Jabatan Wagub DKI Kemungkinan Kosong Selama Sebulan

11/08/2018 00:51 WIB POLITIK
images_1-620x295.jpg

Jakarta, Harian Umum-  Sandiaga Salahuddin Uno hari ini, Jumat (10/8/2018), menyerahkan surat pengunduran diri dari posisi wakil gubernur, kepada Gubernur Jakarta Anies Rasyid Baswedan, karena dia akan bertarung di Pilpres 2019 sebagai Cawapres Prabowo Subianto.

Praktis, terhitung hari ini jabatan wakil gubernur DKI Jakarta telah kosong, sehingga peran Sekda kemungkinan akan lebih dimaksimalkan Anies agar dia tidak kedodoran dalam menjalankan tugas kesehariannya.

Wakil Ketua II Fraksi Gerindra DPRD DKI Jakarta, Prabowo Soenirman, mengatakan bahwa jabatan itu kemungkinan akan kosong selama sekitar satu bulan.

"Ada proses yang cukup panjang sebelum Wagub pengganti Pak Sandi dilantik, dan itu bisa saja makan waktu selama sebulan atau lebih, atau bisa lebih cepat dari sebulan. Tergantung prosesnya," kata dia kepada wartawan di Gedung Dewan, Jakarta Pusat, Jumat (10/8/2018).

Ia menjelaskan, proses dimaksud dimulai dari usulan dua nama yang diajukan partai pengusung Anies-Sandi pada Pilkada DKI 2017 yang lalu, yakni PKS dan Gerindra.

"Proses ini saja audah makan waktu karena DPP Gerindra dan PKS akan menyaring dari aekian bamyak kader, untuk dipilih satu nama, dan kemudian diajukan ke DPRD," jelasnya.

Di Dewan, kedua nama kader Gerindra dan PKS itu diparipurnakan untuk dipilih sebagai pengganti Sandiaga Uno, dan setelah disahkan, dikirim ke Kemendagri untuk disahkan oleh Presiden.

"Jadi, prosesnya cukup panjang," imbuh anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta tersebut.

Ketika ditanya sebesar apa peluang M Taufik, Wakil Ketua DPRD dari Fraksi Gerindra yang telah didorong sebuah LSM karena dinilai layak menggantikan Sandiaga Uno? Prabowo mengatakan bisa 50:50 dengan calon yang diusulkan PKS.

"Tapi keinginan kita sih pengganti Sandi tetap dari Gerindra," tegasnya.

Menyikapi situasi ini, Pengamat Kebijakan Publik Amir Hamzah mengatakan,  meski nanti salah satu dari dua nama yang diajukan partai pendukung telah dipilih DPRD melalui sidang paripurna, namun jika belum ada persetujuan dari Presiden, maka status Sandiaga Uno masih sebagai Wagub DKI.

"Saya malah khawatir Presiden tidak setuju Sandi mundur untuk menjegalnya, karena bagaimana pun Sandi kan lawannya di Pilpres tahun depan," katanya.

Ketika ditanya bukankah bagus jika Sandi ditolak mengundurkan diri, karena jika dia dan Prabowo kalah dari Jokowi-Ma'ruf Amin, dia bisa kembali ke posisinya sebagai Wagub?

"Justru sebaliknya. Sandi berani mundur karena dia yakin akan menang, " tegasnya.

Ketua Budgeting Metropolitan Watch (BMW) ini menjelaskan, tanda-tanda kalau Prabowo-Sandiaga (PAS) akan menang terlihat dari reaksi pasar setelah Sandi diumumkan sebagai Cawapres Prabowo.

"Saham Saratoga (perusahaan milik Sandi) langsung naik," katanya.

Pengamat ini meyakini kalau pergerakan saham itu menunjukkan kalau Sandi di terima kalangan pebisnis, dan itu modal bagus buat PAS. (rhm)

BERITA TERKAIT