Resmi, Prabowo Rematch Vs Jokowi di Pilpres 2019 dengan Didampingi Sandiaga Uno

10/08/2018 13:12 WIB POLITIK
prabowo deklarasikan diri.jpg

Jakarta, Harian Umum-  Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto akhirnya mengumumkan calon wakil presiden (Cawapres) yang akan mendampingi dirinya menjalani rematch kontra Jokowi di Pilpres 2019.

Orang itu adalah Wagub DKI Jakarta Sandiaga Salahuddin Uno.

"Dari ketiga partai politik, yaitu PKS, PAN dan Gerindra telah memutuskan dan beri kepercayaan kepada saya (Prabowo) dan Sandiaga Salahudin Uno untuk maju sebagai calon presiden dan wakil presiden RI periode 2019-2024 ," ujar Prabowo di kediamannya, Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis  (9/8/2018) menjelang tengah malam.

Prabowo mengakui kelau keputusan untuk memilih Sandiaga Uno bukan keputusan mudah, karena prosesnya sudah berlangsung berhari-hari, dan berunding dengan semua partai termasuk Partai Demokrat dan bertemu tokoh-tokoh bangsa lainnya.

"Sandiaga merupakan pilihan yang terbaik dari yang ada. Beliau juga berkorban dan telah bersusah payah dalam berkampanye," imbuhnya.

Meski demikian Prabowo mengaku, karena Sandiaga merupakan kader Gerindra dan duduk sebagai wakil ketua Dewan Pembina, maka ia memintanya untuk terlebih dulu mengundurkan diri agar dapat diterima PAN dan PKS sebagai calon independen.

Ini, lanjut mantan Danjen Kopassus itu, merupakan pengorbanan dari semua pihak karena memikirkan kepentingan semua pihak. 

"Saya pun menerima kepercayaan ini. Saya menyatakan siap dan ingin menjadi alat untuk memajukan bangsa Indonesia," tegasnya.

Dari pantauan sebelum deklaraai, terlihat bahwa penetapan Sandiaga sebagai Cawapres Prabowo sangat alot, sehingga dari rencana deklarasi pada Kamis sore, menjadi menjelang tengah malam. 

Deklarasi ini bahkan didahului Presiden Jokowi yang mendeklarasikan dirinya berduet dengan KH Ma'ruf Amin.


Pengakuan Sandiaga

Kepada pers, Sandiaga mengaku sempat merasa surprise ketika Prabowo menunjuk dirinya sebagai Cawapres.

Ia berkisah kalau penunjukkan berawal ketika Prabowo menjatuhkan pilihan kepada Gubernur Anies Baswedan, namun Anies menolak.

"Pak Anies mengatakan akan fokus di Jakarta," ujar Sandiaga di kediaman Ibunya, Mien R Uno, di Jalan Galuh II, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (10/8/2018). 

Penolakan itu disampaikan secara pribadi ketika Sandiaga dan Anies diminta datang ke kediaman Prabowo, dan mereka ngobrol bertiga.

Karena Anies menolak, Prabowo 'menodong' Sandiaga. 

"Jadi saat itu saya langsung diminta oleh Pak Prabowo," kata Sandiaga. 

Politikus yang juga pengusaha itu mengaku menyadari bahwa penunjukkan itu akan berdampakada dua hal, yakni dirinya dan Prabowo sama-sama berada di Partai Gerindra, dan kedua dirinya masih menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. Tugas itu baru diemban selama 10 bulan. 

Anies, Sandi dan Sandiaga kemudian mendiskusikan hal ini. Sandiaga juga kemudian berdiakusi dengan keluarga. Hasilnya, ia menerima tawaran tersebut karena menganggapnya sebagai panggilan jiwa.

Sandi bahkan kemudian memutuskan untuk tidak mengambil cuti saat menjalani kampanye nanti, melainkan mundur dari jabatan Wagub karena tak ingin menggunakan fasilitas dan uang negara. 

"Ini amanah yang begitu luar biasa. Saya rasa tidak perlu saya setengah-setengah. Saya tak ingin menggunakan fasilitas negara, karena mobil kantor, punya negara, dan tak ingin menggunakan uang rakyat untuk berjuang," kata dia. 

Dari hasil diskusi dan konsultasi dengan Anies dan Prabowo, akhirnya diputuskan ia mundur juga mundur dari Gerindra dan melepas jabatan Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra.

Keputusan tersebut diklaimnya mampu meluluhkan hati para mitra koalisi, yakni PAN dan PKS, karena kedua partai itu melihat ada gestur kesungguhan yang ditunjukkan pasangan tersebut. Mereka juga dinilai fokus dalam bekerja.

 "Menunjukkan bahwa kita fokus  untuk bersama-sama berjuang untuk memenangkan hati dan pikiran rakyat Indonesia," kata Sandiaga. (rhm)

BERITA TERKAIT