Jakarta, Harian Umum- Kepala Divisi Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia Jakarta, Djoko Raharto pada diskusi virtual Koordinatariat Wartawan Balai Kota-DPRD DKI Jakarta menyampaikan upaya BI dalam rangka membantu UMKM menghadapi kesulitan usaha ditengah pandemi covid-19. Diantaranya adalah membangun koordinasi dengan dinas UMKM.
"Upaya kami untuk meringankan UMKM yg mikro, sesuai dengan kewenangan kita berkoordinasi dengan dinas UMKM melakukan pelatihan-pelatihan pemasaran secara digital karena ini alternatif terbaik untuk meningkatkan omzet mereka," katanya (22/7).
Dalam kesempatan tersebut, Djoko menjelaskan bahwa pembiayaan kredit untuk DKI Jakarta mencapai Rp 181 triliun. Namun, 149 triliun rupiah di antaranya adalah disalurkan di UMKM.
"Untuk pembiayaan bahwa kredit yang disalurkan untuk DKI oleh perbankan itu mencapai 181 triliun. Dari jumlah itu 149 triliun di antaranya adalah disalurkan di UMKM. Dari 149 triliun ini untuk kredit mikro ini 113 triliun. Jadi hampir 65% kredit ini disalurkan untuk mikro," tambahnya.
Selain itu, Djoko menjelaskan bahwa nasabah untuk UMKM di DKI itu mencapai 1.351.223 nasabah. 878.301 diantaranya rekening milik nasabah mikro yang non performance loan mikro nya paling kecil. Dengan kata lain performance usaha mikro ini masih dalam keadaan cukup baik.
"Nasabah untuk umkm di DKI itu ada 1.351.223 rekening. Saya asumsikan rekening ini adalah kredit setiap UMKM dapat satu. Dari 1.351.223 rekening ini ada 878.301 rekening ini adalah nasabah mikro, ini sudah dibiayai kredit perbankan. Dari sisi performance, non performance loan mikro ini paling kecil hanya 2,1 persen. Kalau total kredit npl nya 2,74 persen, UMKM 3,5 persen. Untuk mikronya 2,1 persen. Jadi sektor mikro ini cukup baik," jelasnya.
Namun demikian, Ia menyampaikan langkah solutif bagi para pelaku usaha mikro untuk mendapatkan bantuan kredit perbankan dengan mudah. Diantaranya adalah pengaturan pembayaran melalui fizz.
"Yang sekarang kita galakkan ini adalah pengaturan pembayaran melalui fizz terutama di usaha mikro, pasar dan sebagainya. Ini tujuannya agar transaksi mereka terecord dengan baik. Nantinya bisa dijadikan rating yg membuat dasar bank untuk menyalurkan kredit. Jadi kenapa kami antusias pembayaran non tunai terutama melalui fizz ini karena selain mudah, transaksi mereka terecord dan UMKM mudah mendapatkan penyaluran kredit dari perbankan untuk mengembangkan usaha mikro. Dari BI tugas UMKM ini hanya sebagian kecil dr tugas UMKM yang memang menjadi kewenangan pemerintah sepenuhnya," tutupnya. (hnk)







