ruf Amin mengklaim kemenangan berfasarkan hasil quick count yang dilakukan sejumlah lembaga survei yang ditayangkan secara langsung oleh televisi.
BPN Prabowo-Sandi memprotes quick count itu karena selain hanya menjadikan 2000 dari 800.000 lebih TPS sebagai sampel, juga karena di banyak TPS di Tanah Air, Prabowo menang.
Bahkan berdasarkan hitungan manual BPN, pihaknya menang dengan perolehan suara 62%. (rhm)







