Property Reyog Ponorogo Asian Games Dinilai Abal-abal, INASGOC Diprotes

07/08/2018 03:15 WIB SPORT
krp di inagsoc.jpg

Jakarta, Harian Umum-  Komunitas Reyog Ponorogo (KRP) mengajukan nota keberatan kepada INASGOC (Indonesia Asian Games 2018 Organizing Committee) atas pembuatan dan pemakaian atribut reyog yang dinilai abal -abal, untuk perhelatan Asian Games 2018.

Nota keberaan itu disampaikan langsung oleh Ormas penggiat kesenian Reyog Ponorogo di Jakarta tersebut pada Senin (6/8/2018) sekitar pukul 10.30 WIB di kantor INASGOC, Senayan, Jakarta Pusat.

"Kami keberatan karena dari fakta di lapangan, kami melihat adanya pembuatan dan penggunaan property Reyog Ponorogo berupa replika Dadak Merak yang terbuat dari bahan utama papan," ujar Wakil Ketua KRP Suparno Nojeng melalui siaran persnya.

Dadak Merak adalah property utama dalam seni pertunjukan Reyog Ponorogo. :-)Property ini berupa kepala harimau yang dirangkai dengan burung merak yang bertengger di atasnya, kemudian digunakan dengan cara digigit oleh Pemain Dadak Merak (Pembarong) dan diletakkan di kepala seperti memakai topeng.

Suparno menegaskan, fakta ini merupakan pokok permasalahan yang menjadi sumber keberatan KRP selaku warga Ponorogo yang tinggal di Jakarta, sekaligus pegiat seni budaya tradisi Reyog Ponorogo di Jakarta yang tergabung dalam KRP.

Selain hal tersebut, ada tiga hal yang mendasari keberatan tersebut.
1. Reyog Ponorogo telah memiliki kekuatan hukum sebagai Hak Cipta Seni Budaya Tradisi dari Kementerian Hukum dan HAM RI bernomor 026377 tanggal 11 Februari 2004  yang dimiliki oleh masyarakat Ponorogo
2. Reyog Ponorogo telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia dengan nomor register 192859/MPK.F/DO/2013 tanggal 16 Desember 201
3. Saat ini Reyog Ponorogo tengah diperjuangkan untuk memperoleh pengakuan sebagai Warisan Budaya Dunia dari United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO)

"Berdasarkan ketiga hal tersebut, kami menganggap bahwa pembuatan dan penggunaan property Reyog Ponorogo berupa replika Dadak Merak yang terbuat dari bahan utama papan merupakan tindakan yang sangat tidak tepat dari INASGOC," imbuh Suparno.

Berikut isi nota kebefatan KRP kepada INASGOC:
1. Tindakan INASGOC sangat bertentangan dengan penghargaan terhadap kekayaan budaya tradisi khas Indonesia
2. Asian Games 2018 adalah ajang pertemuan para delegasi olahraga antar negara se-Asia. Dalam kegiatan ini seharusnya justru digunakan untuk mempromosikan segala aset kekayaan bangsa dan negara, salah satunya adalah kekayaan budaya
3. Dalam rangka mempromosikan aset kekayaan budaya, seharusnya dilakukan dengan cara yang lebih mendekatkan kepada para pemangku kepentingan dan dilakukan dengan cara-cara yang lebih berbudaya.

Meski demikian Suparno mengaku kalau KRP siap memberikan dukungan penuh demi perbaikan pelaksanaan perhelatan bangsa ini, karena KRP memiliki seluruh aset Reyog Ponorogo berupa property dan pemain Reyog Ponorogo yang lengkap. 

"Dengan aset ini, kami siap untuk berpartisipasi agar penyajian Reyog Ponorogo sebagai kekayaan budaya bangsa Indonesia dapat tampil maksimal dalam perhelatan Asian Games 2018, yang pada akhirnya dapat mempromosikan kekayaan budaya Indonesia dan meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia di tengah- tengah pergaulan bangsa di Asia," pungkasnya. (rhm)

 

 

BERITA TERKAIT