Jakarta, Harian Umum - Tim Nasional (Timnas) Anies Baswedan - Muhaimin Iskandar (AMIN) menyiapkan dapur umum bagi petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di seluruh Indonesia untuk mencegah terulangnya tragedi pada Pilpres 2019.
Seperti diketahui, saat itu 894 KPPS meninggal dunia pasca pemungutan suara. Pemerintah mengklaim, KPPS-KPPS itu meninggal karena kelelahan.
"Kita akan membuat dapur umum di TPS-TPS untuk juga memberi makan KPPS-KPPS agar tidak ada lagi yang meninggal dua seperti saat Pilpres 2019,' kata Koordinator Saksi AMIN, Tamsil Linrung, dalam jumpa pers di sela-sela acara Training of Trainer Relawan dan Tim Hukum untuk Pemilu 2024 yang diselenggarakan Tim Hukum Nasional (THN) Amin DKI Jakarta di wilayah Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa (26/12/2023).
Anggota DPD RI dari Dapil Sulawesi Selatan itu mengakui kurang percaya pada penjelasan pemerintah kalau ratusan KPPS itu meninggal karena kelelahan, karena jenazahnya tidak boleh diotopsi.
"Saya menduga mereka diracun (melalui makanan atau minuman)," katanya.
Selain mendirikan dapur umum, Tamsil memastikan bahwa pada saat pencoblosan pihaknya akan melakukan pengamanan berlapis dengan mengerahkan saksi yang berada di dalam TPS dan di luar TPS demi mengantisipasi kecurangan yang kemungkinan bakal terjadi.
"Saat ini didata kami telah ada 500.000 relawan. Ini akan kami verifikasi untuk menentukan mana yang akan menjadi saksi di TPS," katanya.
Politisi PKS ini menjelaskan mengapa kecurangan itu harus diantisipasi semaksimal mungkin.
"Karena kita tidak ingin lagi ada kasus seperti KM50, tak ingin lagi ada habib yang dikriminalisasi, dan kita juga tidak ingin ada lagi kerusuhan di Bawaslu yang menelan korban jiwa. Kita juga tidak ingin dipimpin oleh orang yang pernah kita perjuangan habis-habisan, tetapi ketika banyak yang meninggal dan luka-luka demi memperjuangkan dirinya, juga ada yang dikriminalisasi, tapi tidak satu patah katapun yang keluar dari mulut mereka," katanya.
Kapten Tim Nasional (Timnas) AMIN, Muhammad Syauqi Alaydrus, meminta agar para saksi yang dikerahkan pada 14 Februari 2024 atau di hari pencoblosan, teliti, cermat dan tegas.
"Kalau mendapati kecurangan, selesai di TPS itu juga, jangan ditunda," katanya.
Ia bahkan mengimbau kepada relawan AMIN dan masyarakat yang menginginkan AMIN memenangkan Pilpres, berduyun-duyun datang ke TPS untuk menjadi saksi, dan melakukan beberapa tindakan penting, seperti memoto daftar warga yang datang untuk mencoblos dan memoto hasil perhitungan suara, untuk kemudian dilaporkan kepada Tim IT Timnas AMIN secara online melalui ponsel.
"Timnas punya Tim IT yang canggih yang bisa mengcover semua laporan yang masuk," katanya.
Ia bahkan meminta para saksi dan relawan mengawal kotak suara dari TPS hingga tingkat provinsi/kabupaten/kota.
"Semakin banyak yang memantau, Pilpres tidak bisa dicurangi,' tegasnya. (rhm)







