Ada Aroma Tak Sedap di Balik Deklarasi Anies Baswedan For President

07/07/2018 20:49 WIB POLITIK
deklarasi anies.jpg

Jakarta, Harian Umum- Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan agaknya tengah menjadi figur politisi paling seksi di Indonesia, sehingga namanya diseret-seret dalam kepentingan kontestasi tahun depan untuk memperebutkan kursi presiden RI 2019-2024.

Setelah dideklarasikan sebagai Capres oleh Gerakan Indonesia Untuk Indonesia pada 8 Juni 2018, kemarin, Jumat (6/7/2018), mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) itu juga dideklarasikan sembilan pemuda yang tergabung dalam Aliansi Nasional IndonEsia Sejahtera (Anies).

Dalam deklarasi Anies For President di Gedung Joeang, Menteng, Jakarta Pusat, tersebut, kesembilan pemuda yang di antaranya bernama La ode Basir, Ikbal Siregar, Zulfikar dan Denny Kusuma itu mengklaim kalau alasan mereka mendorong Anies Baswedan untuk nyapres di 2019 merupakan aspirasi yang mereka tangkap saat berkunjung ke berbagai daerah.

"Masyarakat di berbagai daerah menginginkan Anies maju dalam kontestasi Pilpres 2019 karena memandang Indonesia perlu sosok pemimpin muda yang berani, jujur dan kompeten," kata La Ode saat deklarasi.

Ia bahkan menyandingkan sosok Anies dengan sejumlah pemimpin muda dunia seperti Perdana Menteri (PM) Perancis Emmanuel Macron, PM Kanada Justin Trudeu dan PM Estonia Juri Ratas, karena di usianya yang saat ini 49 tahun, Anies pun dapat memimpin Indonesia.

Apalagi karena selain dinilai sebagai pemimpin muda yang berani, jujur dan kompeten, Anies juga pernah menyabet sejumlah penghargaan bergengsi seperti Gerald Maryanov Award dan Nakasone Yasuhiro Award.

Nama Anies juga masuk Daftar 20 Tokoh Intelektual Dunia versi Foreign Policy Magazine pada 2008; masuk Daftar 20 Tokoh Perubahan Dunia Dalam 20 Tahun Mendatang versi Foresight Magazine pada 2010; masuk Daftar 500 Tokoh Muslim Berpengaruh di Dunaia; dan terpilih menjadi salah satu Young Global Leaders versi World Economic Forum pada 2009.

La Ode mengatakan, setelah deklarasi di Jakarta, Anies For President juga akan dideklarasikan di berbagai daerah, dan dukungan untuk Anies nyapres akan dikebut karena pendaftaran Capres di KPU dilakukan pada 4-10 Agustus 2018.

"Deklarasi ini adalah langkah awal kami; simpatisan, relawan dan pendukung Anies Rasyid Baswedan dan berbagai elemen masyarakat untuk terus melakukan konsolidasi dan sosialisasi yang berlanjut pada dilakukannya deklarasi di daerah-daerah di seluruh Indonesia," katanya.

Sayangnya, ada aroma tak sedap yang menguar di balik deklarasi ini, juga di balik deklarasi yang dilakukan  Gerakan Indonesia Untuk Indonesia sebelumnya, yakni, deklarasi-deklarasi ini diisukan untuk membenturkan Anies Baswedan dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, sekaligus untuk menggembosinya dan membuat Prabowo gagal maju sebagai Capres di 2019.

Lebih jauh, deklarasi ini juga dituding bertujuan untuk memecah suara umat Islam saat Pilpres 2019, sehingga Presiden Jokowi yang maju sebagai incumbent, akan menang dan menjadi presiden RI ke-7 untuk periode kedua.

Maklum, jika Anies Baswedan menjadi Capres, maka kemungkinan akan ada dua skenario. Pertama, akan ada tiga pasang Capres-Cawapres di Pilpres 2019 karena Partai Demokrat telah mewacanakan untuk menggagas poros ketiga, yakni pasangan Prabowo dan Cawapresnya, Jokowi dan Cawapresnya, dan Anies Baswedan - Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Kedua, Prabowo akan mengalah dan memberikan kepercayaan kepada Anies untuk menggantikan dirinya sebagai Capres di 2019, berpasangan dengan politisi dari PKS atau yang ditentukan Gerindra, PKS dan PAN jika sesuai amanat Habib Rizieq Shihab, hingga Pilpres 2019 digelar ketiga partai ini tetap solid berkoalisi.

Isu yang berhembus kencang juga menyebutkan, nama Anies diseret-seret karena kubu Presiden Jokowi takut jika Prabowo nyapres, maka head to head kedua Jokowi dengan Prabowo tahun depan, setelah pertarungan pada Pilpres 2014, akan dimenangkan Prabowo karena elektabilitas Jokowi terus anjlok.

