Jakarta, Harian Umum - Presiden AS Donald Trump memberi isyarat kalau tidak mau kompromi soal program nuklir Iran, meskipun dia sendiri mengajukan proposal perdamaian dengan Iran melalui Pakistan sebagai mediator.
"Ini akan menjadi kebalikan dari bencana JCPOA yang dinegosiasikan oleh pemerintahan Obama yang gagal, yang merupakan jalan langsung dan terbuka menuju senjata nuklir bagi Iran. Tidak, saya tidak membuat kesepakatan seperti itu!” kata Trump melalui akun Truth Social-nya, Senin (25/5/2026), dikutip dari Al Mayadeen.
JCPOA atau Joint Comprehensive Plan of Action adalah kesepakatan internasional tahun 2015 yang mengatur pembatasan program nuklir Iran.
Seperti diketahui, dalam proposal-proposal sebelumnya, juga saat negosiasi yang gagal pada 11-12 April 2026, Trump ingin melucuti program nuklir Iran dengan meminta Iran menyerahkan uranium yang telah diperkaya, meminta Iran menghancurkan fasilitas-fasilitas nuklirnya, dan menghentikan program nuklirnya hingga 20 tahun.
Permintaan ini, juga permintaan agar Selat Hormuz dibuka kembali dengan tidak lagi di bawah kontrol Iran, membuat Iran menilai permintaan Trump berlebihan, dan Negeri Para Mullah itu menolaknya.
Dalam unggahan lain di Truth Social-nya, Trump mengatakan bahwa jika Iran menuruti permintaannya, maka akan menjadi kesepakatan yang hebat dan bermakna, akan tetapi jika sebaliknya, maka tidak akan ada kesepakatan apapun.
“Kesepakatan dengan Iran akan menjadi kesepakatan yang hebat dan bermakna, atau tidak akan ada kesepakatan sama sekali,” kata Trump.
Terpisah, Kantor Berita Tasnim melaporkan bahwa Juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Iran Esmaeil Baqaei mengatakan bahwa pembahasan terkait proposal terbaru AS berpusat pada pengakhiran perang dengan AS dan Israel, dan tidak ada waktu spesifik yang ditetapkan untuk menyelesaikan pembahasan itu.
Memang benar bahwa sebagian besar isu yang dibahas telah mencapai kesimpulan, tetapi tidak ada yang dapat mengklaim bahwa penandatanganan perjanjian akan segera terjadi," kata Baqaei dalam konferensi pers Senin (25/5/2026) dikutip dari Tasnim
Ia menjelaskan, perilaku politik AS yang telah menjadi agak tidak konsisten dan kontradiktif hanya dalam hitungan jam, mempersulit proses negosiasi.
Karena hal itu, ia meyakini bahwa pengambilan keputusan terkait upaya menghentikan perang oleh Washington, tidak terorganisir.
Ia menegaskan bahwa Iran berkomitmen untuk mencapai hasil yang menjamin hak-hak bangsa Iran secepat mungkin, menekankan bahwa yang terpenting bagi Teheran adalah perlindungan kepentingan nasional.
Ia menunjuk pada memorandum 14 pasal yang disampaikan Iran kepada Trump sebagai jawaban atas proposal Trump sebelumnya, dan yang kemudian ditolak Trump. memorandum itu berfokus pada pengakhiran perang, Selat Hormuz, dan mengakhiri blokade AS terhadap perairan Iran.
'Saat ini Iran juga tidak membahas detail nuklir, karena memorandum 14 pasal tersebut berfokus pada pengakhiran perang," pungkasnya. (rhm)


