Washington, Harian Umum - Amerika Serikat (AS) memberikan sanksi terhadap delapan kapal yang terlibat dalam pengangkutan minyak mentah dan produk minyak bumi Iran ke pasar global.
Sanksi yang diumumkan Kamis (28/5/2026) waktu AS itu merupakan sanksi kedua pada pekan ini setelah pengenaan sanksi untuk badan baru yang bentuk Iran untuk mengelola Selat Hormuz.
Sanksi-sanksi ini, juga serangan AS ke kota pelabuhan Bandar Abbas pada Kamis, dilakukan ketika Washington dan Teheran sedang melakukan pembicaraan di Doha, Qatar, untuk memperpanjang gencatan senjata dan mencabut pembatasan pengiriman melalui Selat Hormuz.
"Departemen Keuangan AS mengatakan telah memberikan sanksi kepada delapan kapal yang terlibat dalam pengangkutan minyak mentah dan produk minyak bumi Iran ke pasar global. Kapal-kapal tersebut termasuk kapal tanker minyak berbendera Kepulauan Marshall, Flora, kapal tanker minyak mentah berbendera Komoro, Hauncayo, dan kapal tanker berbendera Panama, Ill Gap," kata Al Mayadeen, Jumat (29/5/2026), mengutip keterangan departemen tersebut.
Dalam keterangan tersebut, Menteri Keuangan AS Scott Bessent tegas mengatakan bahwa pihaknya tidak mengizinkan Iran meningkatkan pendapatannya dari minyak.
"Karena pendapatan itu digunakan untuk membangun kembali angkatan bersenjata dan kemampuan militernya,” kata dia.
Seperti diketahui, kegagalan negosiasi dengan dimediatori Paksitan, membuat AS memindahkan lokasi negosiasi ke Qatar yang merupakan salah satu sekutu AS di Teluk.
Hingga kini, negosiasi belum mencapai kesepakatan, sementara serangan AS ke wilayah Iran yang bertujuan untuk menekan negara Para Mullah itu, justru direspon Iran dengan keras sehingga salah satu drone AS, yaitu MQ-9, ditembak jatuh di Selat Hormuz.
Perang ini dimulai oleh AS dan Israel yang melakukan agresi ke Iran pada tanggal 28 Februari dengan tujuan utama menggulingkan pemerintahan Revolusi Islam Iran yang saat ini berkuasa, untuk menggantinya dengan rezim boneka yang dipimpin Reza Pahlevi.
Gembar-gembor Donald Trump dan PM Israel Benjamin Netanyahu bahwa Iran dapat ditaklukkan hanya dalam beberapa hari, gagal total. Bahkan alih-alih membuat Iran takluk, Iran mampu menghancurkan kota-kota di Israel, termasuk Tel Aviv, sehingga kini kondisinya mirip Gaza yang dihancurkan Israel
Selain itu, Iran juga menghancurkan 16 pangkalan militer AS di sejumlah negara Teluk, dan menembak lebih dari 40 pesawat AS
Tak hanya itu, tindakan Iran menutup Selat Hormuz dan mengenakan tarif tol bagi kapal yang ingin melewati selat strategis itu, telah meroketkan harga minyak global ke atas $100 per barel dan memicu krisis energi di banyak negara, termasuk AS, di mana harga bensin sempat naik tajam dari sekitar $3 per galon menjadi $8 per galon
Ini yang memicu Trump "mengemis" perdamaian dari Iran. Namun, meski kalah di.medan tempur, Trump hanya gencatan senjata dilakukan sesuai syarat yang diajukan tentukan, yang di antaranya mewajibkan Iran melucuti program nuklirnya, membuka Selat Hormuz dan melepas kontrolnya atas selat itu, serta menyerahkan uranium yang telah diperkaya.
Iran menolak, dan hingga negosiasi di Doha, masalah program nuklir Iran dan Selat Hormuz merupakan masalah yang alot untuk dibahas, apalagi mencapai kata sepakat .
Iran menuding, setelah kalah di Medan tempur, AS ingin meraih kemenangan melalui meja perundingan.
Selain memberikan sanksi kepada delapan kapal, menurut Al Mayadeen, AS juga menjatuhkan sanksi kepada lebih dari 15 entitas, termasuk Worth Seen Energy Limited di Hong Kong, Symphony Shipping and Maritime Management Inc di Dubai, dan Mehdiyev Trading Co, juga di Hong Kong. (man)