Survei yang dirilis Indonesia Network Election Survei (INES) pada 6 Mei 2018 menyebut,  elektabilitas Jokowi saat ini telah turun menjadi 27^, sementara elektabilitas Prabowo meroket menjadi 50,20%.

Isu bahwa pencapresan Anies untuk menggembosi Prabowo dan memecah suara umat Islam saat Pilpres 2019, berhembus kencang di media sosial. Antara lain diungkap akun @IreneViena.

"Penyebab manuver PKS di Pilkada Jawa Barat >>> "Lobi SBY ke JK & (Erwin) Aksa agar usung Anies-AHY untuk memecah belah umat dan gembosi Prabowo. Di belakang SBY ada LBP-HP Jenderal Merah binaan Murdani-Murtopo & CSIS Katolik Ultrakanan," katanya.

Ketika La Ode Basir ditanya apakah deklarasi Anies For President ini atas restu Anies Baswedan? Secara tidak langsung ia mengatakan tidak.

"Kalau Pak Anies tidak setuju, dia pasti melarang. Tapi protes pun tidak," katanya.

Namun ketika diklarifiksi benarkan deklarasi ini untuk menggembosi Prabowo dan memecah suara umat Islam? Laode nampak bingung dan bahkan kemudian  dengan sengaja menghindar.

Pertanyaan itu kemudian dijawab pengacara Anies, Mohammad Fayyadh.

"Nggak benar. Deklarasi ini dilakukan karena sosok Pak Anies Baswedan yang memang layak diusung sebagai Capres," katanya.

Ia pun membeberkan alasannya. Antara lain karena Anies dapat membuktikan diri sebagai pemimpin yang amanah.

"Setelah dilantik, dia dan Wagub Sandi merealisasikan janji-janji kampanyenya, seperti  merealisasikan Program Rumah DP 0 Rupiah, menutup Hotel Alexis dan menghentikan proyek reklamasi. Bahkan pada tahun pertama pemerintahannya, pengelolaan keuangan DKI langsung dapat opini WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) dari BPK (Badan Pemeriksa Kuangan), opini yang yak pernah didapat Pemprov DKI selama era Gubernur Jokowi, Gubernur Ahok dan Gubernur Djarot (2012-2017)," katanya.

Sayang, dalam deklarasi itu aroma JK dan Erwin Aksa tercium sangat kuat.

Seorang narasumber yang layak dipercaya dan hadir dalam deklarasi ini mengatakan, jaringan Masjid Sunda Kelapa yang nota bene merupakan jaringan JK dan Erwin Aksa, berada di belakang deklarasi ini.

"La Ode itu orangnya Erwin Aksa," kata dia.


Tanggapan Anies

Sejak memenangi Pilkada DKI Jakarta 2017, Anies Baswedan memang bagaikan magnit yang menyedot perhatian publik. Maklum, Anies pernah dicopot Presiden Jokowi dari jabatan Mendikbud, namun kemudian mengalahkan Ahok di Pilkada DKI, sementara sangat bukan rahasia kalau Ahok "sohib" Jokowi.

Tak hanya itu, pola kepemimpinan Anies dan wakilnya, Sandiaga Uno, mampu memgubah atmosfir Jakarta dari selalu gaduh di era Ahok, menjadi adem. Anies bahkan sangat nyata prorakyat kecil, sehingga rumah-rumah di Kampung Akuarium yang dibongkar Ahok, dibangun kembali agar penduduk di perkampungan itu tidak seperti pengungsi yang tinggal di tenda-tenda dan gubuk.

Atas deklarasi Anies For President oleh Anies, Anies Baswedan menanggapinya dengan tenang,
 
"Banyak tadi segala macam suara, tapi saya tidak ada komentar apa-apa. Semua orang boleh mendoakan apa saja, biarkan Allah SWT menjalankan takdirnya. Saya sedang menjalankan tugas di Jakarta," katanya.

Soal Pilpres, ia menyebut hal itu wilayah tiga pimpinan partai politik yang mengusungnya di Pilkada Jakarta 2017, yakni Ketum Gerindra Prabowo Subianto, Ketum PAN Zulkifli Hasan dan Presiden PKS Muhammad Sohibul Iman.

"Lalu ketika berbicara tentang pilpres itu wilayahnya ketua partai politik. Jadi, mereka yang menentukan, mereka yang membicarakan, dan kita tunggu aja seperti apa," katanya.

La Ode Basir juga mengakui apakah Anies Baswedan dapat nyapres atau tidak, tergantung keputusan Prabowo.

"Ya, tergantung Prabowo," katanya. (rhm)

BERITA TERKAIT