Ini Pandangan Ustad Abdul Somad Tentang ISIS

18/05/2018 18:16 WIB KRIMINAL
-Ust.-Abdul-Somad.jpg

Jakarta, Harian Umum-  Nama Islamic State in Iraq and Syria (ISIS) belakangan ini, setelah serangan bom bunuh diri yang menghantam tiga gereja di Surabaya dan kantor Mapolresta di kota itu, kembali menghiasi media massa dan pergunjingan di tengah publik.

Ini terjadi karena para pelaku pengeboman itu oleh Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian disebut-sebut merupakan anggota jaringan Jamaah Ansharut Daualah (JAD) dan anggota Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) yang memiliki hubungan dengan ISIS.

Kapolri bahkan sempat menyebut kalau Dita dan lima anggota keluarganya yang menjadi pelaku bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, yakni Gereja Pantekosta, GKI dan Gereja Santa Maria Tak Bercela, baru kembali dari Suriah untuk bergabung dengan ISIS.

Belakangan, setelah dibongkar koresponden BBC Australia untuk Indonesia, David Lipson, Tito meralat pernyataannya dengan mengatakan bahwa Dita sekeluarga tak pernah ke Suriah.

Mantan teknisi komputer di Badan Keamanan Nasional Amerika (National Security of Agency/NSA) Edward Snowden sebenarnya telah pernah membongkar kalau aksi terorisme yang terjadi di seluruh dunia merupakan hasil konspirasi dari sebuah organisasi yang tak tersentuh hukum yang kekayaan anggotanya setara dengan 3/4 kekayaan penduduk Bumi, dengan tujuan untuk menghancurkan citra Islam.

Organisasi ini diyakini sebagai Freemasonry, organisasi persaudaraan Yahudi yang paling tua dengan agenda utamanya menciptakan Tatanan Dunia Baru (The New World Order) dimana mereka sebagai penguasanya, dan para goyim (istilah yang digunakan kaum Yahudi untuk etnis manusia di luar mereka) sebagai budaknya.

Tak hanya itu, data Snowden yang sempat dipublikasikan The Guardian dan Washington Post juga secara eksplisit menyebut bahwa ISIS diciptakan oleh Amerika, Inggris, Israel dan sekutu-sekutunya untuk menjaga dan menjamin terciptanya misi menciptakan Negara Israel Raya yang meliputi Irak, Suriah, Palestina dan negara-negara di sekitarnya.

Karena itu jangan heran jika ISIS tidak pernah menyerang Israel, bahkan ketika Presiden Donald Trump mengumumkan akan memindakan Ibukota Israel dari Tel Aviv ke Al Quds atau Yerusalem.

Klaim Snowden bahwa ISIS bentukan Amerika telah diakui mantan Menteri Luar Negeri yang juga mantan istri presiden AS, Hillary Clinton. Video tentang pengakuan Hillary itu bahkan belakangan ini, setelah serangan bom di Surabaya, beredar lagi di media sosial.

Pertanyaannya sekarang, mengapa pejabat di level tertinggi di lembaga keamanan di Indonesia masih saja menggunakan isu tentang ISIS setiap kali aksi teror terjadi? Bagaimana masalah terorisme di Indonesia dapat diberantas jika sosialisasi tentang apa dan bagaimana ISIS tidak penah dilakukan, bahkan sebaliknya nama itu digunakan setiap kali aksi teror terjadi, sehingga peristiwa terkesan menjadi makin seram, dan rakyat pun terprovokasi?

Padahal, ini yang menarik, ulama yang saat ini sedang naik daun dan kehadirannya untuk memberikan fausiyah selalu ditunggu-tunggu umat Islam, yakni Ustad Abdul Somad (UAS), pernah menyinggung-nyinggung soal ISIS dalam salah satu ceramahnya, dan rekaman ceramah itu juga telah di upload ke YouTube.

