Politisi PPP: Politik Dua Kaki Demokrat Untungkan Jokowi

12/09/2018 16:35 WIB POLITIK
ahmad baidowi.jpg

Jakarta, Harian Umum- Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Achmad Baidowi mengatakan kubu calon presiden inkumben Jokowi - Ma'ruf Amin bakal diuntungkan dengan langkah Partai Demokrat yang bermain di dua kaki pada Pilpres 2019.

"Untung atau tidak itu kan bisa dilihat usai Pemilu. Tapi kalau secara kalkulasi politiknya, ini menguntungkan kami," ujar Baidowi di kantor DPP PPP, Jakarta, Selasa (11/9/2018).

Menurut dia, kuntungan itu sudah bisa terlihat dari dukungan Gubernur Papua yang juga kader Demokrat, Lukas Enembe. Pasca dilantik kembali menjadi Gubernur Papua setelah memenangkan Pilada Serentak 2018. Lukas menjamin Papua akan menyumbangkan 3 juta suara untuk Jokowi.

Fakta bahwa Demokrat bermain politik dua kaki di Pilpres 2019 terungkap setelah partai yang dipimpin mantan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) ituu berencana memberikan dispensasi kepada kadernya di sejumlah daerah untuk mendukung Jokowi di Pilpres 2019, meski demikian partai berlambang mercy ini mengaku akan mencari formula untuk pemberian dispensasi tersebut agar tidak dianggap bermain dua kaki.

Sebelumnya, Wakil Sekjen PAN Saleh Daulay Partaonan telah meminta Demokrat agar all out memenangkan Prabowo Subianto - Sandiaga Uno pada ajang Pilpres 2019.

"Kita berharap seluruh kekuatan politik yang dimiliki Partai Demokrat diarahkan bagi pemenangan pasangan Prabowo-Sandi. Agak susah menjelaskan bagaimana posisi Partai Demokrat yang hanya memberikan dukungan pada saat mendaftar di KPU, tetapi berbagi dukungan di wilayah dan daerah," ujarnya, Senin (10/9/2018).

Menurut dia, dalam Pilpres yang hanya diikuti dua pasangan calon, rasanya tidak pas kalau ada dispensasi seperti jtu.

"Begitu menyatakan bergabung, sudah semestinya bersama-sama all out memenangkan Prabowo-Sandiaga," tegas Saleh.

Biasa Main Dua Kaki

Koordinator Pemenangan Pemilu Partai Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi - Ma'ruf, Effendy Choirie mengaku, pihaknya tidak terkejut jika Demokrat memakai strategi politik dua kaki di Pilpres 2019.

"Demokrat kan sudah biasa main dua kaki," kata Choirie sambil tertawa di kantor DPP Nasdem, Jakarta, Selasa (11/9/2018), seperti dikutip dari tempo.co.

Menurut pria yang akrab disapa Gus Choi itu, pada Pilpres 2014, Demokrat juga melakukan hal yang sama, namun karena gagal melakukan lobi-lobi, akhirnya Demokrat bersikap abstain.

"Ini partai bingung main dua kaki, karena sedang tidak yakin dengan calon yang sedang diusungnya," kata dia.

Demokrat sempat menyatakan diri keluar dari koalisi Gerindra, PAN dan PKS karena kecewa Ketum Gerindra Prabowo Subianto memilih Sandiaga Uno sebagai Cawapres-nya, bukan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Bahkan kader partai itu, Andi Arief, melontarkan isu yang mendiskreditkan Prabowo-Sandi dengan melontarkan isu bahwa agar PAN dan PKS menerima Sandi sebagai Cawapres koalisinya, Sandi menyuap kedua partai itu masing-masing Rp500 miliar. Isu ini bahkan sempat dilaporkan ke Bawaslu, namun mentah karena tak bisa dibuktikan. Andi Arief bahkan empat kali tidak memenuhi panggilan Bawaslu untuk memberikan keterangan.

Demokrat kemudian kembali ke koalisi Gerindra, PKS dan PAN karena poros PDIP yang mengusung Jokowi-Ma'ruf Amin, hanya mau menerimanya sebagai pendukung, bukan pengusung.

Sesuai UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu, partai yang tidak dapat mengusung Capres-Cawapres, tak bisa ikut Pemilu. Alasan ini yang membuat Demokrat kembali ke poros Gerindra, PAN dan PKS.

Menurut data, hingga kini kader Demokrat yang telah menyatakan mendukung Jokowi ada di empat provinsi, sementara yang baru mengajukan permintaan untuk berkoalisi dengan Jokowi ada di tujuh provinsi. (rhm)

BERITA TERKAIT