Golkar Tanpa Trah Soeharto, Perolehan Suara Diprediksi Tergerus di 2019

13/06/2018 20:10 WIB POLITIK
tommy tt.jpg

Jakarta, Harian Umum-  Siti Hediati Hariyadi atau yang akrab disapa Titiek Soeharto, menjadi sorotan dalam jagad politik setelah mengumumkan keluar dari Partai Golkar. 

Politikus yang menjabat sebagai wakil ketua Koordinator Pratama Dewan Pimpinan Pusat  Golkar itu memilih bergabung dengan Partai Berkarya.

Keluarnya mantan istri Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto itu menarik karena mengikuti jejak adiknya, Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto. Status Tommy di Partai Berkarya adalah ketua dewan pembina sekaligus ketua umum.

Berkumpulnya putra putri Soeharto di Partai Berkarya menandakan ruh pemimpin Orde Baru di Golkar sudah tak ada. Tommy sendiri sudah lama mundur dari Golkar. Sebelum mendirikan Berkarya, putra bungsu  Soeharto  itu menginisiasi Partai Nasional Republik untuk Pemilu 2014, namun gagal lolos verifikasi parpol.

Mundurnya Titiek sebenarnya bukan hal mengejutkan bagi internal Golkar. Sebagian kader Golkar sudah mengetahui rencana mundur Titiek sejak sebelum bulan Ramadan.

Tanpa trah Soeharto, Golkar pun menjadi perhatian. Figur Soeharto dikenal sebagai salah seorang tokoh perintis Partai Golkar. Pengaruh trah Soeharto diakui Wakil Ketua Koordinator Pratama yang juga kolega Titiek, Bambang Soesatyo alias Bamsoet.

Bagi Bamsoet, hengkangnya Titiek akan membuat Golkar kehilangan seorang politikus senior lantaran statusnya sebagai putri Soeharto. Apalagi, pendukung Golkar masih banyak yang mencintai Soeharto.

“Kami semua patut prihatin di Golkar, karena lagi kami kehilangan dukungan. Pendukung Partai Golkar itu masih banyak yang cinta Pak Harto," kata Bamsoet, Senin (11/6/2018).

Suara sama disampaikan Ketua Koordinator Bidang Pemenangan Pemilu Sumatera DPP Golkar, Ahmad Doli Kurnia. Figur Titiek dinilai punya ikatan sejarah, ideologis, bahkan biologis dengan tokoh paling berpengaruh dengan Golkar era Orde Baru yaitu Soeharto.

Bagi Doli, alasan mundur Titiek dari Golkar akan menjadi catatan. "Sebagai partai politik, Golkar yang lahir dari dan untuk rakyat sejatinya akan terus memperjuangkan rakyat," ujar Doli, Selasa (12/6/2018).

Pengamat politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio menilai keluarnya Titiek dari Golkar tak bisa disepelekan. Memang elektabilitas Golkar sulit digeser sebagai partai papan atas di Pemilu 2019.

Namun ada potensi suara yang tergerus. Penggemar Soeharto menjadi alasan peluang tergerusnya suara Golkar. Penggemar Soeharto ini melihat keberadaan trah Soeharto di Golkar.

Bagi dia, sejarah Golkar yang eksis selama Orde Baru dan besar sampai sekarang tak bisa dilepaskan dari jasa Soeharto.

"Ini enggak bisa dianggap remeh. Loyalis penggemar Soeharto itu masih punya memori, kenangan Orde Baru dan Soeharto masih punya suara ke Golkar," ujar Hendri, Selasa (12/6/2018).

Namun, di sisi lain, memang kenangan Soeharto sulit dijual kepada pemilih milenial yang punya angka besar di Pemilu 2019. Kendati demikian, seharusnya, Golkar bisa menjaga trah Soeharto di era pemilih sekarang.

"Ya, seharusnya dijaga karena tahun politik sekarang berat persaingannya. Apalagi dengan batas   parliamentary threshold 4%," kata Hendri. (sumber: Viva)

BERITA TERKAIT