KPK Resmi Tahan Kalapas Sukamiskin Diduga Terima Suap Mobil dan Uang

22/07/2018 08:19 WIB HUKUM
ine.jpg

Jakarta, Harian Umum - Empat orang tersangka resmi ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yakni Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Sukamiskin Wahid Husein dalam dugaan kasus pemberian fasilitas napi di Lapas Sukamiskin. Tiga tersangka lainnya adalah Hendry Saputra, staf Wahid di Lapas Sukamiskin, sebagai penerima. Sedangkan sebagai pemberi Fahmi Darmawansyah, napi korupsi, dan Andri Rahmat, napi khusus pidana umum sekaligus napi pendamping Fahmi.

"Empat tersangka tersebut ditahan untuk 20 hari pertama," ujar juru bicara KPK, Febri Diansyah, dalam lirisnya, Sabtu 21 Juli 2018.

Dengan menggunakan baju khas tahan KPK Ke empat tersangka tersebut keluar bergiliran dari gedung KPK. Setelah diperiksa sejak Sabtu dini hari. Mereka tidak berkomentar sedikit pun saat ditanya awak media dan langsung memasuki mobil tahanan yang telah menunggu.

Febri mengatakan, Wahid ditahan di rumah tahanan KPK Kav 4, Fahmi di Polres Jakarta Pusat, sedangkan Adry di Polres Jakarta Timur dan Hendry di rutan KPK Guntur.

Untuk di ketahui Fahmi Darmawansyahadalah tersangka korupsi kasus Bakamla, Ia juga suami dari artis Inneke Koesherawati

Saut mengatakan dalam perkara ini KPK menduga Fahmi memberikan uang dan satu unit mobil kepada Kalapas Sukamiskin Wahid Husein sebagai jual beli fasilitas kamar dan izin bagi Fahmi sebagai tahanan lapas.

Fasiltas tersebut terungkap saat KPK menggeledah kamar Fahmi, berdasarkan rekaman penyidik KPK terlihat, kamar Fahmi dilengkapi dengan pendingin udara, televisi dan kulkas.

Wakil pimpinan KPK, Saut Situmorang mengatakan dalam operasi tersebut penyidik KPK menyita barang bukti uang tunai senilai Rp 279 juta dan USD 1.140, serta dokumen pemberian dan penerima mobil berserta dua mobilnya yang diduga diterima kepada Wahid terkait jual beli fasilitas tahanan.

KPK menyebutkan sudah melakukan penyelidikan kasus tersebut sejak bulan April. Kepala Lapas Sukamiskin Wahid Husein, dan Hendry Saputra sebagai penerima suap dikenai melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 dan Pasal 12 B Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi. Sementara Fahmi Darmawansyah dan Andri Rahmat sebagai pemberi dijerat dengan pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b atau pasal 13 UU Tipikor.(tqn)

BERITA TERKAIT