Dalam video berdurasi kurang dari tiga menit itu, UAS mengatakan bahwa ISIS bukan lahir dari Islam, dan bukan masuk dalam golongan orang Islam.

UAS bahkan juga mengatakan kalau ISIS sebenarnya secara tak langsung dibentuk oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Ulama asal Riau ini bahkan menyatakan kalau ISIS sudah keluar dari ahli sunnah.

"ISIS bagi yang mau mencari, tulisan Arabnya, DAIS, Daulah Alislamiyah Iraq Suriah. Atau bahasa Inggrisnya dijuluki Islamic State in Iraq and Syria," kata UAS dalam video itu.

Ia menjelaskan mengapa ia menilai ISIS telah keluar dari ahli sunnah, yakni karena tiga sebab penting.

Pertama, petinggi utama ISIS, yaitu Abu Bakr Al Baghdadi, mengangkat dirinya sendiri sebagai pemimpin atau khalifah.

"Dalam Islam, khalifah tidak mengangkat dirinya sendiri, (Khalifah) Abu Bakar tak mengangkat dirinya, sahabat membait Abu Bakar. Begitu juga, Ali tak pernah mengangkat dirinya, setelah Usman meninggal, sahabat membait Ali. Abu Bakr, enggak. 'Kalian membait aku, siapa yang tak membait aku, kafir'.Dibacakannya hadis, 'siapa yang mati, tidak membait, matinya mati jahiliah'. Itu kesalahan fatalnya yang pertama," kata Somad.

Kedua, ISIS merupakan kelompok yang menganut keyakinan takfiri. Keyakinan itu tidak ada di ahli sunnah.

"Mereka mengkafirkan semua yang tak sekeyakinan dengan dia, ini yang disebut dengan keyakinan takfiri. Syiah itu takfiri, ISIS juga sama takfiri. Siapa yang tidak ikut kepada ISIS, kafir halal darahnya. Maka keyakinan takfiri itu bukan ahli sunah," ujarnya.

Yang ketiga, kekejaman yang dilakukan ISIS didapatkan dari tentara Amerika, bukan Islam.

"Cara-cara dia menyiksa, itu bukan cara-cara Islam, tapi lebih pada yang dilakukan oleh Guantanamo, orang-orang yang telah dilatih lama oleh tentara Amerika," kata UAS.

Dengan banyak alasan itu, menurut UAS, sangat layak jika orang menyebut ISIS merupakan boneka buatan Amerika dan sekutunya. Bukan dari Islam.

"Maka bukan isu orang bilang ini bentukan Amerika, Eropa, Israel. Tapi masalah ISIS jangan baca koran. Karena koran itu yang betul cuma dua, harga sama tanggal. Karena beritanya dari Reuters, Reuters itu kantor berita Yahudi, maka bacalah Website ulama yang terpercaya, di antaranya Syah Yusuf Alkadarawi, beliau memfatwakan ISIS itu bukan Islam. Tapi bentukan," kata dia.

UAS menceritakan, perperangan yang terjadi saat ini  di Suriah merupakan pertempuran antara dua kelompok, yakni Syiah dan ahli sunnah.

"Yang terjadi sekarang itu perang antara dua, Syiah dengan rezim Bashar Al Assad (yang) didukung oleh Iran dan Suriah. Kenapa Iran mendukung? Karena keluarga Assad itu ayahnya partainya, Partai Hisbulbaas, Partai Hisbulbaas itu PKI-nya, kalau di tempat kita. Makanya, Suriah itu didukung oleh Rusia, kemudian didukung oleh Syiah karena agamanya Syiah Nusairiah. Ini berkonflik dengan ahli sunah. Ahli sunnah itu Jabaah Al-Nusra, semua ahli sunah bergabung di kelompok ini. Jadi pertempuran (di Suriah) itu antara dua, antara Syiah dengan ahli sunnah," tegas UAS. (rhm)

BERITA TERKAIT