PA 212: HRS Konsisten untuk Tenggelamkan PDIP

16/08/2018 13:24 WIB POLITIK
slamet maarif.jpg

Jakarta, Harian Umum- Ketua Umum Persaudaraan Alumni (PA) 212 Slamet Maarif menyatakan, Habib Rizieq Shihab (HRS) akan tetap konsisten merusak suara PDIP, meski ada wacana pertemuan antara pimpinan Front Pembela Islam (FPI) itu dengan Cawapres Presiden Jokowi, KH Ma'ruf Amin. 

"Sikap Rizieq dalam politik, sangat jelas. Bahkan dari awal Beliau mengatakan di berbagai ceramahnya, tenggelamkan PDIP, tenggelamkan banteng. Perjuangan Beliau dalam politik sangat jelas," kata dia seperti dilansir ROL, Kamis (15/8/2018).

Slamet mengaku tidak khawatir meski pertemuan itu benar-benar terjadi dan kemudian digoreng pihak Jokowi dengan berbagai macam cara untuk kepentingannya memenangkan Pilpres.

Sebab, katanya, PA 212 yakin pada komitmen HRS. Apalagi karena kalau pun pertemuan terjadi, tujuannya hanya silaturahim sesama saudara sebangsa. 

"Yang kami harapkan, pertemuan itu bisa menyejukkan semuanya, kubu Jokowi dan Prabowo. Semuanya harus sportif, menjunjung tinggi keadilan," tegasnya.

Seperti diketahui, Ma'ruf yang saat ini sedang menunaikan ibadah haji, berencana menemui HRS di Mekkah dimana pemimpin FPI yang juga Imam Besar Umat Islam itu sementara itu bermukim.

Usai pertemuan tertutup dengan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj dan Ketua Umum PKB MUhaimin Iskandar di kantor pusat PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (15/8/2018), Ma'ruf tidak menjelaskan apa alasan dan tujuan rencananya menemui HRS. Cak Imin, panggilan Muhaimin Iskandar, bahkan mengatakan bahwa ia tak tahu apa tujuan Ma'ruf akan menemui HRS.

“Kita doakan, insya Allah ketemu (HRS). Agendanya? Orang ketemu kok ditanya. Ya silaturahim. (Apakah bicara Pilpres) tidak tahu. Bagaimana nantinya, kita tidak tahu,” katanya.

Namun seperti diketahuui, Presiden Jokowi diduga kuat tengah mencoba menghapus stigma anti Islam akibat kebijakan  pemerintahannya yang dinilai sejumlah pengamat sebagai pemerintahan yang dihinggapi Islamophobia. Itu pula yang melatarbelakangi kebijakan Jokowi yang sempat meminta rakyat Indonesia agar memisahkan agama dengan politik, menjadikan KH Ma'ruf Amin sebagai Cawapresnya.

Kebijakan pemerintahan Jokowi yang cenderung Islamophobia ini terlihat tak hanya dari cara kepolisian dalam menangani perkara yang sangat tajam kepada oposisi, terutama kepada umat Islam, namun HRS pun terpaksa "mengungsi" ke Arab Saudi karena berkali-kali mengalami serangan, dan sempat dijadikan tersangka kasus chat mesum yang diduga direkayasa.

Indikasi Islamophobia ini makin kuat terasa kala pemerintah dan kepolisian cenderung membiarkan saja GP Ansor dan Banser membubarkan pengajian, dan lamban menangani para pendukung Jokowi yang secara terang-terangan mengahina Islam dan menghujat serta membully HRS di media sosial. PDIP sebagai partai utama penyokong pemerintah, bahkan pernah secara terang-tarangan mengatakan tak takut ditinggal pemilih Muslim di Pemilu 2019.

Banyak kalangan menilai, upaya Jokowi mengghapus stigma anti-Islam takkan berhasil selama tabiat pemerintahannya tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Jokowi bahkan dikritik karena di satu sisi pendukungnya meminta oposisi agar tidak mempolitisasi agama, namun Jokowi sendiri melakukannya dengan memilih Ma'ruf sebagai Cawapres. (rhm) 

BERITA TERKAIT