Napi Kasus Terorisme Meninggal Akibat Komplikasi Penyakit

09/07/2018 17:23 WIB HUKUM
m iqbal.jpg

Jakarta, Harian Umum- Seorang narapidana kasus terorisme (Nepiter) yng dipenjara di LP Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, Sabtu (7/7/2018), meninggal dunia.

Polri mengklaim, Napi bernama Muhammad Basri bin Laeba alias Abu Saif tersebut meninggal akibat berbagai penyakit dalam yang dideritanya.

"Basri meninggal setelah diperiksa secara medis di RSUD Cilacap pada hari Sabtu 7 Juli 2018, pukul 20:50 WIB karena kegagalan fungsi jantung akut, penyakit paru obstruksi kronis, diabetes dan gagal nafas, sesuai dengan Surat Keterangan Kematian dari RSUD Kabupaten Cilacap," jelas Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri, Brigjen Pol Mohammad Iqbal melalui pesan tertulis kepada media, Senin (9/7/2018).

Ia menambahkan, jenazah Basri telah diserahkan kepada keluarganya oleh petugas LP Nusakambangan yang terdiri dari Masubsi Registrasi Lapas Pasir Putih, Panji Asmoro Putra, beserta Staf dan Sipir, kepada pihak keluarga yang diwakili Wahyudi, di ruang Jenazah RSUD Kabupaten Cilacap, Minggu (8/7/2018).

Perwakilan keluarga tersebut didampingi anggota Tim Pengacara Muslim Mirzan.

Setelah diserahkan, pada pukul 11:56 WIB jenazah diberangkatkan menuju Makassar melalui Bandara Soekarno Hatta, dengan menggunakan Ambulans RSUD Cilacap dengan pengawalan Patwal Polres Cilacap. 

"Situasi serah terima berlangsung lancar dan kondusif hingga akhir kegiatan," jelas Iqbal. 

Basri didakwa sebagai otak pelaku percobaan pembunuhan terhadap mantan Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo pada November 2012. 

Saat kejadian, Syahrul tengah mengikuti acara jalan santai di Kota Makassar. Lalu tiba-tiba dua orang pria melempari Syahrul dengan bom rakitan, tapi tidak meledak. Kedua pelaku ini diduga melakukan aksinya setelah berdiskusi dengan Basri.

Basri juga disebut-sebut sebagai simpatisan kelompok radikal ISIS, sehingga dia juga didakwa telah memberangkatkan anak dan keponakannya ke Suriah untuk bergabung dengan kelompok radikal itu. 

Basri juga diketahui pernah bergabung dan mengikuti pelatihan militer di Afghanistan pada 1998. Pada Februari 2016, oieh Pengadilan Negeri Jakarta Barat dia dinyatakan bersalah dan divonis delapan tahun penjara. (rhm)

BERITA TERKAIT