Jakarta, Harian Umum - Sebuah laporan baru dari The New York Times (NYT) mengungkapkan bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memutuskan untuk menyerang Iran setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melakukan presentasi tertutup dengannya.
Pertemuan di Ruang Situasi pada 11 Februari 2026 itu membicarakan empat rencana untuk mengganti rezim Revolusi Iran, di mana dalam pertemuan itu juga ditampilkan video tentang orang-orang yang potensial untuk menjadi pemimpin baru Iran, salah satunya Reza Pahlavi.
'Wakil Presiden JD Vance waktu itu tidak hadir karena sedang berada di Azerbaijan, sedang Netanyahu didampingi kepala Mossad David Barnea dan para pejabat militer Israel,," kata Al Mayadeen mengutip NYT, Rabu (8/4/2026).
Dalam pertemuan itu, Netanyahu mengklaim bahwa program rudal balistik Iran dapat dihancurkan dalam beberapa minggu, dan ia menuduh rezim tersebut akan terlalu lemah untuk menutup Selat Hormuz, sementara protes jalanan dapat memicu pemberontakan karena didukung Mossad, dan pejuang Kurdi dari Irak dapat membuka front darat di barat laut.
"Trump dilaporkan menjawab: "Kedengarannya bagus bagi saya"," sambung Al Madayeen.
Penolakan intelijen dan militer sia-sia
Keesokan harinya, para pejabat intelijen AS dilaporkan menolak dengan keras rencana Trump menyerang Iran. Direktur CIA John Ratcliffe menyebut skenario perubahan rezim itu "konyol," sementara Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan; "Dengan kata lain, itu omong kosong".
Ketika Trump meminta masukan dari Jenderal Dan Caine, sang Jenderal menjawab: “Menurut pengalaman saya, ini adalah prosedur operasi standar bagi Israel. Mereka terlalu membesar-besarkan, dan rencana mereka tidak selalu matang”.
Terlepas dari kritik tersebut, Trump menepis rencana perubahan rezim sebagai “masalah mereka”, tetapi tetap fokus pada penargetan kepemimpinan dan militer Iran.
Pemerintah memutuskan mendukung perang, meskipun ada risiko
Pada 26 Februari, pertemuan terakhir di Ruang Situasi mengungkapkan penentangan yang jelas tetapi terpecah-pecah. Wakil Presiden JD Vance memperingatkan bahwa perang dapat meluas dan menguras sumber daya AS, tetapi akhirnya mengatakan, “Anda tahu saya pikir ini ide yang buruk… tetapi saya akan mendukung Anda".
Rubio mengakui bahwa perubahan rezim Iran tidak realistis, tetapi menganggap penghancuran program rudal Iran dapat dicapai, sementara Menteri Perang Pete Hegseth sangat mendukung tindakan itu dilakukan segera.
Sejak itu, laporan internal menunjukkan bahwa Hegseth memberi Trump informasi palsu tentang jalannya perang.
Pemimpin militer AS membeberkan risiko yang akan dihadapi, termasuk amunisi yang menipis dan ancaman terhadap Selat Hormuz, tetapi tidak ada yang menentang rencana tersebut secara langsung. Pejabat kunci yang bertanggung jawab untuk mengelola dampak perang, termasuk Menteri Keuangan dan Direktur Intelijen Nasional Gabbard, tampak absen.
Trump membuat keputusan akhir
Setelah berkonsultasi dengan para penasihatnya, Trump membuat langkah yang menentukan: “Saya pikir kita perlu melakukannya".
Dua hari kemudian, serangan AS terhadap Iran dimulai, menandai puncak dari sebuah proses yang didorong oleh janji Netanyahu, debat internal Gedung Putih, dan pengambilan keputusan pribadi Trump.
Namun, situasi dengan cepat berbalik menjadi bumerang, setelah respons langsung Iran yang menargetkan tidak hanya pendudukan Israel, tetapi juga infrastruktur militer, ekonomi, dan teknologi AS di kawasan Timur Tengah.
Laporan menunjukkan bahwa perlawanan rakyat Iran terhadap agresi AS-Israel meningkat, sementara rencana untuk melibatkan kelompok bersenjata Kurdi terbukti gagal total.
Selat Hormuz secara efektif diblokir Iran. Meski Trump berupaya keras untuk membukanya kembali karena harga minyak melonjak ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, sejauh ini gagal, karena Iran tak mempan diancam. Hal ini meninggalkan dampak yang tidak dapat dipulihkan pada ekonomi AS dan ekonomi regional yang bergantung pada minyak. Terlebih karena Trump juga gagal meyakinkan sekutu untuk mengamankan Selat Hormuz, karena mereka lebih memilih "bermain mana" dengan memilih bernegosiasi dengan Republik Islam Iran.
Saat ini Negeri Para Mullah secara efektif mengendalikan Hormuz, sementara sekutunya telah memperingatkan akan memblokir Bab al-Mandab jika terjadi eskalasi berkelanjutan. (man)







