Jakarta, Harian Umum - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kamis (10/4/2025) pukul 07:00 WIB mendeteksi adanya Bibit Siklon Tropis 96S di wilayah Laut Arafura bagian barat, tepatnya berada di barat daya Kepulauan Tanimbar, Maluku.
"Berdasarkan analisis terkini, kecepatan angin maksimum sistem ini diperkirakan mencapai 25 knot (46 km/jam) dengan tekanan minimum sekitar 1004 hPa," kata Forecaster on Duty MBKG, Azhari Putri Cempaka seperti dilansir Kompas.com.
Citra satelit Enhanced Infrared (EIR) menunjukkan adanya aktivitas konvektif yang meningkat dalam 12 jam yang lalu.
BMKG memantau adanya dua cluster deep convection di barat daya dan tenggara sistem dan menunjukkan pola awal untuk organisasi pola perawanan siklogenesis pola curveband.
Sementara untuk kecepatan angin maksimum berdasarkan analisis ocean surface wind ASCAT berada di 20-25 knot dan terpantau di selatan sistem.
Dampak Bibit Siklon Tropis 96S
Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani mengatakan, kemunculan Bibit Siklon Tropis 96S berpotensi memberikan dampak terhadap cuaca di wilayah Indonesia, terutama dalam 24 hingga 48 jam ke depan, termasuk berupa hujan sedang hingga lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi di beberapa wilayah Indonesia.
Berikut wilayah yang berpotensi hujan lebat yang disebabkan oleh dampak Bibit Siklon Tropis 96S:
- Nusa Tenggara Timur (NTT)
- Papua bagian selatan
- Maluku bagian selatan
Berikut wilayah yang berpotensi dilanda angin kencang karena dampak Bibit Siklon Tropis 96S:
- NTT Maluku bagian selatan
- Papua Selatan.
Bibit Siklon Tropis 96S juga dapat menyebabkan gelombang laut cukup tinggi, berkisar 1,25 hingga 2,5 meter di perairan sekitar Kepulauan Letti-Babar-Tanimbar serta Laut Arafura bagian barat.
"Dalam 24 hingga 48 jam ke depan, sistem ini diperkirakan bergerak perlahan ke arah barat hingga barat daya, menuju Perairan selatan Kepulauan Tanimbar-Kepulauan Sermata-Leti (Maluku bagian selatan) dan mendekati Laut Timor," kata Andri.
Dalam 1-2 hari ke depan, posisi Bibit Siklon Tropis 96S diperkirakan berada di sekitar 9,5 derajat LS dan 130,5 derajat BT dengan kecepatan angin sekitar 30 knot dan tekanan udara 1004 hPa.
Berdasarkan hasil pemodelan sistem prediksi cuaca BMKG, sistem ini berpotensi mengalami peningkatan intensitas menjadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan.
Meski demikian, tingkat kemungkinannya untuk berubah menjadi siklon tropis masih dalam kategori sedang (medium).
Andri mengatakan, BMKG akan terus memantau perkembangan bibit siklon ini secara real-time melalui data radar, satelit cuaca, dan sensor pengamatan di wilayah sekitar sistem guna mendukung upaya kesiapsiagaan dan mitigasi dampak cuaca ekstrem secara lebih dini dan akurat di wilayah yang berpotensi terdampak. (man)







